Sabtu, 13 September 2008

Tak Seindah Anganku

Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengetahui masa depannya sendiri, termasuk aku. Tapi tentu saja kita semua ingat dengan apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Dan aku punya cerita tersendiri tentang kenangan masa lalu, jika kamu semua berkenan tentunya. Sebab ceritaku ini cukup menyita waktu dan belum tentu akhir kisah ini membuat kamu senang. Baiklah kalau memang kamu semua memaksa, inilah kisahku, sebuah kisah yang kulahirkan dari memori masa lalu, yang kusebut itu cinta. Semuanya berawal dari sebuah persahabatan, sahabatku, cintaku.
***
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela yang ditutupi gorden berwarna hijau. Ruang labor biologi memang selalu sunyi, walaupun berisi dua puluh orang mahasiswa. Tidak pernah ada yang berani ribut di ruangan ini. Memang isi labor ini cuma para culuners berkaca mata tebal seperti aku. Kami hanya sibuk mengutak-atik mikroskop dan hewan-hewan kecil yang tak berdaya.
“Vin, ikut yuk!” tak kuduga seorang cewek tomboy membuyarkan konsentrasiku.
“Kemana sih? Aku lagi sibuk nih!”
“Ke ..., kemana ya? Pokoknya kamu ikut aja, please!”
“Oke deh, tapi nanti bantuin aku bikin skripsi ya!’’
“Skripsi? Itu tidak masalah!”
“Makasih, kamu baik banget!’’
Nayla pun segera menarik tanganku keluar dari labor Biologi, tempat biasa kami nongkrong. Setiba di tempat parkir, “duk’’, dia melempar helm dengan kuat ke arahku.
“Kita sebenarnya mau kemana?’’
“Udah nurut saja kenapa?”
Dia segera menggas motor Kawasaki Pinknya, dan kami pun segera melesat pergi meninggalkan tempat parkir. Terkadang aku juga sering malu kalau harus dibonceng oleh seorang gadis. Rasanya aku bukan cowok yang sempurna kalau nggak bisa mengendarai motor. Tapi aku memang tidak akan pernah bisa. Hal ini mengingatkanku akan peristiwa limabelas tahun yang lalu, ketika dokter memvonis kalau aku cacat. Semenjak itu Nayla membuatku merasakan gimana rasanya naik motor balap.
Tiba-tiba dia berhenti di depan mesjid Miftahul Jannah yang berhadapan dengan kantor rektorat universitas tempat kami kuliah. Nayla pun membuka helm yang menutupi kepalanya. Angin berhembus menerpa rambutnya lurus terurai. Aku terkesima, tenggelam dalam kecantikannya. Inilah yang membuat aku sangat berterima kasih kepada tuhan, karena Dia telah menciptakan karya seni yang begitu indah. Seperti sadar kalau aku sedang memandanginya, Naylapun bersuara, “Vin, belikan aku teh botol dong!”
“Apa? Apa yang kamu katakan?”
“Tolong belikan aku teh botol di warung seberang jalan itu!”
“Oh teh botol, kalau mau beli teh botol kenapa harus kesini!” kataku sambil beranjak menuju warung tersebut. Namun tiba-tiba Nayla berteriak memanggilku. Dan ketika aku menoleh ke arahnya, sebuah truk menuju ke arahku. Aku hilang arah, lalu.....
“Bruuuk” seorang pria mendorongku ke trotoar, wajahnya samar-samar terlihat olehku karena kaca mataku terlempar entah kemana.
“Vin, kamu nggak apa-apa?” suara Nayla mengalun terdengar ditengah kerumunan orang yang mengelilingiku.
“Ini kacamatanya!”
“Ya terima kasih!” ucapku pada pria itu. Ternyata kaca mataku tidak rusak sehingga aku bisa melihat pria itu dengan jelas. Dia memakai baju kemeja kotak – kotak berwarna coklat dan celana dasar hitam yang ujungnya dilipat sehingga mata kakinya terlihat jelas. Wajah pria itu begitu bersih, keningnya sedikit menghitam penanda bahwa dia seorang ahli sujud, jenggotnya yang tipis bersih terawat, pandangan matanya begitu sayu, satu hal lagi hidungnya mancung, mungkin dia keturunan indo-eropa.
“Lain kali hati-hati ya!” katanya sambil beranjak pergi.
“Hey, tunggu! Anda telah menyelamatkan nyawa saya, boleh saya tahu siapa nama anda?” kataku berusaha bangkit dan menyalaminya
“Nama saya Abdul Karim, panggil saja Karim. Saya mahasiswa fakultas hukum angkatan 2000. Nama kamu siapa?” jawabnya seraya menyambut tanganku.
“Tidak usah sok jadi pahlawan! Kami tidak butuh!” kata Nayla kasar pada pria itu. “Udahlah Vin, yuk kita pergi dari sini, jangan mengurusi hal yang tidak penting!”
“Tapi Nay, dia udah...”
Aku tak bisa melanjutkan perkataanku karena Nayla menarikku dengan kuat ke atas motornya. Aku merasa bersalah kepada pria itu. Padahal dia telah menyelamatkan nyawaku, tapi aku malah meninggalkannya. Nayla terus memacu motornya dengan kencang, tanpa kusadari kami telah sampai di parkiran fakultas Biologi, tempat Nayla dan aku kuliah.
“Lho kok, ke sini lagi? Katanya mau ngajak aku ke suatu tempat?”
“Nggak jadi, aku takut kalau kejadian tadi menimpa kamu lagi.”
Tak kusangka ternyata Nayla sangat mencemaskan aku. Namun aku sangat heran dengan sikap Nayla yang kasar kepada pria yang menyelamatkanku tadi. Padahal pria itu sangat baik dan . Walaupun dia terkesan tomboy dan ugal-ugalan, dia tidak pernah bicara sekasar itu kepada siapa saja termasuk musuh besarnya, Hendra. Pernah suatu kali Hendra mengejeknya abis-abisan, eh dia malah cuma tersenyum doang dan langsung aja nonjok Hendra. Ini, dengan orang sebaik Abdul Karim, kok dia bisa sesinis itu ya! Atau Karim itu juga musuhnya. Lalu kuberanikan untuk bertanya.
“Nay, tadi kenapa kamu il-fill banget sama Karim?”
“Karim, nggak kenal tuh?”
“Itu cowok yang nolongin aku tadi, kamu kenal dia kan?”
“Emang kenapa kalau aku tidak suka? It’s my privasi! Tapi makasih ya, kamu mau menemani aku.” jawabnya cuek. “Oh my god! Sorry aku duluan! Soalnya aku ada kuliah Genetika sama Madam Ay. Da!”
Nayla pun segera berlalu dari hadapanku. Aneh, ini semua kelihatan aneh di mataku. Kenapa dia mengajakku ke rektorat. Benarkah waktu itu dia cuma mau beli minum, atau... Berjuta-juta asumsi mengerubuti otakku. Aku bingung. Aku harus mencari alasan sebenarnya.
***
Kring...kring...kring....
Suara weaker membuyarkan mimpi indahku.
“Vin ayo bangun! Nayla udah nunggu kamu nih!”
“Iya Ma!”
Apa? Nayla menjemputku, tidak biasanya. Ada apa ya? Pikiranku melayang akan kejadian kemaren. Mungkin dia khawatir dengan keadaanku. Segera aku bergegas ke kamar mandi.
Selang sepuluh menit berikutnya, aku telah siap dengan pakaian yang bersih dan rapi. Kuambil kaca mata yang terletak di atas meja belajarku. Kupasang kaca mata itu pada tempatnya. Ajaib sekali, dunia terasa lebih terang dan pagi ini indah sekali. Secepatnya aku ingin sampai di bawah dan menemui Nayla. Namun langkahku terhenti di hadapan cermin besar yang tergantung di depan kamarku. Kupandangi diriku yang ada pada cermin itu, aku baik-baik saja tak ada hal yang dapat membuat Nayla khawatir atau pun cemas. Lalu apa yang membuat dia menjemputku?
“Heh, ngapain kamu malah bengong di depan cermin. Emangnya kamu bisa nyaingin kegantengan Daniel Radcliffe dengan berdiri disitu?”
“Apa-apaan sih, oh ya ngomong-ngomong tumben kamu mau jemput aku, ada angin apa?”
“Yeeee, jangan ge-er kamu, aku kesini buat penuhin janjiku kemaren. Nih skripsinya!”
“Wah makasih banget ya! Kamu yang bikinin?”
“Bukan itu contoh skripsinya Madam Ay, ya siapa tahu bisa bantu kamu dalam bikin skripsi.”
“Sialan, aku pikir sudah siap. Kapan sih kamu berhenti ngerjain aku?”
“Udah, mau bareng ke kampus nggak?”
“Iya, aku pamit sama Mama dulu ya!”
Aku segera berlari menuju dapur, tempat Mama dan bik Iyen biasa memasak. “Ma, Alvin pergi kuliah dulu ya!”
“Nggak sarapan dulu?”
“Nanti aja di kampus, Ma.”
“Ya udah, ini bekal kamu buat di kampus, hati-hati ya sayang!”
Sehabis mencium tangan Mama, aku segera pergi ke tempat Nayla yang telah duduk di atas motornya. Motor Nayla segera melesat menembus jalanan pagi di kota P. Dingin, dingin sekali. Tubuhku terasa dirasuki hawa dingin yang kuat, menusuk tajam hingga ke hati.
Tiba-tiba arah motor Nayla tidak menuju kampus kami lagi. Arahnya menuju..., ya menuju kantor rektorat. Rasanya aku ingin bertanya, tapi tidak, aku ingin melihat apa yang akan dilakukannya. Sesampainya di depan rektorat itu, dia pun berhenti. Sambil tersenyum dia melihat ke arah bangunan mesjid yang berdiri dengan kokoh di hadapan gedung rektorat. Aku pun melihat ke arah yang sama. Dan aku melihat Abdul Karim, pria yang menolongku kemaren sedang berbincang – bincang dengan seseorang di beranda mesjid. Aku ingin memanggilnya. Tapi Nayla segera menggas motornya sekencang-kencangnya dari tempat itu. Akhirnya kami sampai di kampus. Setelah memarkirkan motornya Nayla tampak sedikit murung. Aku segera mengajaknya bicara.
“Nay, kok kita lewat sana tadi, dan buat apa sih kamu pake berhenti di depan rektorat segala?”
“Oh ya Vin, pagi ini kamu kuliah sama siapa?”
“Nay, kamu jangan mengalihkan pembicaraan dong!”
“Eh, kenapa kamu jadi sewot, kalo aku mengalihkan topik itu artinya aku tidakk mau menjawab pertanyaanmu yang bodoh itu.”
“Apa kedengaran bodoh kalau aku bertanya soal...”
“Stop, aku nggak pernah mencampuri urusan kamu, jadi jangan sekali-kali campuri urusanku, pincang!” katanya sambil segera berlalu dari hadapanku.
Mendengar ucapanya itu, gendang telingaku serasa mau pecah. Kata “Pincang” yang tidak pernah terucap dari mulutnya, pagi ini berhamburan keluar dengan mudahnya. Persahabatan yang kami bina selama ini, seperti tak berharga baginya. Ada apa dengan Nayla? Ada apa dengan Abdul Karim? Lantas ada apa dengan diriku sendiri? Aku bingung, benar- benar bingung dari sebelumnya.
***

Kuliahku untuk hari ini pun usai. Namun aku masih kebingungan dengan sikap Nayla akhir-akhir ini. Pikiranku terus menerang entah kemana. Tak kusangka seorang gadis berjilbab menghampiriku.
“Apa benar kamu Alvin?”
“Iya, aku Alvin. Kamu Ria temannya Naylakan?”
“Oh ya kata pak Mus kamu punya buku Taksonomi Vertebrata, apa benar?”
“Ada di rumah, emangnya kenapa?”
“Kalau begitu boleh aku minjam tidak, seminggu aja!”
“Boleh, tapi kamu mesti bantuin aku?”
“Bantuin apa?”
“Kamu dulu kan teman karibnya Nayla, tentunya kamu tahu segala sesuatu tentang dia?”
“Iya sih, tapi aku mulai kenal dia pas SMA, jadi bisa dibilang tidak begitu kenal dia secara mendetail.”
“Apa Nayla pernah kenal dengan seseorang bernama Abdul Karim?”
“Kayaknya aku tidak pernah dengar nama itu deh!”
“Oh gitu ya!”
“Eh iya, aku ingat Abdul Karim itukan nama hijrahnya bang Rian!”
“Rian?”
“Nama lengkapnya Adrian Eka Masrul, sekarang dia kuliah di fakultas hukum angkatan 2000, kalau tidak salah!”
“Hubungannya dengan Nayla apa?”
“Bang Rian itu, cowok yang paling sering mengkritik Nayla. Soalnya Nayla ketika masih SMA menjabat jadi ketua OSIS”.
“Oh jadi Rian itu saingannya waktu pemilihan OSIS?”
“Bukan, Bang Rian itu mantan ketua OSIS sebelum Nayla. Jadi pas kampanye segala macem Nayla itu percaya diri sekali dalam memperjuangkan eksistensi dan emansipasi wanita, buat Nayla jika seorang cewek punya kompetensi yang lebih dari pada cowok maka dia bisa memimpin. Selain itu Nayla juga berpendapat kalau harus ada perlakuan yang sama, tidak perlu membedakan seseorang dari jenis kelaminnya. Tapi buat bang Rian yang merupakan aktifis ini, wanita dengan segala keterbatasannya tidak bisa menjadi imam bagi pria, walau dalam hal apapun. Baginya wanita itu adalah perhiasan dunia, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah wanita yang solehah. Sehingga dia kurang suka melihat Nayla, dia lebih melihat Nayla itu tidak tahu malu. Dan ternyata kebanyakan siswa – siswi di sekolah kami lebih pro pada Nayla. Ketika Nayla menjabat, kritikan bang Rian terus membanjir. Naylapun mengundurkan diri. Aku masih ingat peristiwa setelah Nayla mengajukan surat pengunduran dirinya, dia
menangis sekeras-kerasnya di lorong Mushalla sekolah”.
“Nayla begitu? Aku benar-benar tidak nyangka. Terus apa lagi yang terjadi selanjutnya?”
“Setelah itu Nayla berubah jadi muslimah sejati. Dia mulai pake jilbab, sering ke mushalla apalagi ke mesjid, puasa senen kamis dan ikut berbagai kegiatan yang diadakan ROHIS”.
“Tapi apa alasannya berubah, dan sekarang kok dia nggak pakai jilbab lagi?”
“Itu aku tidak tahu, coba kamu tanya sama Joe, anak kedokteran. Joe adalah orang yang selalu menemani Nayla sehabis peristiwa itu”.
“Kalau begitu makasih ya, pokoknya besok aku bakal bawain buku itu.”
Ria pergi meninggalkanku. Aku malah bertambah bingung setelah mendengar penjelasannya. Aku juga tidak habis pikir kalau Nayla dulu seorang jilbaber. Tapi apa yang membuatnya berubah-ubah bentuk seperti ini? Aku harus menemui Joe dan mengungkap semua misteri ini. Namun ketika aku hendak berdiri, tiba-tiba “Bruk”
Kacamataku terpental entah kemana. Orang yang menabrakku tadi memungutnya dan memberikannya padaku.
“Ini kacamata kamu!”
“Nayla”
“Sorry tadi aku begitu kasar, jujur aku tidak bermaksud mengejek kamu. Aku cuma lagi bad mood aja!”
“Ah nggak apa-apa lagi, seperti aku saja yang tidak pernah kamu maki.”
“Kalau begitu yuk pulang!”
“Makasih, biar nanti aku naik bus aja. Soalnya gue ada urusan ke fakultas Kedokteran.”
“Mau ngapain sih? Pasti kamu ingin mencari bahan skripsi lagi kan! Ya sudah biar aku anterin!”
“Ndak usah, aku bisa sendiri kok!”
Aku segera pergi meninggalkan Nayla. Kulangkahkan kakiku menuju fakultas Kedokteran yang tidak begitu jauh dari fakultasku. Setibanya aku disana, segeraku cari cewek yang namanya Joe. Dan akhirnya aku menemuinya.
“Hai, kamu Joekan?”
“Iya, aku Joe”.
Seorang gadis berjilbab besar itu menyahuti panggilanku. Tak kusangka teman-teman Nayla hampir semuanya jilbaber.
“Aku Alvin temannya Nayla, kamu kenal Naylakan?”
“Oh Nayla, tentu saja aku mengenalnya!”
“Aku ingin bertanya soal...”
Perkataanku berhenti karena kurasa dipundakku bertengger sebuah tangan yang menahanku untuk bicara.
“Alvin, ayo kita pulang. Maaf Joe! Dia nggak mau nanya apa-apa kok!”tak kusangka Nayla mengikutiku.
“Tapi Nay....” Nayla segera menarik pergelangan tanganku.
“Kalau kamu benar-benar mau tahu masa lalu aku, oke aku bakal cerita. Tapi nggak disini.”
Dia segera mangajakku pergi ke suatu tempat dengan motornya. Ternyata dia membawaku ke tepi pantai di kota P. Dia melangkah turun dari motornya menuju ke pasir pasir pantai. Dia duduk dengan pandangan lepas ke arah pantai.
“Kamu ingin tahukan?”
“Iya, sebenarnya apa yang membuat kamu begini?”
“Semua berawal ketika aku diterima pada sebuah SMA di kota PA. Rasa senang menyelimutiku karena cewek kuper seperti aku bisa masuk SMA favorit, apalagi duduk di lokal unggul. Sejak itu aku pengen merubah label kuperku. Aku mulai bergaul, ikut semua ekskul yang ada, pake pakaian yang paling modis, punya semua majalah remaja, dan jalan bareng orang–orang gaul. Dan aku mulai berbicara di berbagai kesempatan. Bahkan seluruh SMA tidak ada yang tidak kenal padaku. Tapi ketenaranku ternyata dikalahkan oleh seseorang. Aku gagal menjadi pengurus OSIS. Dia ternyata lebih tenar dari aku. Tapi aku tidak mau menyerah sampai disitu, aku terus berjuang untuk jadi yang lebih baik. Dan akhirnya aku jadi seorang ketua OSIS pada pemilihan berikutnya. Tapi...” Nayla tertunduk dan tidak meneruskan kata-katanya.
Aku telah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Apa dia Abdul Karim?” tanyaku.
“Nama aslinya Adrian Eka Masrul, namun dengan alasan ingin mendekatkan diri dengan tuhan dia mengganti namanya menjadi Abdul Karim, yang artinya hamba yang mulia.”
“Jadi cowok yang kemaren itu......”
“Ya, itu dia. aku benar-benar hancur, kamu taukan kalau jabatanku sebagai ketua OSIS berakhir dengan sebuah pangunduran diri. Harga diriku terinjak-injak, semua orang bilang kalau aku cuma bisa omong doang, tidak bertanggung jawab. Tapi di tengah semua kemelut yang kualami, Joe mengajakku gabung dalam ROHIS. Di sinilah aku mulai jadi seorang jilbaber, menjalankan semua perintah tuhan, ikut berbagai seminar keagamaan dan menjadi muslimah sejati. Namun ternyata di ROHIS, Rian sangat memegang peranan. Aku memang bodoh, dia begitu tidak suka padaku. Tapi entah kenapa aku malah ingin selalu dekat dengannya. Aku meniru semua yang dia lakukan, setiap hari aku selalu memata-matai apa yang dia lakukan. Aku mencontek cara bicara, cara mengeluarkan pendapat, cara belajar, hobbi dan semua kesukaannya.”
“Buat apa kamu lakuin semua itu?”
“Supaya aku bisa kelihatan perfect seperti dia, karena tanpa aku sadari aku jatuh cinta padanya. Kunobatkan dia sebagai cinta pertama di hatiku.” Aku kecewa mendengar pengakuan Nayla barusan, kenapa bukan aku saja yang menjadi cinta pertamanya. Diapun melanjutkan, “Bahkan aku juga ingin masuk fakultas hukum, lantaran dia kuliah di fakultas hukum. Namun aku tidak bisa jadi seperti dia, aku memang sudah kalah. Dia tidak mungkin jadi milikku! Aku jenuh! Jadi aku membuat kepribadianku berubah 100% beda dari kepribadian awal, jilbabku buka dan aku jadi cewek tomboy. Akibatnya satu persatu temanku menjauhi, dan mama memperkenalkan kamu padaku. Asal kamu tahu, kamu teman satu-satunya yang kupunya saat ini.”
Tak kusadari Nayla menyandarkan kepalanya di pundakku. Air matanya menghujani kemeja biru yang kukenakan.
“Udahlah Nay, kita pulang yuk! Aku janji tidak akan menanyakan masa lalu kamu lagi”.
“Makasih, kamu benar-benar sahabat yang paling baik! Yuk kita pulang.”
Perjalanan pulang terasa begitu singkat. Kini baru kusadari kalau Nayla adalah korban dari sebuah kritikan, sehingga dia terjebak dalam cinta tanpa arah. Andai aku bisa menyembuhkan lukanya itu. Malam mulai menyelimuti keagungan sang mentari. Ku mencoba memejamkan mata, dan berbaring di tempat tidur. Malam ini rasanya begitu indah.
***
Seminggu setelah hari itu, Nayla kembali tersenyum. Dia kembali serius membuat skripsinya. Hari ini aku diberi tahu mama kalau kakaknya Nayla, Nadin, akan bertunangan. Tapi aku heran kenapa Nayla tidak pernah mengungkit masalah itu ya.
“Eh, Nay! Kak Nadin mau tunangan ya?”
“Iya, besok adalah hari pertungangannya.”
“Oh ya ngomomg-ngomong sama siapa dia mau tunangan?”
“Dengan Abdul Karim.”
“Rian? Kok bisa?”
“Ayahnya si Rian, om Masrul, itu temannya Papa! Jadi mereka sepakat untuk menjodohkan kak Nadin dengan Rian.”
Aku rasanya tidak percaya dengan semua kenyataan yang ada. Gimana bisa Nayla punya kakak ipar, orang yang telah menghancurkannya dan pernah singgah di hatinya. Raut wajah kecewa jelas terpancar di muka Nayla.
“Trus apa reaksi kamu tahu mengenai perjodohan itu?”
“Awalnya aku kaget, tapi akhirnya aku setuju akan pertunangan itu. Karena Rian memang pantas buat Nadin. Beberapa hari yang lalu aku mencoba mencari tahu gimana dia sekarang. Dan ternyata dia benar- benar semakin syar’i. Buktinya dia mau nolongin kamukan!”
Penjelasan Nayla terkesan janggal di telingaku. Kalau memang dia suka kepribadian Rian, kenapa dia harus bilang kalau dia benci sama Rian. Atau jangan-jangan dia masih mencintai Rian.
“Ah tidak mungkin!” Tak kusadari kata-kata itu keluar dari mulutku.
“Apanya yang tidak mungkin?” pertanyaan Nayla pun hadir menimpali pernyataanku itu.
“Tidak mungkin aku bisa wisuda kalau skripsi belum siap, iya kan?”
“Ya, tapi jangan terlalu dipikirkan. Udah aku mau pulang dulu, soalnya aku harus bantuin mama untuk pesta besok. Kamu mesti datang, kalau tidak aku tonjok!”
Nayla segera pergi meninggalkan ku dengan sepi. Akupun mulai beranjak dari sana.
***
Hari ini kakak Nayla, Nadin, bertunangan. Aku telah siap untuk pergi kesana. Papa dan mama juga sudah siap dengan pakaiannya. Tak lupa pula mereka membawa beberapa buah kue, sebagai bawaan. Maklum keluargaku dengan keluarga Nayla “berdunsanak”, jadi malu kalau membawa tangan kosong saja kesana.
“Ma, sudah beres semua?”
“Ini lagi Mama siapin, Papa coba deh panggil Alvin siapa tahu dia belum siap-siap!”
“Ma, Alvin sudah siap kok!”
“Kalau begitu ayo kita berangkat!” ujar papaku seraya melangkah menuju mobil.
Perjalanan menuju rumah Naylapun berakhir seiring dengan berjalannya waktu. Setibanya aku disana kulihat dia sedang sibuk mengatur kursi.
“Hey, Nay kok kamu belum siap-siap sebentar lagikan keluarga mempelai prianya akan datang!”
“Kalau gitu kamu gantiin kerjaan aku ya! Aku mau mandi dulu.”
Nayla segera berlari ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian beberapa mobil mewah berhenti di halaman rumah Nayla. Rupanya itu mobil yang mengangkut mempelai pria. Abe keluar dari mobil yang berwarna biru. Dia menggunakan jas berwarna putih dan sepatu berwarna hitam mengkilat. Diatas kepalanya bertengger sebuah kopiah berwarna hitam yang dihiasi ukiran yang khas. Setelah keluarga mempelai pria dipersilahkan masuk, dari kamar utama Nadin keluar mengenakan baju kebaya berwarna putih. Jilbab sutra menutupi rambutnya, dia melangkah dengan anggun menuju ke ruang tengah, tempat pertunangan akan dilangsungkan.
Rian dan Nadin pun didudukkan berdekatan. Acara dimulai oleh seorang tetua adat. Namun aku heran Nayla sejak tadi belum juga keluar. Aku pun mencoba mencarinya ke semua ruangan di rumah itu, dan aku tidak menemukannya.
Dari lantai dua kulihat acara pertunangan itu telah dimulai. Tiba-tiba dia telah berada di ruangan tengah, tak kuduga Nayla mengenakan jilbab dan dia pakai rok. Dia membawakan sepasang cincin emas berhiaskan permata, yang terletak dalam kotak merah. Cincin itulah yang nanti akan mengikat Rian dan Nadin dalam suatu ikatan pertunangan.
Sepintas aku membayangkan seandainya aku yang memasangkan cincin itu di jari Nayla. Memang sejak pertemuan kami yang pertama aku telah jatuh cinta padanya. Aku selalu berharap Nayla mampu menerimaku apa adanya.
“Nadiiiin” teriakan histeris tante Marda telah menuntaskan lamunanku. Ku segera melangkah turun dari lantai dua. Dan setibanya aku di ruang tengah, Nadin telah tak sadarkan diri lagi. Ambulanpun datang membawa Nadin ke rumah sakit. Kulihat Nayla sangat cemas melihat keadaan kakaknya. Rian menggendong Nadin naik ke atas Ambulan. Nayla pun ikut mengantar kakaknya dengan Ambulan. Sementara tante Marda dan om Andre menyusul dengan mobil. Akupun ikut pergi ke rumah sakit bersama mereka.
Setiba di rumah sakit kulihat Nadin telah dibawa ke ruang ICU. Rian sedang duduk sambil merunduk di atas kursi tunggu di rumah sakit itu. Lagi-lagi aku tidak melihat Nayla.
“Maaf Mas, apa anda melihat Nayla?”
“Nayla?”
“Adiknya Nadin. Cewek yang ikut membawa Nadin ke sini!”
“Dia pergi ke arah sana!”
Aku menelusuri arah telunjuk Rian. Aku merasa sangat heran, kenapa Rian begitu kaget mendengar nama Nayla. Apakah dia merasa bersalah terhadap apa yang telah dilakukannya sewaktu SMA dulu. Kulihat di sana ada sebuah Mushalla. Aku coba mencari Nayla, dan aku menemuinya sedang duduk bersimpuh sambil mengenakan mukena. Air mata membasahi pipinya. Kedua tangannya diangkat ke langit. Samar-samar ku dengar doanya.
“Ya Allah, aku memang berdosa. Andai saja semalam aku tidak menguji-Mu dengan meminta Nadin meninggal tentu semua ini takkan terjadi. Aku menyesal, aku sangat sayang sama Nadin. Aku rela lakukan apa saja asal Nadin sembuh. Aku akan iklaskan Rian jadi miliknya Nadin. Ya Allah! Sembuhkan Nadin!”
Takku sangka ternyata Nayla memang masih sangat mencintai Rian. Dari dulu sampai sekarang ku yakin cinta itu selalu bersemi di hatinya. Harapanku pupus. Nayla telah dimiliki Rian sejak dulu. Ingin rasanya aku terjun ke lautan api. Aku tak sanggup menerima semua ini. Tidak, cinta tak harus memiliki. Ku langkahkan kakiku menuju Nayla.
“Nay, yuk kita ke ruang tunggu! Papa dan mamamu telah datang, nanti mereka cemas lagi nggak melihat kamu!”
Nayla segera membuka mukenanya.
“Yuk, Vin!” katanya sambil berjalan mendahuluiku. Matanya memerah akibat terlalu banyak mengeluarkan air mata. Langkah demi langkah mengantarku dan Nayla ke ruang tunggu. Melihat kami datang, Rian berdiri dari duduknya. Dia melihat ke arah Nayla dengan pandangan sayu. Entah apa yang ada di benaknya. Namun Nayla tetap berjalan menuju papa dan mamanya, dia pun memeluk mereka berdua. Air mata kembali keluar dari pelupuk matanya. Tiba-tiba dokter keluar dari ruang ICU.
“Adakah diantara anda semua yang merupakan keluarganya Nadin?”
“Saya Mamanya!” seru tante Marda sambil berjalan ke arah dokter itu.
“Putri anda, mengalami over dosis obat tidur! Sekarang dia telah sadarkan diri, silahkan masuk tapi tolong bergantian.”
Om dan tante pun masuk ke ruang ICU. Aku kembali memandang Nayla. “Apa Nayla yang meracuni Nadin?” kecurigaan itu serta merta timbul di benakku. Sementara Rian terus menerus mengarahkan pandangannya ke arah Nayla. Orang tua Rian pun datang ke rumah sakit.
“Yan, gimana keadaan Nadin?”
“Dia udah sadar kok Ma, sekarang Om dan Tante lagi ada di dalam.”
Selang beberapa saat kemudian papa dan mamanya Nayla keluar dari ruangan ICU.
“Ma, Kak Nadin kenapa?”
“Dia mencoba bunuh diri Nay!”
“Apa? Tapi kenapa?”
“Dia tidak mau dijodohkan, Papa sih! Mama kan sudah bilang Nadin sudah punya pilihan.”
“Mama, Nayla, maafkan Papa. Ini semua memang salah Papa. Tak seharusnya Papa memaksa Nadin.” ucap om Andre yang sejak tadi tidak kuasa menahan tangis. Papanya Rian segera menghampiri om Andre.
“Sudahlah Ndre, kalau memang perjodohan ini membuat keluarga kamu hancur, biarlah perjodohan ini dibatalkan saja!”
“Terima kasih, kamu memang teman yang baik!” ujar om Andre seraya memeluk papanya Rian.
“Om, tante! Bolehkah saya melihat keadaan Nadin?” pinta Rian.
“Aku ikut!” teriakku.
“Ya, kenapa tidak.” tante Marda mempersilahkan kami masuk. Kulihat Nayla tetap bersandar di bahu mamanya. Akupun masuk bersama Rian. Nadin terbujur di atas sebuah tempat tidur di ruangan itu, tangannya dipasangkan infus.
“Kak Nadin, ini aku Alvin! Kakak bisa mendengar suaraku.”
Nadin membuka matanya. Dia melihat lirih ke arah kami berdua. Rian menghampiri Nadin.
“Nad, maafkan aku. Gara-gara pertunangan ini kamu jadi ingin bunuh diri. Sekarang kamu tidak perlu risau pertunangan telah dibatalkan.”
“Harusnya aku yang minta maaf, karena aku telah mengecewakanmu!” jawab Nadin sekuat tenaga.
“Sudahlah semoga kamu bahagia dengan pria pilihanmu!” Rianpun melangkah pergi keluar dari ruangan ini.
“Tunggu”, aku berusaha mencegatnya.
“Apa kamu ingin pergi dan kembali menghancurkan harapan seorang gadis?”
“Apa maksudmu?”
“Nayla! Dia sangat mencintaimu, perasaan itu telah dipendamnya selama bertahun-tahun. Andai saja kamu tahu betapa dia peduli padamu. Kamu hancurkan hidupnya dengan kritikan-kritikan tak berharga itu. Tanpa kamu sadari dia bukan orang yang mampu menerima kritik. Dia tidak setegar itu! Air matanya habis hanya untukmu! Tidakkah kamu mengerti? Atau kamu memang telah melupakan semua yang terjadi.”
“Maaf, jujur saja ketika itu aku tidak bermaksud menghancurkan siapa-siapa. Aku hanya meluruskan sesuatu yang menurutku salah, lagian aku mengkritik bukan hanya kepada dia seorang. Dan mengenai perasaan cintanya sama sekali aku tidak tahu”.
“Lantas kau merasa tidak bersalah, begitu? Asal kamu tahu hatinya telah berkali-kali kamu hancurkan, terlepas dari kamu tahu atau tidak.”
Mendengar aku berucap seperti itu dia hanya tersenyum dan terus keluar. Nadin hanya terpaku melihat perseteruan kami. Kukejar dia keluar. Setiba diluar, tangan kananku sekonyong-konyongnya menonjok pipinya hingga terlempar ke dinding. Darah menetes dari bibirnya. Semua orang yang ada di luar mencoba memegangiku. Nayla keheranan malihat tingkahku yang seperti itu.
“Dasar pengecut!” teriakku padanya.
Rian berusaha berdiri, “Aku bukan pengecut, dan aku tak pernah bermaksud menyakiti siapa pun! Satu hal lagi aku tidak suka diperlakukan seperti ini! Kalau kamu ingin aku menikahi Nayla, baik! Kalian semua dengar, hari aku dengan resmi melamar Nayla. Aku janji akan membahagiakan Nayla, aku takkan menghancurkan nya lagi!”
“Stop! Vin, apa-apaan ini? Aku kira kita temenan, tapi apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu harus memaksa dia untuk menikahi aku? Aku tidak butuh itu Vin!” ucap Nayla sambil memandangiku berurai air mata.
Mendengar perkataan Nayla segera kuhampiri dia. “Nay, kamu nggak perlu munafik di hadapan semua orang mengenai perasaan kamu pada Rian! Aku tahu semuanya. Itu kan yang kamu mau! Dia memang pantas untukmu, dia bisa jadi imam dalam segala hal. Tidak ada cowok se-perfect dia!”
“Dia tidak punya sedikitpun cinta untukku, semua yang dikatakannya tadi itu bohong. Dia cuma kasihan sama aku!” isak Nayla.
Terus kucoba meyakinkan Nayla. “Tapi, Nay..........!”
“Udah! Ma, please antar Nayla pulang!”
“Baik sayang! Kita pulang ya! Papa di sini dulu nungguin Nadin ya! Mama mau ngantar Nayla pulang.” kata mama Nayla sambil merangkul putri kesayangannya.
“Kamu puas nyakitin Nayla lagi! Kamu itu benar-benar bajingan!” ujarku sambil berlari ke arahnya untuk memukulnya lagi, namun om Andre segera memegangiku.
“Kamu ini sudah besar, Vin! Jangan bertingkah seperti ini!” ucap om Andre padaku.
“Om dia itu sudah keterlaluan!” rontaku pada om Andre.
“Sudahlah! Rian sebaiknya kamu pulang saja bersama orang tuamu! Dan kamu, Vin, temani aku disini!” Setelah om Andre menyuruhnya pulang, Rianpun segera pergi meninggalkan kami berdua, aku dan om Andre.
# # #

Beberapa hari setelah itu Nadin pun sembuh dan diperbolehkan pulang. Nayla dan aku menjemputnya dari rumah sakit. Papa dan mamanya Nadin tidak dapat ikut menjemput karena mereka harus menghadiri upacara peringatan hari kemerdekaan di Istana Negara. Di perjalanan pulang Nayla begitu aneh, cewek yang biasanya periang itu tampak loyo dan kusam. Aku tidak berani menyentuh mawar berduri itu, karena tidak ingin terluka oleh durinya.
Setiba di rumah, kulihat mobil Rian terparkir di halaman rumahnya Nayla. Berjuta pertanyaan mengenai alasan Abe datang ke rumah Nayla menghantui pikiranku. Kami bertiga melangkah masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum!”ucap Nayla.
Rian ternyata sedang duduk di kursi tamu sambil membaca majalah. Melihat kedatangan kami dia segera berdiri.
“Wa’alaikum salam warahmatullahiwabarakatuh!” balasnya sambil berdiri.
Tiba-tiba Nadin menarik tanganku ke dalam. Dari ruang tengah kami menguping pembicaraan mereka. Samar- samar kulihat mereka mulai berbicara.
Abe memulai pembicaraan, “Nay, aku mau minta maaf kalau dulu aku sering mengkritik kamu. Sungguh aku tak berniat buruk padamu, aku cuma ingin kamu jadi lebih baik!”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, anda tidak salah apa-apa. Aku saja yang tidak becus. Harusnya aku yang minta maaf karena aku yang selalu menghujat anda. Padahal aku tahu kalau semua yang anda katakan itu benar.”
“Dan mengenai perkataanku kemaren aku serius, aku tidak bohong, aku mencintaimu karena Allah SWT. Maka aku ingin hubungan kita ini menjadi halal! Bagaimana? Maukah kamu menjadi istriku, menemaniku dalam mengarungi samudra hidup ini, menerimaku apa adanya, menjadi ibu bagi anak-anakku?” kata Abe sambil menarik nafas panjang.
Nadin kelihatan deg-degan menanti jawaban dari Nayla. Tak ubahnya Nadin aku pun begitu. Dan akhirnya Nayla angkat bicara.
“Kenapa mesti seformal itu? Santai saja, aku tidak makan orang kok! Duduk!” Nayla dan Rian duduk berhadap – hadapan. “Enaknya aku panggil anda akhi saja ya! Sebelum aku menjawab pertanyaan akhi, aku ingin tahu apa menurut akhi aku pantas menjadi seorang istri dan ibu yang sempurna?”
“Aku juga bukan manusia yang sempurna, aku punya kekurangan! Maka dari itu sama – sama kita lengkapi kekurangan – kekurangan yang ada dalam diri kita. Karena memang fitrah manusia mempunyai kekurangan dan kelebihan.”
“Kata-kata Akhi barusan kayaknya... nyontek argumen seorang pujangga Arabdeh? Tapi boleh deh untuk membuktikan bahwa Abang memang orang yang kaya akan cinta. Dan aku menerima cinta itu, untuk kusimpan dalam hatiku.”
“Jadi kamu menerimaku?”
“Ya! Dan insyaallah aku akan berusaha menjadi istri yang solehah!”
Setelah mendengar perkataan itu, Rian langsung sujud syukur ke hadirat Allah SWT. Nadin pun berteriak kegirangan. Namun hatiku seakan ingin berontak mendengar keputusan Nayla. Inginku ulang hari, inginku balik masa, inginku mengubah semua yang terjadi. Andai saja aku tidak pernah bicara kalau Nayla mencintai Rian. Tentu tidak begini jadinya. Kuakui kalau hari ini aku benar-benar cemburu. Tapi aku tak sanggup mengungkapkannya, karena mulai detik ini Nayla bukan milikku dan takkan mungkin jadi milikku. Sesungguhnya aku tidak rela Nayla jadi milik Rian, tapi aku harus mampu mengendalikan diriku, demi senyum Nayla, demi kebahagiaannya dan demi cintaku serta demi-Mu ya Allah.
Seminggu setelah hari itu kebahagiaan menyelimuti keluarga om Andre dan tante Marda, pesta pernikahan ke dua putri mereka Nadin dan Nayla berlangsung dengan meriah sekali. Hari ini kulihat senyum Nayla benar-benar murni dari hatinya. Sedangkan aku masih terus berusaha tersenyum selebar-lebarnya.
Beberapa minggu setelah pesta itu aku segera pergi ke Amerika Serikat untuk meneruskan kuliahku. Dan kuputuskan untuk menetap selamanya disini, setidaknya hal ini bisa membantuku melupakannya. Selamat tinggal sahabat, aku akan tetap mencintai!

Tidak ada komentar: