Sabtu, 13 September 2008

SUDDENLY HAPPEN...

DAN TIBA-TIBA



Mengantuk … hari ini aku benar-benar mengantuk! Andai mataku ini dapat diajak kompromi, tapi tidak, dia terlalu lelah dan capek, lima, empat, tiga, dua, satu! Akupun tertidur... di kelas!

***

Suami itu adalah beban! Begitu kata dosenku suatu kali, tapi benarkah? Ya, aku akui kemaren aku tidur di kelas karena semalaman aku disibukkan oleh pernak-pernik rumah tangga. Supaya paginya aku bisa pergi kuliah dengan tenang. Dan aku juga sering terlambat, dikarenakan permintaan suamiku untuk menemaninya sarapan. Tapi aku tak pernah memandang semua hal itu sebagai beban. Dia juga mengerti dengan statusku yang masih mahasiswa, dan yang paling pentingdia tidak pernah menuntut sesuatu yang tidak sanggup kulakukan. Mungkin sebab itulah aku tak pernah menganggapnya sebagai beban, aku melayaninya karena aku mencintainya. Dialah tempatku berkeluh kesah, berbagi suka maupun duka, bersandar ketika lelah, dan kehangatan senyumnya yang menentramkan.

Suamiku adalah rahmat, anugrah terindah dari Allah untukku. Setiap kata-katanya penuh makna, kaya akan optimisme, membuat aku yakin adalah tepat menjadi pasangan hidupnya. Walaupun dia hanya seorang supir angkutan umum; pekerjaan yang hina bagi kebanyakan orang. Tapi tidak bagiku, dia tetap merupakan imam bagi setiap ibadahku. Mungkin dia lebih baik dari pangeran Charles, sebab aku yakin dia bertanggung jawab dan setia.

Apa gunanya punya suami orang terkenal dan terpelajar, jika kerjanya selingkuh tiap hari. Apa gunanya punya suami gagah dan kaya seperti Bambang Trihatmodjo, tapi hobinya nikah siri sana-sini. Apa gunanya bersuamikan Aa Gym kalau toh akan dimadu dan dipoligami. Apa gunanya jadi istri tentara atau jendral besar kalau selalu ditinngal ke medan perang. Apa gunanya dapat suami seorang penulis kalu dia lebih cinta pena dan kertas ketimbang istrinya. Apa gunanya punya suami dokter spesialis seperti dr. Boyke, kalau selalu dinomorduakan diatas pasien. Egois mungkin! Tapi mungkin karena itulah dia tercipta untukku, untuk mengimbangi keegoisanku.

Bagiku ini bukan cinta yang buta, aku dapat melihat dengan jelas betapa keras usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup kami berdua, karena tuhan belum titipkan momongan. Mungkin dia hanya tamat STM, dan berpenghasilan kecil, tapi aku bahagia. Karena dia tak hobi judi seperti yang lain, dia tak suka miras, apalagi rokok.

Jujur kuakui dia memang bukan sosok yang sempurna, rupanya tidak setampan Bethran Antholin atau Nicholas Saputra. Namun kesederhanaannya itu membuat aku mencintainya dengan sempurna. Sekali lagi aku bahagia.

Sudah jam 11 malam, tidak biasanya dia belum pulang. Kemana dia? Kemana suamiku? Panik, sungguh aku belum pernah sepanik ini! Allah, tolong jauhkan dia dari marabahaya! Sungguh aku sangat sayang padanya. Mungkinkah ... tidak ... tidak ... tidak mungkin dia ketularan kebiasaan buruk teman-temannya sesama supir angkot. Tidak mungkin! Aku terus mondar-mandir tak karuan, hilang arah! Mesti ku cari kemana? Tiba-tiba...

Tok ... tok... tok... ada yang mengetuk pintu. Mungkin itu dia, syukurlah! Terima kasih Allah! Ku bukakan pintu dengan segera, namun... bukan dia yang berdiri di ambang pintu. Dua orang berseragam polisi! Ya Allah, kejahatan apa yang telah dilakukan suamiku?

”Maaf apa benar ibu istrinya Letkol Ahmad Yani?”

”Ya, nama suami saya memang Ahmad Yani, tapi dia bukan Letkol, dia cuma seorang supir angkot!”

”Mungkin pak Yani belum menceritakan hal ini pada ibu! Sebenarnya selama 2 tahun ini pak Yani menjadi mata-mata kepolisian untuk mengungkap sindikat pengedar narkoba! Maka pak Yani menyamar menjadi seorang supir angkot! Malam ini penggrebekan berhasil dilakukan! Semuanya berhasil! Ibu harus bangga punya suami seperti pak Yani!”

”Apa?! Jadi suami saya seorang polisi? Lalu dimana dia sekarang?”

”Maaf bu! Penggrebekannya berhasil, namun lima butir peluru sindikat itu tepat bersarang di dada pak Yani, sehingga pak Yani...mmm...”

”Suami saya kenapa?” bibirku bergetar.

”Ibu yang tabah ya... pak Yani sudah tiada! Oya, sebelum beliau menghembuskan nafas yang terakhir, beliau sempat menulis sesuatu!” salah seorang dari mereka menyerahkan secari kertas berlumuran darah kepadaku. Aku menerima kertas itu dengan tangan gemetar, di kertas itu tertulis:

Maafkan aku Sayang! Aku telah berbohong, tapi sungguh aku sangat mencintaimu! Terima kasih telah mencintaiku dengan sabar!!

Tubuhku lunglai, lemas, semuanya tiba-tiba berubah menjadi gelap. Dan satu hal yang pasti, tiba-tiba aku kehilangan, sangat kehilangan. Status baru, sekarang aku janda.

Kelas 1A, 1 April 2008.

Tidak ada komentar: