*EINSTEN IN ROCK N’ ROLL*
Seluruh siswa kelas XII IA-1, SMA Merah Putih telah memasuki ruangan kelas dan siap untuk belajar. Pak Hasbi yang mengajar pagi ini pun telah duduk di kursinya. Tiba – tiba seorang siswi mengetuk pintu.
“Assalamu’alaikum! Boleh saya masuk Pak?” ucap Loren seraya melangkah memasuki ruang kelas. Pak Hasbi segera tanggap dengan kedatangan siswinya itu, “Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Ya masuk saja! Oh ya, kenapa kamu terlambat?”
“Maaf Pak, saya anak baru!”
“Hatsin...! Hatsin...! Saya tidak bertanya apa kamu anak baru atau bukan tapi kenapa kamu terlambat? Tapi sudahlah nggak penting! Sana kamu bisa duduk disamping Sakti.”
“Terima kasih Pak!”
“Hatsin...! Hatsin...! Oke anak – anak buka buku kalian halaman 112, kerjakan latihan 1 sampai 15, dan seperti biasa ha
nya lima tercepat yang bapak periksa!”
nya lima tercepat yang bapak periksa!”Mendengar instruksi pak Hasbi, Vinot dan Sakti segera berlari ke depan kelas, “Pak saya sudah siap!” ucap mereka serentak.
“Hatsin...! Hatsin...! Kalian lagi! Kalau begitu sampai 30 saja!”
“Pak saya sudah siap juga!” jawab mereka serentak lagi.
“Oh baiklah, kalian berdua memangnya sudah menyelesaikan sampai nomor berapa?”
“Kalau saya sudah siap sampai nomor 225, Pak!” ujar Sakti bangga. Namun Vinot segera menyela, “Sorry Sakti, aku sudah menyelesaikan semuanya sampai nomor 250!”
“Apa?” respon Sakti sangat terkejut.
“Pak! Apa boleh saya tidak mengikuti pelajaran hari ini, soalnya saya harus manggung di Istora Senayan!” pinta Vinot.
“Hatsin...! Silahkan, selamat berjuang ya!”
“Oke teman - teman aku pergi dulu ya! See you!”
“Da da Vinot!” sahut semua murid pada Vinot.
“Hatsin...! Hatsin...! Heh kalian cepat kerjakan!”
***
Saktiyono sedang duduk di kursi taman sendirian, dia sedang merenungi kekalahannya tadi pagi. Tiba – tiba Tania datang membawa es krim.
“No kamu kenapa? Mau es krim?”
“Nggak, makasih! Sialan! Lagi – lagi si Vinot sialan itu unjuk gigi di depan semua orang, kamu tau nggak kalo tadi aku kalah 25 soal dari dia!”
“So?”
“Ya tentu saja Ester tambah naksir sama dia! Kamu gimana sih!”
“Yono, Ester itu pacar kamu kan ! Harusnya kamu yakin kalau cintanya hanya untuk kamu, bukan untuk yang lain!”
“Iya kamu benar juga! Kalo gitu aku ke labor kimia dulu ya!”
“Mau ngapain?”
“Tentu saja mempersiapkan praktikum, aku kan asisten lab!” ujarnya seraya berlari menuju labor, namun tiba – tiba dia menabrak Ester yang sedang berjalan bersama Ruth.
“Maaf ya Ester! Sungguh aku tidak sengaja!”
“Santai aja lagi! Aku juga ada perlu sama kamu! Nih!”
“Apaan tuh?” sela Tania.
Namun Ester merasa tidak senang dengan keingin tahuan Tania, “Aku rasa kamu nggak perlu tau deh! Oke honey, kasih ke aku besok ya! Come on Ruth, kita masih punya banyak urusan!
“Oke Ester!” ucap Ruth.
“Seperti biasa dia menyuruh aku mengerjakan tugas MTKnya! Oke aku ke labor kimia dulu ya!” keluh Sakti.
“Katanya pintar, dimanfaatkan begitu saja kok mau! Einstein bodoh kamu No!” kata Tania pelan.
Tiba – tiba seorang siswi mendengar ocehan Tania, “Siapa yang bodoh?”
“Itu si Sakti! Eh kamu siapa nyambung aja!”
“Kenalkan namaku Loren, Lorentia Zalianty. Hari ini adalah hari pertamaku di SMA Merah Putih, dan aku sekelas sama Sakti!”
“Anak baru ya! Kalo nama kamu Lorentia Zalianty, namaku Tania Blezinsky. Kerenan mana coba?”
“Oh ya, Sakti pacarnya Ester ya?”
“Iya, emang kelihatannya janggal ada cewek secantik Ester pacaran sama cowok seculun Sakti. Tapi kalo ada udang dibalik batu hubungan mereka terlihat biasa – biasa aja.”
“Jadi Sakti hanya dimanfaatkan? Untuk apa?”
“Tentu saja untuk membuat dia selalu dalam urutan siswa CTP!”
“Apaan tu CTP?”
“Cantik tapi pintar! Padahal si Sakti itu nggak jelek – jelek amat. Mamanya aja model, kamu kenal sama Catherin Wilson, dia itu mamanya Sakti. Sedangkan Papanya Jendral Manager PT. Preport yang terkenal itu! Cuma nggak tau kenapa kok anak mereka jadi cupu abis!”
“Oh ya? Ester tau soal itu?”
“Kalau dia tau, mungkin sekarang Sakti bukannya otaknya yang diperas tapi juga uangnya. Makanya Ester sekarang mengincar Vinot, cowok perfect abis itu loh!”
“Vinot? Oh yang kata orang dia itu cowok idaman para gadis! Heran deh, aku kok melihat dia biasa – biasa aja, nggak seperti Sakti yang punya banyak karisma!”
“Sakti punya karisma? Kamu punya mata nggak sih? Masak kamu membandingkan Vinot dengan Sakti seperti itu! Mereka itu seperti langit dan bumi Non!”
Belpun berbunyi tanda istirahat telah usai, maka Loren pun berpamitan pada Tania, “Oke aku masuk lokal dulu ya! Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumsalam!”
***
Keesokan harinya Vinot, Bonnie, Otto pergi menemui Miss Paula. Mereka bertiga ingin meminta ujian susulan B. Inggris.
“Good morning Miss Paula?” ujar Vinot ketika memasuki ruangan Miss Paula.
“Morning! What can I do for you?” jawab Miss Paula rada – rada blepotan, karena dia sedang makan mi instan.
“My friend and I want to ask the English test. Can you help us?”
“Sorry, I’m borring and I don’t bring the test paper!”
Bonnie dan Otto yang mendengar ucapan Miss Paula sedikit kaget, “What’s?”
“But you mustn’t get a test, if you want to sing a wonderful song for me, I will give you 9!”sahut Miss Paula lagi. Mendengar hal ini Bonnie dan Otto sangat senang, “Of course!” ucap mereka serentak.
“No, I don’t need 9, I want to get 10!” ucap Vinot bersikeras.
“It’s up to you! If like that you can get the test in another day!”
“Ayolah Vin! Kapan lagi kita dapat nilai 9 dengan semudah ini!” bujuk Bonnie. Begitupun Otto, dia tidak mau ketinggalan membujuk Vinot, “Iya Vin, Bonnie benar! It’s so simple!”
Namun Vinot tetap pada pendiriannya, “Nggak, aku nggak mau kalah dari Sakti! Dia aja dapat nilai 10, kenapa aku harus dapat 9! Pokoknya aku akan menunggu sampai Miss Paula membawa kertas soalnya! Aku harus dapat nilai 10 titik!”
“Terserah kamu deh, kita berdua nurut aja!” jawab Bonnie dan Otto. Tiba – tiba Vinot terpana melihat Loren yang lewat di depannya.
“Bon, siapa dia?”
“Masak kamu nggak kenal, dia Loren, anak baru yang masuk kemaren!” jelas Bonnie.
“Cantik kan ? Tapi sayang pendiam kurang gaul! Dia itu lebih cocok sama Sakti!” tambah Otto.
“Siapa bilang? Asal kalian tau, cewek kayak dia tipe gue banget!
Bonnie dan Otto terperangah, “Haah!”
“Pokoknya aku harus mendapatkan dia!”
Ester sedang berbincang – bincang dengan Ruth, tiba – tiba Vinot melintas dihadapan mereka. Tentu saja Ester berusaha menarik perhatian Vinot.
“Eh Vinot mau ke sini tu! Kok aku jadi salah tingkah ya!” ucap Ruth.
“Gimana make up ku? Wajahku masih cantik kan !” sela Ester.
“Hai Ruth, Ester!” sapa Vinot sambil pergi begitu saja.
“Vinot say “Hai” to me! Oh no!” teriak Ester histeris.
“Enak aja buat kamu, buat aku juga tau!” bantah Ruth.
“Vinot itu suka cewek manis kayak aku! Bukannya cewek matre seperti kamu!”
“Siapa yang bilang Vinot suka sama kamu, He love me so much!”
“Mimpi kamu! Vinot milikku!”
“Vinot milikku!”
“Vinot milikku!”
“Vinot milikku!”
“Vinot milikku!”
Sakti ternyata mendengar pertengkaran mereka, “Vinot? Jadi kamu hanya suka sama Vinot, lantas aku nggak ada artinya buat kamu, kalo gitu kita putus aja! Oh ya, ini PR biologi kamu!” katanya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
“Ini semua salah kamu Ruth, hilang deh mesin ilmu pengetahuanku! Coba kamu pikir siapa yang mau membuatkan PR kita lagi?” keluh Ester.
“Vinot!” jawab Ruth singkat.
“Gila kamu! Mana mau dia!”
“Ester, kamu gimana sih! Katanya Vinot milik kamu, masak cuma untuk membuatkan PR saja dia tidak mau!”
“Iya juga ya, cewek paling cantik di sekolah ini kan cuma aku. Mana mungkin dia nolak! Tos dulu dong!”
***
Sakti duduk di dalam kelas sendirian, dia menutup wajahnya dengan buku dan menangis sebisanya. Tiba – tiba Loren memasuki ruang kelas.
“ Ada apa dengan kamu Sakti?”
Namun Sakti hanya diam seribu bahasa. Dan hal itu tidak membuat Loren jera, “Kalau ada masalah sebaik sharing, soalnya masalah itu kalo ditumpuk – tumpuk malah jadi kanker?”
“Apa hubungannya kanker dengan masalahku? Kanker disebabkan karena sel memiliki daya totipotensi yang tinggi, sedangkan masalahku adalah Ester, Ester mencintai . . .” bantah Sakti.
“Terkadang hati akan sakit bila orang yang kita sukai malah mencintai orang lain, tapi bukankah cinta sejati itu adalah ketika kita melihat orang yang kita cintai mendapatkan orang yang dicintainya?”
“Lantas apa aku salah kalau aku ingin mendapatkan cintaku?”
“Itu namanya egois! Cintakan tidak harus memiliki!”
“Apa urusanmu! Pokoknya aku harus mendapatkan orang yang aku sukai! Asal kamu tau, jadi orang sabar itu nggak ada enaknya!” kata Sakti sambil mendorong Loren.
Tiba – tiba Vinot datang dan menonjok Sakti, “Kalo kamu memang jagoan, bukan disini tempatnya!”
“ Kamu pikir aku takut sama kamu!” Sakti balas memukul dan mereka pun berkelahi.
Tania melihat keributan itu dan segera melerai, “Berhenti! Kalian berdua apa – apaan sih! Katanya anak IA, intelejensinya tinggi tapi malah menyelesaikan masalah dengan berantem! Bodoh!”
“Eh kamu orang luar jangan ikut campur!” hardik Vinot.
“Apa kamu bilang?” Tania malah menonjok Vinot. “Asal kalian tau aku juga siswi SMA Merah Putih! Jadi nggak ada yang boleh bilang aku orang asing, disini kita semua sama!”
“Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Ada apa ini ribut – ribut?” sorak pak Hasbi dari jauh.
“Nggak ada apa – apa kok Pak! Semuanya baik – baik saja!” ucap Loren gugup.
“Hatsin...! Hatsin...! Ya sudah kalau tidak apa – apa, saya kembali ke kantor lagi! Oh ya, kasih obat merah biar sembuh luka kalian berdua!”
Bonnie dan Otto pun menghampiri Vinot, “Kamu nggak apa – apa Vin?”
“Nggak! Oh ya, Loren kamu gimana?”
“Aku nggak apa – apa.”
“Sakti! Aku menantang kamu untuk ikut lomba vokal terbaik Rock n’ Roll minggu depan!” ujar Vinot berapi – api.
“Aku terima tantangan kamu!” Sakti berlari keluar dan disusul oleh Tania, Ester dan Ruth tiba – tiba muncul.
“Vin kamu kenapa? Siapa yang mukul kamu?” ucap Ester panik.
“Nih pake sapu tangan aku aja!” sela Ruth”
“Nggak usah! Aku bisa sendiri kok!” sahut Vinot kamudian pergi.
Bonnie dan Otto, “Kami mau dong!”
“Enak aja, emangnya kalian siapa?”
***
Di lapangan basket, Tania sedang latihan basket sendirian. Tiba – tiba Sakti datang dengan sepedanya.
“Tania, tolong bantuin aku dong!”
“Bantuan? Nggak salah!” Masih mendribel bola”
“Kamu kan tau sendiri, aku harus melawan Vinot dalam lomba nyanyi! Dan aku nggak bisa sedikit pun bernyanyi!”
“Siapa suruh kamu menerima tantangannya!”
“Aku menerimanya karena aku ingin membuktikan pada dia, Ester dan semua orang kalau aku bisa!”
“Tapi kenyataannya kamu nggak bisa apa – apakan! Makanya mikir dong! Nggak, aku nggak bisa bantu apa pun!”
“Ayolah Tania! Sakti dan kamu adalah teman, jadi apa salahnya kamu membantu dia!” tambah Loren.
“Loren?” kata Sakti kaget mendengar pembelaan Loren.
“Oke, tapi aku nggak yakin bisa mengubah kamu menjadi rocker sejati!”
Bonnie datang seraya mengoceh, “Nggak usah repot – repot Tania! Asal Loren mau jadian sama Vinot, dia dengan suka rela akan mengalah!”
Ottopun menambahkan, “Gimana? Lumayankan untuk memperlihatkan kalau kamu bisa nyanyi dihadapan semua orang! Soalnya nggak mungin kamu bisa mengalahkan Vinot yang sudah terkenal punya suara emas itu!”
“Ya udah aku bersedia jadi pacar Vinot, jika dia benar – benar menepati janjinya!” ujar Loren pasrah.
“Nggak! Loren, aku akan menang dengan kemampuanku sendiri! Bukan karena belas kasihan orang lain! Bilang pada Vinot, akan ku kalahkan dia!”
“What’s! Haaaaaaaaaa…. Haaaaa.....” mereka pun pergi.
“Kamu serius Sakti?” tanya Tania.
“Makanya bantuin aku dong!”
“Tenangnya tanteku paling bisa make over orang kayak kamu! And Omku adalah rocker jaman dulu! Pokok beres deh!”
“Aku akan selalu berdoa supaya kamu menang!” ujar Loren
“Amin!”
***
Acara yang dinanti – nanti pun telah dimulai, seluruh siswa siswi SMA Merah Putih berkumpul untuk menyaksikan kebolehan teman – temannya dalam lomba nyanyi Rock n’ Roll.
“Hallo semua! Jumpa lagi bareng gue the tut of the ti, Tuti. Apalagi kalo bukan di Lomba Nyanyi Rock n’ Roll! Oke kabar gembira buat kamu – kamu para gadis peserta pertama kita adalah Vinot Bautista! Oops tunggu dulu, sebelum itu perkenalkan juri – juri pada lomba kali ini adalah Pak Hasbi, Miss Paula, dan tamu spesial kita, Dirly Indonesian Idol! Baiklah inilah kontestan pertama, Vinot please welcome!”
Vinot pun menyanyikan lagu Rocker Juga Manusia.
“Itu tadi penampilan Vinot, bagaimana dewan juri?”
“Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Top deh!” ujar pak Hasbi.
“I like you, but I don’t hear you heart’s voice! All right, you’re my golden boy!” tambah Miss Paula.
“Kamu bernyanyi dengan bagus, tapi biasakan jangan terlalu over acting! Karena kamu nggak bakal bisa mengalahkan saya! Terima kasih!” ucap Dirly.
“Makasih!” ujar Vinot.
“Baik bagi kamu yang setuju kalo Vinot is the golden boy, langsung aja ketik Rock n’ Roll spasi Vinot, atau lewat premium call 1002 2007 01! Oke, peserta terakhir siapa lagi kalau bukan Saktiyono!”
Sakti menyanyikan lagu Welcome to My life.
“Itu tadi penampilan Sakti, bagaimana dewan juri?”
“Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Hatsin...! Top banget!” ujar pak Hasbi.
“Oh god! You’re so cool!” sahut Miss Paula.
“Jujur bukan hanya Ihsan yang bisa kamu kalahkan, bahkan Simple Plan pun nggak ada apa – apanya dibandingkan saya, kalo kamu sih masih kalah jauh!” ujar Dirly.
“Terserah apa kata juri yang penting Sakti tetep aja Cool! Baik bagi kamu yang setuju kalo Sakti pantas menang pada hari ini, langsung aja ketik Rock n’ Roll spasi Sakti, atau lewat premium call 1002 2007 02”
Setelah beberapa waktu votting dilakukan, MC pun mengumumkan hasilnya, “Oke ternyata polling SMS sudah ditutup. Dan pemenangnya adalah Viiiiiii……………………….Saktiyono !
“Alhamdulillah!”
“Selamat ya! Aku kalah!”
“Nggak ada yang kalah kemenangan ini milik kita!”
Ester dan Ruth segera berlari mengejar Sakti, “Sakti! I love you!” ucap mereka serentak.
“Sorry aku nggak sempat membuatkan PR kalian lagi! Loren, Terima kasih ya! Hari ini aku menemukan cinta sejatiku!”
“Gimana kalo kita suruh pemenang Rock n’ Roll menyanyi?”
“Setuju!”
Sakti pun menyanyikan lagu Kemenangan Hati bersama – sama dengan Dirly, Vinot, pokoknya semua deh! Tapi Pak Hasbi masih bersin – bersin!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar