*GIRLIE STRIKER*
1
Pagi yang begitu dingin di kota Jakarta, mulai tersenyum menyambut kehadiran sang mentari dari ufuk timur. Ibu kota negara Indonesia ini memang selalu padat dengan berbagai aktivitas rakyatnya. Waktu itu kira – kira pukul 06.00 WIB, embun pagi masih menyelimuti sebagian kota. Dari atas Monumen Nasional dapat dilihat rumah yang sangat megah diantara sekian banyak rumah di kota ini, rumah keluarga Dombeck, orang nomor dua terkaya se - Asia. Rumah bernuansa Timur Tengah ini dibangun di atas tanah berukuran 150 hektar, dan dikelilingi padang rumput yang menghijau.
Di rumah itu, seorang gadis bangsawan keturunan Indo - Perancis, dengan tubuh tinggi langsing dan hidungnya yang mancung, berjalan pelan keluar dari kamar mandinya. Dia mengenakan piyama teddy bear berwarna merah muda dan sehelai handuk biru bertengger diatas pundaknya. Rambutnya yang pirang kehitaman terurai acak – acakan. Putri bungsu keluarga Dombeck ini, menghampiri sebuah jendela kecil yang berada tepat disamping pintu kamar mandinya. Dilihatnya daun – daun yang baru tumbuh serta bunga – bunga yang mulai mekar. Hawa kota Jakarta mulai sedikit panas, seakan – akan memberi warna berbeda untuknya di pagi ini. Selang beberapa menit kemudian, dia beranjak dari sana, lalu menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. Tiba – tiba seorang wanita berbadan cukup gemuk memasuki kamarnya. Dialah nyonya Dombeck, Helen Notonegoro.
“Penny, kok kamu belum ganti baju? Hari ini kita kan mau nonton konser tunggal kakakmu!”
“Ya, Ma! Cerewet amat sih! Tenang saja kursi VIP- nya nggak bakal lari kok!”
“Bukan masalah kursi, tapi Mom mau melihat kakakmu sebelum dia tampil!”
“Oke, Ma!” katanya sambil bergegas mengganti pakaiannya.
Hari ini memang hari yang sangat penting bagi keluarga Dombeck, karena putra kedua mereka, Nathan Dombeck, akan mengadakan konser biola tunggal. Bagi keluarga ini musik memang merupakan hal yang paling mereka sukai. Mungkin disebabkan karena tuan Dombeck, Bruce Dombeck, merupakan seorang penyanyi terkenal di tahun 90-an. Begitu pula halnya dengan Helen yang merupakan seorang pianis terkemuka. Jadi tidak salah kalau anak – anak mereka mewarisi jiwa seni tersebut. Bayangkan saja anak pertama mereka, Mark Dombeck, adalah penyanyi yang terlaris, bukan hanya dalam negeri tapi juga luar negeri. Dan anak kedua mereka, Nathan Dombeck, adalah seorang pemain biola tersohor. Tapi, berbeda dengan Penny Dombeck, musik adalah hal yang sangat membosankan serta tidak disukainya.
Beberapa jam kemudian keluarga Dombeck telah siap menuju Chaparral Big Hall, tempat konser itu diadakan. Sebuah mobil Limousine coklat, berhenti dan membawa mereka semua ke sana. Dan ternyata lokasi tersebut telah penuh sesak dengan ribuan penonton yang ingin menyaksikan kebolehan Nathan. Keluarga Dombeck pun segera turun dari mobil, mereka melangkah memasuki Chaparral Big Hall, melalui karpet merah yang telah terbentang sepanjang jalan masuk Chaparral Big Hall. Ternyata di depan pintu telah menanti Nathan yang dengan wajah berseri – seri menyambut kedatangan keluarganya.
“Selamat ya sayang! Akhirnya kamu berhasil!” ucap nyonya Dombeck sambil memeluk putranya itu.
“Papa, sangat bangga sama kamu! Berikanlah yang terbaik, boy!”
“Than, kok belum mulai sih?” ujar Mark yang sejak tadi melambai - lambaikan tangan ke arah penggemarnya.
“Mana mungkin aku akan memulai konser ini tanpa kalian! Penny kok cemberut aja?” tanya Nathan mencubit pipi adiknya.
“Aauuu…..! Jahil banget sih!” sahut Penny kesal.
“Gitu aja kok marah! Oh ya, aku naik panggung dulu ya! Do’ain aku ya Ma, Pa, Kak dan kamu Penny!” kata Nathan seraya menyibak rambut merahnya.
“Iya aku do’ain kamu!” ucap Penny yang mulai tersenyum.
Konser pun dimulai, keluarga Dombeck duduk di bangku paling depan. Nathan pun memulai menggesek biolanya. Dia memainkan lagu “If tomorrow never come” ciptaan mamanya. Suara biola nan merdu itu mengalun dengan indah di ruangan Chaparral Big Hall.
“Kak, aku mau ke toilet dulu ya!” ujar Penny mendadak setelah mendengar konser telah dimulai.
“Alasan, ayo cepetan!” ucap Mark sedikit kesal. Penny pun segera berlari keluar ruangan itu.
“Huhh, bebas!” teriaknya sambil melempar sepatu high heel-nya ke udara. Mata birunya melihat ke sekeliling mencari tempat yang bisa menghindarkannya dari suara biola kakaknya. Dan dia menemukan sebuah stadion bola yang tidak digunakan lagi. Dia pun berlari menuju kesana, rambutnya yang panjang menari – nari di udara mengikuti arah kakinya.
Di stadion bola tersebut, dia tidak menemukan seorang pun. Kemudian dia berteriak sekeras – kerasnya. Dan berlari mengelilingi lapangan bola itu. Tidak dihiraukannya panas mentari yang mulai menyengat, dia terus memacu kecepatan mengalahkan jarak lapangan tersebut. Setelah cukup sepuluh kali putaran dia pun menghempaskan tubuhnya di atas rerumputan yang hijau. Dia menatap jauh ke langit biru. Tiba – tiba sebuah bola melesat beberapa centi diatas hidungnya yang mancung. Dia pun segera tersentak dari lamunannya, dan melihat ke arah bola itu. Dan bola tersebut ternyata telah menerobos gawang yang berdiri di hadapannya. Dilihatnya ke arah lain, seorang pria berpakaian kesebelasan dengan nomor punggung tujuh menatap ke arahnya.
“Wow keren! Kamu yang melakukannya?”
“Iya, memangnya kenapa?”
“Kenalkan namaku Penny, Penny Dombeck!”
“Aku Alan, Alan Presley! Kapten kesebelasan klub AC Parma. Sekaligus striker timnas Jerman!”
“Oh ya! Aku bukan orang tolol yang dibisa dikibuli, this is Indonesia! Nggak mungkin pemain bola dunia bermain di lapangan jelek ini!“
“Aku nggak lagi membual, apa salah pemain seperti aku mencari sesuatu yang kusebut ketenangan!“
“Wow amazing! Aku Penny Dombeck menemukan persembunyian pemain bola terkenal! Kalo gitu maukah kamu mengajari aku bermain sepak bola!”
“Kamu?! Jangan bercanda! Bagaimana caranya kamu bisa main bola dengan gaun pesta seperti ini, apalagi kamu perempuan!”
“Tapi aku memang tidak punya baju bola! Please ajari aku! Apa ada peraturan yang bilang kalau perempuan tidak boleh main bola?”
“Ya nggak ada sih! Oke. Kamu datang saja kesini besok dan baju bolanya bisa kamu beli kan?”
“Nggak, aku nggak mau besok. Aku mau sekarang. Pakai gaun pesta pun nggak apa – apa yang penting biarkan aku menendang bola!”
“Non, main bola itu bukan sekedar menendang bola. Tapi kamu harus mengerti apa maunya bola itu, baru setelah itu kamu bisa menendangnya. Kalau nggak bola itu yang bakal menendang kamu!”
“Siapa bilang! Bola ini kan cuma benda mati, sini aku tendang!” ucap Penny sambil menarik bola itu dari tangan Alan. Dan dia pun segera menendangnya ke arah gawang.
“Lihatkan bolanya bisa kutendang!” ujarnya sombong. Namun tiba- tiba “Brukk”, ternyata bola tadi membentur tonggak gawang dan berbalik kearah Penny.
“Sakit!” isak Penny sambil mengusap kepalanya.
“Apa aku bilang! Sebaiknya kamu pulang dulu dan kenalan sama bola ini, baru kita main bola. Nih ambil bolanya dan kembali ke sini kalau kamu sudah tahu apa maunya bola ini, Okey!
“Baiklah, aku pastikan besok aku akan berada disini! Dan bola ini telah tunduk kepadaku!”
Penny segera meninggalkan stadion bola tersebut. Dia berjalan menuju tempat berlangsungnya konser kakaknya. Ternyata konser itu telah selesai. Dilihatnya keluarganya telah menantinya sejak tadi dengan wajah kesal.
“Penny, kamu kemana saja! Kamu bikin kakakmu kecewa!” teriak mamanya.
“Emangnya ada apa sih! Aku kan cuma jalan-jalan doang!” elak Penny.
“Mana sepatu kamu, kenapa gaun kamu kotor kayak gini, dan bola apa – apaan itu?”
“Sayang, nanti saja ributnya di rumah! Malukan kalau ada wartawan yang meliput. Lagi pula aku juga sudah lapar!” ujar tuan Dombeck yang melihat ke arah para wartawan yang mulai mengawasi mereka.
“Baiklah honey!” kata Helen. “Mark, kamu mau ikut makan siang di rumah, sayang?”
“Kayaknya enggak deh Mom, soalnya Mark ada janji mau makan siang sama produser rekaman!”
“Ya udah! Hati – hati ya!” kata Nyonya Dombeck sambil menepuk bahu Mark. Mereka pun pergi menuju tujuannya masing – masing. Tuan dan nyonya Dombeck serta putri mereka Penny, memasuki mobil yang tadi mereka tumpangi. Beberapa saat setelah itu mereka pun melesat pergi meninggalkan Chaparral Big Hall.
***
Malam harinya, Penny tak henti – hentinya menatap bola yang diberikan Alan kepadanya.
“Siapa peduli dengan apa yang diinginkan bola ini! Lagi pula aku tidak begitu tertarik dengan sepak bola!” katanya sambil melempar bola itu sekuat – kuatnya ke arah pintu kamar. Namun tiba – tiba pintu kamarnya terbuka dan ....................................... “Brukk” bola itu mengenai wajah nyonya Dombeck dan dia pun berteriak kesakitan, sehingga membuat Bruce segera berlari melihat apa yang terjadi dengan istrinya.
“Sayang, apa yang terjadi?”
“Oh tidak dia menghancurkan hidungku! Ada apa dengan mu, Penny? Apa kau tidak ingat lagi kalau aku Mamamu!”
“Jadi, ini ulahmu Penny!” hardik Bruce dengan keras. Penny kelihatan kebingungan mencari kata – kata untuk menghindarkannya dari semua masalah yang dibuat bola itu.
“Pa, sebaiknya Papa bawa Mama ke rumah sakit deh! Karena kupikir itu hal yang terbaik sebelum hidungnya benar – benar meleleh!” katanya dengan wajah tanpa dosa.
“Ya, tentu saja. Tapi jangan berpikir kamu lolos dari hukuman!” ucap papanya sambil menutup pintu kamar dengan kuat. Wajah Penny dipenuhi kemarahan dan mata membelalak mengarah pada bola yang sekarang berada di sudut kamarnya. Rasanya dia ingin mencincang – cincang bola tersebut.
“Dasar bola sialan!” katanya sambil berlari mengejar bola itu. Namun tidak berhasil mendapatkannya karena bola itu terus bergulir menghindari kejaran Penny. Dan Penny tak kunjung menyerah untuk mendapatkan bola itu. Akhirnya selang beberapa menit kemudian Penny tak sanggup lagi mengelilingi kamarnya yang berukuran 5 m x 4 m itu. Dia pun terhenyak letih diatas tempat tidurnya.
Sedangkan bola itu juga berhenti bergulir. Penny terus memandangnya dengan tatapan lesu. Bola itu mengarah ke Penny, seakan – akan dia menertawakan Penny yang tak mampu menangkapnya. Kemudian Penny bicara dengan bola itu, seperti bola itu dapat mendengarnya.
“OK, aku menyerah! Apa maumu?”
Setelah dia berkata begitu sang Bola menggelinding ke arahnya. Dan sekarang berada dipangkuannya. Tapi kelihatannya sekarang, niatnya untuk menghancurkan bola itu telah sirna. Dia malah memeluk bola itu erat – erat dan membawanya tidur. Malam semakin kelam, lampu kamar Penny pun mati, begitu pula dengan lampu – lampu dikamar lain.
***
Tok... tok.....! pintu kamar Penny diketuk dengan keras dari luar. “Iya, sabar kenapa!” Penny pun bergerak dari tempat tidurnya. Dilihatnya kakak sulungnya sedang berdiri dengan tak sabar di depan kamarnya.
“Kamu kelihatan sangat malang sekali dengan kaus kaki merah dan ungu itu Mark, apa tidak takut dimuat pada seluruh majalah pagi ini? Atau memang that is your style for this month?” ucap Penny sambil menguap.
“Bodoh! Ini semua gara – gara kamu! Kamu apakan Mama, sehingga dia harus berangkat ke kota New York untuk...... operasi hidung!” ujar Mark yang memang tidak senang dengan prilaku adiknya tersebut. Mark kelihatan sangat berantakan sekali, ditambah lagi rambut coklatnya yang acak – acakan.
“Sungguh, itu hanya sebuah kecelakaan dan aku tak sangka bisa separah itu!”
“Ya, aku harap kamu benar - benar menyesal! Karena kalau tidak Mama akan mengutukmu jadi kodok!”
“Mama bukan penyihir dan itu tidak mungkin. Sebaiknya kamu cari cara lain untuk menakut – nakuti aku, Mark!
“Sudah kuduga, kau benar – benar monster kecil!” kata Mark pelan. “Ayo kemasi pakaianmu, karena selama Mama keluar negri kamu akan tinggal di Apartementku. Kuharap kenakalanmu akan berkurang selama dalam pengawasanku!”
“Aku tidak mau!” jawab Penny lantang. “Kenapa tidak kamu saja yang pindah kesini menemaniku?”
“Tidak mungkin.” Ucapnya pelan. “Apa kamu tidak tahu kalau Nathan akan mengadakan kelas biola disini? Dan aku tak sanggup menutup telinga melulu ketika dia menggesek biolanya!”
“Kamu tidak suka permainan biola Nathan, Violinist terbaik abad ini?” Penny berusaha bicara sekeras mungkin.
“Sssssh” Mark membungkam mulut Penny. “Kalau Nathan dengar, kamu tak bernyawa lagi! Ayo cepat atau kamu memang suka mendengar Nathan............ kurasa tidak juga bukan!
“Baiklah tuan Ubur – ubur!”
“Kamu panggil aku apa?” Mark tiba – tiba berhenti karena Penny telah menutup kamarnya dengan keras. “Untung hidungku tidak hancur!”
***
Tak beberapa lama setelah itu, Penny telah berada di dalam mobil kakaknya. Mark pun segera berpamitan kepada Nathan, “Than, aku pergi dulu ya! Kamu nggak apa – apakan tinggal di rumah sendirian?”
“Tenang aja, Kak! Tak perlu mencemaskan aku, malahan aku yang harus mencemaskanmu. Aku harap Kakak bisa menjaga si rewel yang satu itu!” jawab Nathan menunjuk ke arah Penny.
“Do’akan saja agar nasibku tidak berakhir seperti Mama. Aku tak kuat kalau harus kehilangan hidung mancungku ini! Ya udah, see you!” Mark pun menyusul Penny memasuki mobil.
“See you! Sering – sering kesini ya Penny!” seru Nathan pada Penny.
Dan mobil itu pun melesat menelusuri jalan Haji Agus Salim yang masih tertutup kabut. Tak disangka Mark memperhatikan adiknya yang sedang duduk disampingnya sambil memeluk bola.
“Kamu suka bola juga ya?” katanya sambil mengendalikan stir.
“Ya, dan karena itu aku mau minta tolong padamu. Mau nggak kamu membelikanku baju bola?” ucap Penny dengan penuh harap pada kakaknya. “Sudahlah aku yakin kau tak mau, iya kan?”.
“Iya, aku memang tak akan membelikanmu!” jawab Mark yang melihat ekspresi kekecewaan di wajah adiknya itu. “Tapi aku punya baju bola timnas Jerman, ketika laguku................”
“Makasih Mark, kamu memang kakakku yang paling baik!” kata Penny sambil memeluk kakaknya. “Dimana baju itu sekarang?”
“Ada di bangku belakang dalam tas hitam! Tapi buat apa sih?”
“Kurasa belum waktunya kamu tahu, berhenti di Chaparral Big Hall ya! Nanti biar aku yang pergi ke Apartemenmu sendiri!” ucap Penny seraya menjangkau tas yang berisi baju bola itu, kemudian membukanya. Ternyata atribut pemain bola telah lengkap dalam tas itu.
Mereka pun sampai di Chaparral Big Hall, Penny turun di sana. Kemudian mobil Mark segera melaju meninggalkannya sendirian. Setelah berganti pakaian di salah satu toilet Chaparral Big Hall, Penny segera berlari menuju stadion bola yang dikunjunginya kemaren. Kelihatan sekarang Penny seperti anggota kesebelasan timnas Jerman, dengan baju biru dan celana pinknya. Setibanya disana, dilihatnya Alan sedang duduk di tengah lapangan.
“Pagi, Alan !” sapa Penny kepada Alan.
“Terlalu pagi untuk latihan bola!” jawab Alan tanpa menoleh ke arahnya.
“Maaf aku sedikit terlambat!” ujar Penny. “Tapi aku sudah pakai baju bola dan lihat nomor punggung kita sama!”
“Bagaimana dengan bola yang kuberikan?”
“Tenang saja kurasa kami telah berteman, walau ada masalah besar yang diciptakannya!”
“Baik kalau begitu kita bisa latihan. Pertama kamu harus lari 100 putaran kemudian cabuti semua rumput disini sambil jongkok, OK!”
“Apa? Kamu gila, aku kan cewek! Mana mungkin aku........!”
“Bukankah tidak ada peraturan yang melarang cewek lari 100 putaran dan mencabuti semua rumput disini sambil jongkok!” kata Alan yang masih duduk. “Atau kalau kamu memang tidak sanggup silahkan pergi!”
“Jangan berpikir aku akan menyerah!” ucap Penny sambil membanting bola dan tasnya. Dia segera berlari mengikuti instruksi Alan.
Satu jam, dua jam, tiga jam, Penny belum juga selesai melaksanakan 100 putaran. Padahal badannya sudah sangat letih, apalagi tadi pagi dia tidak sarapan. Namun pada jam keempat dia pun selesai dan melanjutkan mencabuti rumput. Tak sampai satu meter kepalanya terasa berat dan tak sanggup bergerak lagi. Dia pun terkapar diatas rerumputan itu.
***
“Penny, kamu nggak apa – apa?” teriak Mark dengan wajah kawatir.
“Aku ada dimana Mark?” tanya Penny yang mulai sadar. “Kok semuanya putih –putih! Apa yang terjadi?”
“Kamu ada di rumah sakit Palang Merah Jakarta, seorang petugas kebersihan lapangan bola disamping Chaparral Big Hall menemukanmu tak sadarkan diri!” jawab Mark. “Kamu kehilangan banyak cairan tubuh!”
“Mark, mana bolaku?” kata Penny seraya bangun.
“Jangan cemas, ini dia!” ujarnya sambil mengambil bola yang terletak diatas meja.
“Makasih Mark, kamu selamatkan hidupku!” katanya lalu memeluk Mark.
“Jangan berlebihan, ayo kita pulang!” ucap Mark mencoba melepaskan pelukan adiknya. “Kamu sudah merasa fit bukan?”
“Ya, ayo kita pulang. Tapi ..............”
“Kamu laparkan?”
“Yap! Kita makan Lobster ya!”
“Baiklah! Restoran Libinia selalu punya Lobster paling enak se - dunia.”
“Kalau begitu gendong aku, ya!” kata Penny dengan wajah memelas. “Aku kan baru sembuh, apa kamu tega melihat ku pingsan lagi!”
“Siapa yang menyuruhmu main bola sebelum sarapan!” ujar Mark sambil menggendong adik kesayangannya itu. “Kalau bukan karena Mama menitipkan kamu padaku, aku tak sudi melakukan ini!”
Mark pun menggendong adiknya dari ruangan perawatan sampai ke mobilnya. Mobil sejenis Marcedes berwarna kuning telah menanti mereka di depan rumah sakit. Mobil itu pun melaju dengan kecepatan tinggi menuju restoran Libinia.
Setibanya mereka disana, mereka langsung disuguhi makanan – makanan yang enak. Penny segera menyantapnya dengan lahap. Namun tiba-tiba selera makannya menjadi hilang karena sekarang kakaknya telah dikerubuti oleh gadis – gadis yang meminta tanda tangan dan fotonya. Mereka berdesak-desakan tak sabaran dan hal ini membuat Penny ingin muntah. Setelah kurang lebih satu jam akhirnya para wanita itu pun pergi.
“Kuharap kamu menyamar dulu sebelum mengajakku makan!” ujar Penny sebel. “Atau memang sengaja mau menghilangkan selera makanku?”
“Aku juga berharap kamu mampu menyesuaikan diri karena inilah duniaku!” jawab Mark sambil memulai makan lagi. “Oh ya, aku punya dua tiket nonton final piala eropa, Perancis vs Jerman di kota Paris besok! Sebaiknya aku mengajak siapa ya!”
“Kumohon ajak aku! Aku akan bersikap sebagai anak manis! Sungguh!”
“Emangnya aku mau ngajak Nathan! Bisa – bisa dia ngomong terus tentang kelas biola barunya!”
“Oh Mark, kamu benar – benar mengerti aku!”
Setelah selesai makan mereka segera pulang ke Apartement Mark. Dan menuju kamar masing – masing, karena tak ingin terlambat datang ke bandara besok pagi. Tentu saja untuk menyaksikan final piala Eropa antara Perancis vs Jerman di kota Paris.
***
Pagi ini, seluruh warga negara Perancis, telah siap mendukung tim kesebelasan kesayangan mereka. Begitu pula halnya dengan Penny. Dia ingin melihat betapa hebatnya Alan Presley sang striker kesebelasan Jerman. Walaupun dia masih kesal Alan membiarkannya begitu saja terkapar di lapangan bola. “Penny, kamu sudah siap?” tanya Mark ketika menuruni tangga pesawat pada adiknya Penny.
“Kurasa iya!” ucapnya penuh semangat. “Kita sudah sampai sekarang!”
“Sebaiknya kita cepat-cepat menuju satadion! Karena lima menit lagi jalan kesana pasti telah macet!”
“Tidak pernah ada kemacetan di kota Paris, kecuali para polisi juga nonton bola.”
“Tapi hari ini hari besar!” ucap Mark seraya merangkul adiknya itu menuju mobil.
Mereka pun segera pergi meninggalkan apartemen Mark menuju stadion bola Primary Mansoni. Seluruh jalan telah dihiasi bendera negara Perancis dan Jerman. Bukan hanya itu, para pendukung kesebelasan tersebut juga sudah mengatur performa mereka sesuai dengan tim unggulannya. Tapi yang paling heboh adalah para pendukung tim Perancis, mereka mengenakan baju putih dan celana merah. Bahkan ada yang sampai rela rambutnya dicat warna putih plus merah. “Mark, apa kau yakin kalau Perancis akan menang?” tanya Penny tiba-tiba. “Tidak!” jawab Mark lugas. “Tidak ada sejarahnya Perancis menang di final, adikku! Makanya sering – sering nonton bola!”
“Seberapa hebat sih Jerman itu?” kata Penny tak senang. “Mungkin karena strikernya Jerman itu orang yang hebat, tendangan jarak jauhnya saja luar biasa!”
“Aku tidak bilang Perancis itu lemah, tapi tidak bisa menang!” ujar Mark yang sedang memarkirkan mobilnya pada tempat parkir yang strategis, karena mereka telah sampai di stadion bola Primary Mansoni. “Ayo turun!”
“Wow, stadion bola Primary Mansoni ini sangat besar!”
“Lekas masuk sebelum para wartawan itu tanya macam – macam!” ucap Mark sambil menarik tangan Penny ke dalam stadion. Dan para wartawan Juma, majalah terkeren di Paris memang telah mengintai mereka sejak mobil Mark terparkir didepan stadion bola Primary Mansoni.
“Kamu seperti Papa yang takut pada wartawan, padahal mereka itu sangat berjasa dalam karirmu di seluruh dunia!” kata Penny yang sekarang duduk disamping kakaknya itu. “Coba pikir, kalau bukan karena mereka bagaimana mungkin kamu bisa terkenal dan seluruh dunia mengidolakanmu, Mark!”
“Penny, kamu bilang apa? Sepertinya telingaku mendadak tuli!” jawab Mark sambil membeli Popcorn dan Cola dingin dari penjual keliling. “Oh lihat para pemainnya sudah keluar!”
“Kamu benar – benar ubur – ubur raksasa!” teriak Penny ke telinga Mark. Kemudian dia melihat para pemain Perancis yang telah rapi dengan seragam putih merahnya. Setelah itu disusul tim Jerman dengan seragam hijau creamnya. Namun diantara pemain Jerman, Penny tidak melihat Alan. Baik mereka yang sedang bermain maupun yang sedang duduk di bangku cadangan.
“Mark, mana Alan Presley?”
“Alan Presley?” kata Mark. “Siapa dia?”
“Mana mungkin kamu tidak kenal dia, dia itu striker terhebat timnas Jerman.” Ujar Penny yang sedang memikirkan Alan, “Apa dia sakit? Pantas kemarin Alan kurang bersemangat!”
“Jangan gila, Penny! Dua tahun belakangan ini kapten kesebelasan Jerman, Jeff Hardin, yang paling menonjol. Jadi kalau ada yang ngaku – ngaku striker terhebat timnas Jerman, dia benar –benar penipu!”
“Alan menipuku! Tidak mungkin!” kata Penny tidak percaya dalam hati. Sekarang pikirannya ngambang entah kemana. Rasanya dia tak ada lagi di kota Paris, tapi sekarang dia berada di Matahari. Marah, emosi, kaget, heran, semuanya bercampur jadi satu dalam otaknya. Dia ingin sekali menghajar Alan Presley, sebab laki – laki tersebut telah mengerjainya. Sekarang suara komentator yang mengumandangkan gol – gol buatan Jerman serta sorakan penonton seakan tak berarti baginya. Hal yang paling ingin dilakukannya adalah mencari Alan Presley.
Namun hal ini tak mampu dikatakannya kepada Mark. Baginya mengakui kalau dia telah ditipu adalah hal yang paling dibencinya setelah musik. Hal yang terbaik tentu saja menyaksikan pertandingan ini sampai habis kemudian mengajak Mark untuk segera pulang dan pergi ke stadion bola disamping Chapparal Big Hall dengan berbagai alasan. Akhirnya setelah 120 menit berlalu pertandingan pun usai dengan skor 5-0 bagi Jerman dan Perancis. Tentu saja pemenang piala Eropa untuk kesekian kalinya adalah Jerman. Para penonton kelihatan tidak puas dengan hasil pertandingan tersebut. Anggota timnas Perancis benar – benar seperti disihir, mereka kelihatan tak mampu melakukan apa – apa.
“Tidak mungkin Perancis kalah lagi!” teriak seorang pria berbadan besar yang mengenakan baju putih merah. Kelihatannya dia tidak terima kalau tim unggulannya kalah. “Penny, pulang yuk!” kata Mark yang kelihatan sedikit kecewa. “Apa kamu mau tidur disini? Ayo! Selagi perhatian para wartawan itu masih terfokus pada pemain Jerman!”
Seperti tak punya mulut, Penny diam saja kemudian menuruti perintah kakaknya itu. Dia berjalan menelusuri kursi – kursi penonton untuk kaluar dari stadion dan segera memasuki mobil. Memang sekarang dia sudah tidak tahan lagi dengan semuanya, baik dengan kemenangan Jerman, kebohongan Alan, serta ketakutan kakaknya terhadap wartawan. Tiba – tiba seseorang menarik tangannya dan mendekap nya erat – erat. “Aku tidak membohongimu!” suara Alan bergema ditelinganya. “Aku salah tidak bicara sejujurnya, tapi sungguh aku tidak bermaksud mengerjaimu, percayalah! Nanti malam aku ke apartemen kakakmu.” Tak sempat Penny berkata apa – apa Alan telah berlalu dari hadapannya. “Penny, kok kau masih disini!” ucap Mark jengkel. “Haruskah aku menggendongmu kesana! Ingat pesawat kita berangkat sebentar lagi!” Melihat kejengkelan kakaknya tersebut Penny hanya mampu tersenyum, kemudian mengikutinya.
***
Malam semakin larut Penny sendirian di Apartemen kakaknya. Sebab Mark harus terbang ke kota Berlin untuk memenuhi undangan pelatih timnas Jerman dalam rangka memeriahkan pesta kemenangan mereka. Walaupun Mark telah berkali – kali mengajaknya ikut serta, Penny tetap bersikeras tak mau ikut. Sekarang dia kelihatan sedang mondar mandir di ruang tamu, menanti kedatangan Alan yang janji akan datang malam ini. Namun setelah 5 jam dia menunggu, Alan tak kunjung datang dan memang tidak ada tanda – tanda dia akan datang. Apalagi kepala Penny telah penuh sesak dengan rasa kantuk. Segera dilangkahkan kakinya menuju kamar tidur. Dilihatnya kamar yang tadinya berantakan kini telah dipenuhi oleh mawar merah muda yang semerbak baunya. Tempat tidurnya sekarang telah berganti dengan sepasang kursi dan sebuah meja yang beralaskan taplak berwarna biru. Sebotol wine telah bersanding dengan dua buah gelas diatas meja tersebut. Dan seorang pria berjas rapi telah berdiri disudut ruangan.
“Apa – apaan ini, Alan?” ucap Penny keheranan di dekat pintu.
“Surprise!” jawab Alan sambil memberikan setangkai anggrek bulan kepada Penny. “Aku nggak tahu, apa kamu suka atau tidak. Silahkan masuk my princes!”
“Tapi bagaimana caranya?” ujar Penny yang mulai duduk. “Kamu tidak mungkin melakukannya tanpa sepengetahuanku, aku sejak tadi ada di luar, mana mungkin tak ada suara!”
“Ssssh! Kurasa tak perlu itu dibahas sekarang.” elak Alan. “Aku ingin menjelaskan suatu kekeliruan yang kubuat. Sebenarnya aku tidak bohong………”
“Kamu bilang tidak bohong! Lalu kenapa Jeff Hardin yang menjadi the man of the match? Jangan kira aku terlalu bodoh berpikir kalau kamu sedang sakit selama dua tahun!” kata Penny kasar.
“Sebenarnya aku bisa menjadi striker timnas Jerman dan kapten AC Parma. Jeff dan aku satu sekolah. Kami berdua belajar bermain bola di Sorbonne Soccer School di Stuttgard. Kami duo yang solid. Namun dewi fortuna kelihatan sedang marah padaku. Belum sampai aku tamat dari sekolah itu. Mereka telah membunuhku.”
“Siapa mereka? Dan kamu ...... su…..dah mati!” seru Penny tercengang abis.
“Mati .......... ya aku sudah mati. Entahlah rasanya aku tidak percaya telah mati. Siapa mereka dan apa tujuannya...... entahlah! Aku tak tahu.”
“Kamu hantu! Oh tuhan bagaimana aku ini! Kenapa aku tak sadar kalau bergaul dengan hantuuuu..!” teriak Penny panik.
“Tenang, tak perlu khawatir aku bukan hantu jahat! Aku hanya ingin kamu membantuku itu saja! Karena aku ingin tahu siapa yang membunuhku!” ucap Alan.
“Bagaimana caranya!”
“Asal kamu mau, akan kutunjukan caranya!”
“Baiklah, aku mau, tapi .............. apa berbahaya!”
“Ya, sangat berbahaya! Tenang saja aku akan selalu membantumu! Namun siapkan dirimu dengan semua konsekuensinya.”
“OK, gimana caranya?”
“Pertama kamu harus menjadi murid pada sekolah kejuruan SOCCER di Stuttgard! Pendaftaran terakhir adalah besok! Disana kamu akan menemukan berbagai petunjuk! Kamu janji mau melakukannya!”
“Aku Penny Dombeck berjanji akan membantu Alan Presley! Puas!”
“Terima kasih!” ujar Alan seraya mencium bibir Penny. Wajah Penny pun memerah. Dan Alan menghilang dari pandangannya. Kamarnya yang berantakan kembali seperti semula. Penny terhenyak diatas tempat tidurnya sambil memeluk bolanya dan memandang ke arah angrek bulan yang diberikan Alan. “Ciuman pertamaku sama hantu!” katanya sambil tersenyum. “Kok nggak ada rasanya ya! Kata Victoria ciuman itu rasa strawberry”. Malam bertambah larut dan dia pun terlelap dalam mimpi indah.
***
“Penny bangun!” seru Mark pada Penny sambil menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. “Ini sudah siang tahu! Dan aku bukan Mama yang membawakan sarapan ke kamar!”
“Uahhh .... udah siang ya Mark!” jawab Penny.
“Siapa kamu?” teriak Mark kaget.
“Kamu jangan bercanda dong, Mark! Atau para penyihir Jerman telah membuatmu lupa pada adikmu ini! Aku Penny, Penny Dombeck!”
“Bukan, adikku tidak berwajah kasar dan berambut pendek sepertimu!”
“Apa? Rambutku pendek! Jangan bercanda dong ah!” kata Penny sambil mendekati cermin besar yang ada di sudut ruangan. “Tidaaaaaaaaaaaaaak! Mark kamu apakan aku? Kenapa rambutku pendek dan wajahku....... Tidaaaaaaaaak” tangis Penny pun pecah.
“Jangan berpura – pura mana adikku?”
“Mark, aku Penny, adikmu! Please percaya!”
“Nggak mungkin! Aku hanya punya satu adik laki – laki yaitu Nathan, bukan Penny. Apa kamu Nathan?”
“Kalau kamu bilang aku adalah Nathan sekali lagi, kamu takkan hidup ubur – ubur raksasa!”
“Penny! Tidak mungkin kamu Penny. Cepat katakan dimana adikku atau kupanggilkan sekuriti!”
“Aku Penny! Penny Dombeck, adiknya Mark Dombeck dan Nathan Dombeck, putrinya Bruce Dombeck and Helen Notonegoro. I’m Penny, please believe me!”
“Kalau kamu Penny, apa buktinya?”
“Aku nggak bisa nyanyi, nggak suka musik, aku suka lobster, aku suka warna pink, kemaren kamu mengajakku nonton piala Eropa, aku cuma punya satu teman yaitu Victoria, dan aku yang menghancurkan hidung Mama! Satu hal lagi, cuma aku yang tahu hubunganmu dengan Karin! Puas!”
“Kamu memang Penny! Bagaimana bisa?” kata Mark seakan – akan tidak percaya.
“Aku juga masih binggung! Kenapa jadi begini, apa ini gara – gara .........! Mark, kalau kamu ingin aku balik lagi, tolong daftarkan aku ke sekolah kejuruan SOCCER di Stuttgard!”
“Gila! Itu kan sekolah untuk cowok, dan kamu.............. cowok!”
“Kamu mau membantuku kan Mark? Kumohon hanya kamu yang mampu membantuku!”
“Aku mau!” jawab Mark ragu. “Mama! Bagaimana dengan Mama! Aku tak bisa menjelaskan kalau kamu berubah jadi laki – laki kepada Mama. Kalau pun dia mengerti, dia takkan membiarkanmu sekolah di sekolah kejuruan SOCCER Stuttgard. Mama mengharapkan kamu jadi penari!”
“Tapi cuma ini jalan satu – satunya agar aku bisa kembali!”
“Baiklah aku bantu kamu, Penny! Walau aku harus banyak berbohong kepada Mama!”
“Tidak banyak hanya satu kalimat ‘Penny sekarang belajar di Boston, dia kuliah pada universitas Massachusetts jurusan seni lukis dan tari.’ bereskan! Dan Mama tidak suka pada Boston, jadi kemungkinan dia kesana sangat kecil!”
“Jadi kapan kamu ke Stuttgard?”
“Sebaiknya sekarang, sebelum Mama pulang! Aku harap kamu mau mengantarku ke sana!”
“Bukannya aku tidak mau, soalnya hari ini aku ada pemotretan di Maryland Midmonth. Kurasa kamu sudah cukup dewasa untuk pergi sendiri, ambil uang ini! Penny, aku akan merindukanmu!” kata Mark yang mulai merangkul adiknya itu.
“Mark, kamu tak perlu sedih! Kita pasti akan bertemu lagi! Do’akan aku agar berhasil ya!”
“Pergilah sekarang, sebelum aku lupa kamu adikku!”
“Selamat tinggal Mark! Aku sayang padamu!” ucap Penny sambil mengambil barang – barangnya dan kemudian pergi menuju kota Stuttgard. Kota yang sangat asing baginya. Ketika dia menutup pintu apartemen Mark, air mata Penny tak dapat terbendung lagi. Tapi dia harus menghadapi kenyataan kalau dia sekarang bukan Penny yang dulu lagi.
“Kamu sudah siap!” bisik Alan yang mendadak berdiri di belakangnya.
“Ya, aku akan segera membeli tiket ke Stuttgard dan beberapa pakaian pria. Kenapa kamu tidak bilang aku akan berubah jadi cowok?” ujar Penny sambil melotot.
“Aku lupa! Tapi hanya bagian luarmu saja yang mirip laki – laki, hatimu dan perasaanmu tetap Penny si gadis manja. Dan kau akan berubah jadi normal setiap bulan purnama.”
“Apa ini sejenis kutukan?”
“Bukan! Ini hanya sekedar fatamorgana. Sudahlah ayo pegang tanganku dan tutup matamu!”
“Untuk apa? Ku pikir kita tak perlu buang – buang waktu! Aku harus belanja dulu!”
“Jangan cerewet!”
“Oke deh!”
“Sekarang kita telah sampai di Stuttgard. Ayo buka matamu!”
“Kamu bercanda?” kata Penny keheranan. “Ini benar – benar Stuttgard dan pakaianku sudah berubah! Bagaimana kamu melakukan nya?”
“Aku ini hantu! Kalau hanya berpindah tempat jangan ragukan aku! Segeralah daftarkan dirimu pada kantor Registrasi di sana. Wanita yang disana itu bernama Hyla Heliconi. Dia yang mengatur pendaftaran anak baru. Dan nama mu sekarang adalah Ruben Rhodnius. Aku telah mengatur segalanya. Semoga berhasil!”
“Ehem... aku pergi dulu!” ucap Penny sambil melangkah menuju gerbang sekolah kejuruan SOCCER Stuttgard. Setibanya di depan gerbang, gerbang itu mebuka dengan sendirinya dan Hyla Heliconi segera menyambutnya dengan wajah berseri – seri.
“Gutten Morgen!” sapa Penny gugup.
“Gutten Morgen! Selamat datang di Sarbonne Soccer School!” kata Hyla sambil tersenyum. “Kamu orang Perancis, kan?”
“Ya, apa pendaftarannya masih dibuka?” jawab Penny yang masih gugup.
“Tentu saja! Tapi kurasa kamu tidak perlu mendaftar, sebab kamu sudah didaftarkan oleh orang tuamu, namamu Ruben Rhodnius bukan?”
“Ya, aku Ruben Rhodnius!”
“Oke! Mari ikut aku ke kamar barumu! Teman – temanmu telah menanti di ruang makan!” Penny pun mengikutinya dari belakang menelusuri lorong – lorong sempit berjendela dalam gedung itu. Sesekali dia melihat ke arah jendela. Terlihatlah lapangan hijau indah membentang dengan dua buah gawang di kiri kanan lapangan. Awan berarak tersenyum berucap selamat datang pada Penny. Burung – burung berkicau sahut menyahut seakan tak mau ketinggalan menyambut kedatangan Penny, mereka ikut mengiringi langkahnya menuju asrama Sorbonne Soccer School.
2
Sorbonne Soccer School merupakan sekolah kejuruan sepak bola yang terletak di kota Stuttgart, Jerman. Sekolah ini didirikan pada tanggal 7 Juli 2006. Kira – kira 10 tahun yang lalu setelah piala dunia diadakan di negara ini. Disinilah Penny Dombeck memulai perjuangannya menjadi seorang pemain bola. Walaupun harus mengganti namanya menjadi Ruben. Namun hal itu tak pernah terpikirkan oleh Penny, sekarang yang ada di benaknya adalah cara untuk menemukan pembunuh Alan, sehingga dia bisa kembali ke wujudnya semula.
Setelah meletakkan barang – barangnya di kamar barunya, Penny segera beranjak menuju ruang makan yang ditunjukkan nyonya Hyla. Dua buah meja panjang berjajar di tengah ruangan, disamping ke dua meja itu terdapat dua buah tempat pengambilan makanan yang dilayani oleh beberapa orang pria berbadan kekar. Ruangan itu penuh sesak oleh anak lelaki seumurannya. Mereka semua terlihat tercengang melihat kedatangan Penny.
“Ruben, segeralah mengantri di sana!” perintah nyonya Hyla menunjuk barisan sebelah kiri. “Kenapa bukan di sana nyonya?” tanya Ruben.
“Yang di sana itu untuk anak – anak berbakat, atau kami di sini menyebutnya anak – anak kelas dua!”
“Darimana anda tahu kalau semua anak kelas satu itu tidak berbakat?”
“Sebenarnya itu bukan pembeda utamanya, kelas dua untuk anak – anak berada! Kamu mengertikan! Sekarang jangan banyak tanya lagi!” kata nyonya Hyla berjalan meninggalkannya.
Kemudian Ruben pun berjalan mengambil makanan dan mencari kursi yang kosong. Dilihatnya sebuah kursi kosong diantara kerumunan tiga orang cowok. Salah seorang pria diantara mereka melambaikan tangan dan memanggil Penny.
“Ayo silahkan duduk disampingku!” ujar pria berambut coklat itu sambil memberikan kursi.
“Terima kasih!” jawab Penny seraya duduk di kursi yang ditunjukkan pria itu.
“Oh ya, aku Pen...... maksudku Ruben Rhodnius! Dan kamu?”
“Aku Debbie, Debbie Wiseman! Dan ini teman – temanku!”
“Aku Rudi Anderson!” kata pria yang memakai topi cuek.
“Kalo aku Clive Harsvey! Senang berkenalan denganmu!” ucap cowok yang lebih gemuk dengan senyum manis.
“Apa kalian juga anak kelas satu?” tanya Ruben sambil menyantap makanannya.
“Bukan kami sudah kelas dua! Jika kamu mencari gerombolan anak – anak kelas satu mereka yang duduk di sudut sana!” jawab Debbie.
“Oh maaf, aku duduk di kawasan yang salah!” Ruben mulai linglung. “Sebaiknya aku beranjak dari sini!”
“Jangan! Kalau kamu pergi siapa yang akan menghibur kami! Ha...... ha.....” ujar Clive.
“Sudahlah Clive, biarkan dia pergi!” ucap Rudi yang sedang melempar – lempar apel.
“Makasih!” kata Ruben sambil mencoba berdiri, namun kemudian “traaack”. Celana Ruben sobek pinggulnya akibat terekat ke kursi. Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa riuh.
“Kenapa mau nangis?” tanya Debbie seraya menyiramkan saus tomat ke atas kepala Ruben. “Makanya jangan suka telat! Dasar manja!”
“Aku bukan penangis, bukan juga anak manja!” teriak Ruben yang kemudian mendorong Debbie dan hendak memukul wajahnya.
Namun hal itu tidak jadi dilakukan Ruben karena Rudi telah menarik pergelangan tangannya. “Heh anak baru! Jangan belagu ya!” hardik Rudi. Ruben tidak bisa melakukan apa – apa, jantungnya berdetak kencang ketika Rudi menatapnya dengan tajam.
“Aaaaku hanya membela diriku, apa itu salah!” teriak Ruben sambil mencoba melepaskan tangannya.
“Heh bocah sialan! Berani banget kamu sama kami! Asal kamu tahu ya, kami adalah penguasa disini!” ujar Clive seraya menjambak rambut Ruben.
“Au.........!” teriak Ruben kesakitan.
“Clive hentikan! Sudah cukup! Ayo kita pergi!” kata Rudi yang kemudian melepaskan tangan Ruben. Namun setelah tangannya dilepaskan Rudi, Ruben pun segera menonjok mata Clive yang besar dan segera berlari menjauhi mereka.
“Itu untuk celanaku dan rambutku yang telah kamu tarik!” seru Ruben.
“Awas kamu ya!” ucap Clive dengan penuh amarah, tapi Rudi berhasil memeganginya. Setelah itu mereka bertiga meninggalkan ruangan makan diikuti seluruh kelas dua.
Teman – teman sesama kelas satu bersorak memberi tepuk tangan kepada Ruben. “Cool banget, bisa menghajar mereka! Gila!” sorak seorang pria kurus berbadan kecil. “Kenalkan namaku Scott Seibel! Kok kamu bisa seberani itu sih?”
“Ah biasa aja! Biar mereka tahu rasa, dan nggak suka semena – mena. Dasar preman sayur!” jawab Ruben merapikan dirinya. “Oh ya kenapa tidak ada yang melerai perkelahian kami tadi! Padahal para koki itu harusnya bertindak!”
“Siapa yang berani pada mereka? Walaupun para koki itu badannya besar, mereka pada nggak punya nyali, apalagi si Stephen Lewis!” ujar Scott sambil menunjuk pria gemuk yang sedang membersihkan kotoran yang ditimbulkan perkelahian tadi. “Ayo kita ke kamar, ini sudah waktunya tidur! Besok akan jadi hari yang melelahkan.”
“Ok, aku juga sudah mengantuk!” kata Ruben berjalan dengan canggung menuju kamarnya.
***
“Penny, bangun!” bisik Alan ke telinga Penny.
“Inikan sudah larut malam, aku ngantuk nih!” jawab Penny sambil menutup wajahnya dengan selimut.
“Kamu sudah lupa dengan janjimu?”
“Baiklah, kita mau kemana?”
“Aku akan membawamu menuju kantor kepala sekolah, mungkin disana masih ada dokumen lama tentang kematianku! Bersiap – siaplah, pejamkan matamu!” kata Alan memegangi bahu Penny dari belakang.
“Kita sudah sampai! Cepat cari file – file itu, sebelum ada orang yang melihat!” bisik Alan yang sambil menghidupkan lampu. Penny segera bergegas mencari file – file yang diminta Alan. “Alan, kurasa ini dia!” ucapnya sambil membuka file itu.
“Mana coba kulihat!”
“Kamu ditemukan tewas di atas tempat tidur karena kehabisan nafas!”
“Ya, tapi bagaimana pembunuh itu melakukannya? Setahuku di kamar itu, aku tidak sendiri. Ada banyak orang!”
“Lihat disini dikatakan bahwa ada barang bukti sehelai sapu tangan yang bertuliskan ‘Triple S’’, namun tidak ada sidik jari atau yang lainnya!”
“Triple S? Istilah apa itu?”
“Mungkin sebuah singkatan! Sorbonne Soccer School, triple S bukan?”
“Lantas apa hubungannya denganku? Dan rasanya tak ada yang menggunakan istilah triple S untuk sekolah ini!
“Sssssh, ada orang yang menuju kesini! Matikan lampunya!” bisik Penny sambil mencari tempat sembunyi.
Tiba – tiba seorang pria tua melangkah masuk dan kembali menghidupkan lampu. Dia mengambil sebuah bungkusan yang terletak diatas meja kepala sekolah. Lalu keluar kembali. Melihat pria itu telah keluar Penny segera keluar dari persembunyiannya.
“Siapa pria itu?”
“Kamu tidak tahu?” kata Alan balas bertanya. “Dia itu kepala sekolah Sorbonne Soccer School, Albert King Jr.”
“Baiklah kurasa malam ini sudah cukup bukan?” tanya Penny sambil menguap.
“Mau kubantu menembus dinding?” ucap Alan yang memegang bahu Penny dan mendorongnya menembus dinding ruang kepala sekolah. “Tetap pegang tanganku kalau kamu tak ingin terlihat!”
Mereka pun berjalan menelusuri lorong menuju kamar Penny. “Kenapa kamu tidak langsung membawaku ke kamar?” ujar Penny. “Kan capek jalan sejauh ini!”
“Sebaiknya kamu diam, karena ada beberapa orang yang menuju kesini!”
Ternyata memang ada tiga orang anak lelaki berjalan ke arah mereka.
“Sialan anak baru itu! Kukadukan pada triple S rasain dia!” kata pria berambut coklat dengan penuh amarah.
“Diam, jangan pernah kau sebut - sebut triple S di hadapanku!” ancam pria yang memakai topi.
“Sudahlah! Kalian ini kenapa, besok anak laki – laki sengak itu akan jadi milik kita.” Ucap pria yang yang berbadan gemuk. “Aku sudah minta pak Richard untuk memindahkan dia ke kelas kita! Aku bilang padanya kalau anak itu berpotensi”.
“Jangan bilang kamu memakai nama ayahku untuk melakukan semua ini!”
“Ayolah Rudi! Kupikir dia tidak akan pernah marah pada anak laki – laki satu – satunya!”
“Ya Rud, Clive benar! Lagi pula aku tak sabar ingin menghajarnya.”
“Terserah kalianlah.” Mereka bertiga pun segera berlalu di hadapan Penny dan Alan.
“Kamu dengar apa yang mereka katakan tadi!” desak Alan pada Penny.
“Meraka akan balas dendam pada ku besok!” ujar Penny lesu.
“Bukan itu! Mereka menyebut – nyebut triple S”.
“Lantas?”
“Ini kesempatanmu! Jadilah teman mereka kemudian korek informasi sebanyak – banyaknya mengenai triple S!”
“Apa kamu gila? Aku harus berteman dengan tiga orang cowok yang sangat jahat padaku! Kamu ingin membunuhku?” kata Penny dengan marah, kemudian dia melepaskan tangan Alan dan berlari menuju kamarnya.
“Bukan begitu Penny!” teriak Alan sambil mengejar Penny.
Ketika Penny sedang berlari tiba – tiba “bruuk”, dia menabrak seseorang yang sedang berdiri di depannya.
“Tuan Ruben Rhodnius, sudah lupa ini larut malam?”
“Maaf nyonya Hyla! Saya tadi dari toilet.”
“Biasakan buang air kecil sebelum tidur, atau kamu akan bermasalah denganku! Segeralah tidur boy!”
“Permisi nyonya Hyla!” kata Penny sambil berjalan menuju kamarnya.
***
“Ben, kemana kamu semalam?” tanya Scott yang sedang melipat selimutnya.
“Cuma ke toilet!” jawab Penny. “Emangnya kenapa?”
“Ya nggak apa – apa! Yuk ke bawah sarapan pagi telah menanti!”
Mereka berdua berjalan beriringan menelusuri tangga menuju ruang makan. Setibanya di sana mereka langsung mengantri mengambil makanan. Setelah lama mengantri mereka pun mendapatkan makanan yang mereka inginkan.
“Makanan apa ini?” bisik Ruben melihat nasi lembek yang telah diblender bersama telur, daging, sayur dan buah.
“Ini makanan untuk anak kelas satu! Jadi kalau tak ingin kelaparan makan saja!” ucap Scott yang sedang mencari tempat duduk. “Kita duduk di dekat Jack saja, kelihatannya di sana kosong!”
“Tunggu boy!” panggil nyonya Hyla. “Scott kamu boleh pergi duduk, aku hanya perlu dengan Ruben.”
“Baik nyonya!” kata Scott meninggalkan mereka berdua.
“Ruben letakkan piring itu dan segeralah mengantri di sana!” perintah nyonya Hyla.
“Tapi di sana barisan kelas dua! Dan aku........”
“Kamu sekarang kelas dua. Cepat sebelum makanannya habis.”
Ruben pun melangkahkan kakinya menuju antrian kelas dua. Namun kali ini dia menemukan sesuatu yang berbeda di atas piringnya. Sebuah sandwich ukuran besar dan segelas susu coklat menanti diatas piringnya untuk dimakan. Dia pun duduk disamping Scott.
“Scott lihat apa yang kudapat! Sebuah sandwich dan segelas susu coklat!”
“Tentu saja sekarang kamu kan kelas dua. Sana gabung dengan teman – teman kelas dua mu! Kami tidak selevel denganmu!” ucap Scott kesal.
“Dia benar bung! Sekarang kamu bagian dari kami.” Kata Clive yang sekarang memegang pundak Ruben.
“Enyahkan tanganmu itu Clive, aku bukan bagian dari siapa pun! Aku bebas memilih apa yang aku lakukan! Mengerti!” teriak Ruben pada Clive.
“Clive biarkan dia mengucapkan selamat tinggal pada teman – teman pecundangnya!” seru Debbie pada Clive. Mendengar itu Clive segera beranjak dari sana.
“Dengar aku Scott! Aku tak pernah menginginkan ini, Debbie dan teman – temannya yang mengatur semua ini. Mereka ingin membalasku! Tolong mengertilah! Aku sedang dalam masalah besar!” ujar Ruben.
“Ben aku percaya padamu kok!”
“Terima kasih!” Rubben pun tersenyum. “Mau berbagi makanan?”
“Habiskan saja, itu milik mu!”
“Ok, anak – anak ini waktunya untuk belajar! Tinggalkan makanan kalian cepat!” teriak nyonya Hyla.
“Sampai ketemu lagi Scott!”
“Berhati – hatilah sobat!”. Mereka pun menuju kelas masing – masing.
***
Ruben melangkahkan kakinya memasuki kelas barunya. Dilihatnya bangku bagian belakang telah terisi penuh. Dengan terpaksa dia duduk di kursi bagian depan. Sebelum duduk dia pun mengecek apa kursi dan mejanya baik – baik saja. Tiba – tiba Rudi duduk disampingnya. Anak itu cuek banget. Sepertinya dia tidak sadar kalau Ruben duduk disampingnya.
“Pagi anak – anak!” sapa seorang pria gemuk yang mengenakan jas rapi, seraya meletakkan buku – bukunya di atas meja.
“Pagi Pak!” jawab murid kelas dua serempak.
Ruben segera mengeluarkan bukunya dari dalam tas, namun seekor katak besar melompat dari tasnya.
“Aaaaaaaaa ......... katak!” teriak Ruben kaget. Seluruh kelas jadi riuh akibat ulahnya.
“Kamu benar – benar seperti anak perempuan!” ejek Rudi mengulum senyum.
“Tenang – tenang.” ujar guru itu menenangkan siswanya. “Kelihatannya ada anak baru di sini! Ayo maju ke depan karena aku ada beberapa pertanyaan untukmu Ruben!”
Mendengar instruksi tersebut Ruben segera berdiri dan maju kedepan. Dengan posisi wajah menunduk dia berkata, “Pagi Pak!”
“Angkat wajahmu nak! Kamu tahu namaku? Tentu kau tahu! Siapa namaku boy?”
“Nama anda...........” Ruben benar – benar kehilangan akal karena dia tak tahu nama gurunya itu. Dilihatnya kesekeliling dan ternyata Clive mengangkat sehelai kertas bertuliskan “Buster”.
“Itu bukan namanya, namanya Thomas Rodella. Dan panggil dia Mr. Big.” ucap Alan yang berdiri disamping Ruben.
“Nama anda Thomas Rodella, Mr. Big.” jawab Ruben seraya memandang Alan.
“Cukup bagus! Ternyata aku cukup terkenal.” ujarnya sambil tersenyum lebar. “Baik kali ini kamu boleh duduk boy! Buka buku teknik menendang bola halaman 102.”
“Maaf Pak! Aku tidak punya buku itu!”
“Kamu kan bisa berdua dengan teman sebangkumu Ruben!”
“Baik Pak!” ucap Ruben sambil melirik ke arah Rudi dan berjalan ke arahnya.
“Tak usah berdua dengannya!” ujar Alan. “Buka tasmu dan kamu akan menemukannya!”
“Terima kasih!” kata Ruben tersenyum ke arah Alan.
“Ada apa lagi Ruben?”
“Bukan apa – apa Pak! Ternyata aku punya buku itu!”
“Bagus kalau begitu sebaiknya kamu duduk!” hardik Mr. Big. “Sekarang kalian baca halaman itu dan bikin ringkasannya, kumpulkan ke mejaku kapan kalian mau! Ok, sampai ketemu minggu depan.”
Bel pun berbunyi tanda makan siang dimulai. Seluruh siswa meninggalkan kelas. Hanya ada Ruben yang sedang mengemasi buku – bukunya.
“Alan terima kasih telah membantuku!”
“Jangan berlebihan, aku kan telah berjanji untuk selalu menjagamu!”
“Baiklah, aku akan mulai pendekatan dengan mereka.”
“Tak perlu Penny. Mereka yang akan mendekatimu.”
“Maksudmu?”
“Lihat saja di lapangan nanti. Segeralah ke ruang makan ada beberapa orang yang menantimu!”
“Kamu membuatku penasaran saja!”
“Oh ya Penny! Kamu tetap terlihat cantik walau berpakaian seperti laki – laki.”
“Diam kamu?! Jangan ingatkan, kalau aku adalah seorang perempuan sekarang!” kata Penny melangkah meninggalkan ruangan kelas.
Setibanya di kantin dia melihat Scott sedang berbincang – bincang dengan Jack. Setelah mengambil makanan, dia segera menghampiri mereka.
“Hai teman – teman!” sapa Ruben membenarkan duduknya. “Bagaimana pelajaran kalian tadi?”
“Kami belajar di ruang bawah tanah penuh tikus dan berbau busuk!” aku Jack.
“Sudahlah Jack! Itu memang pantas kita dapatkan karena kita anak kelas satu. Kamu tentu belajar diruangan yang bersih, rapi, ber- AC dan wangi, bukan?.” lanjut Scott.
“Tapi sungguh aku tidak menikmati ini!” jawab Ruben sambil menunduk. “Kalian juga berhak. Kalian harus memperjuangkan hak kalian!”
“Ini bukan sekolah negri, bung! Di sekolah ini siapa punya uang lebih dialah yang teratas! Dan kami orang miskin!” jelas Jack.
“Kalian membayar uang yang samakan waktu masuk ke sini! Jadi kita punya hak yang sama!” kata Ruben berapi – api.
“Katakan itu pada Albert King Jr., kurasa dia akan mendengarkanmu!” ujar Scott setengah mengejek. “Kami ke kelas dulu ya! Ayo Jack!”
“Pasti ada jalan untuk mereka!” kata Ruben dalam hati.
***
Setelah makan siang Penny harus pergi ke lapangan untuk mengikuti praktek permainan sepak bola bersama Gerald Baker. Maka dia harus mengganti pakaiannya dengan seragam bola di ruang ganti. Tapi Penny masih risih memasuki ruang ganti yang isinya cowok semua. Sehingga dia menunggu semuanya selesai dulu baru kemudian dia masuk. Setelah selesai ganti baju, Alan datang mengunjunginya.
“Alan kamu dulu kelas satu atau dua?” tanya Penny sambil membenarkan tali sepatunya.
“Istilah kelas satu dan dua ada setelah aku mati, Penny! Tepatnya ketika Albert King Jr. menjadi kepala sekolah disini!”
“Itu artinya ini peraturan baru!”
“Ya begitulah!” jawab Alan. “Apa yang ingin kamu lakukan?”
“Aku akan berusaha mengubahnya!” kata Penny yang segera berlari keluar dari kamar ganti menuju lapangan sepak bola. Ternyata dia telah terlambat. Semua orang telah berbaris dengan rapi. Seorang pria berpakaian bola lengkap berdiri dengan wajah penuh amarah.
“Ruben!” teriaknya ketika melihat Ruben datang. “Lari 100 keliling lapangan ini! Cepat!”
“Baik Pak!” jawab Ruben yang segera berlari.
“Boleh kutemani?” tanya Alan menggenggam tangan Ruben.
“Inikah yang harus aku lihat di lapangan hijau?” ejek Ruben yang kesal dengan perkataan Alan.
“Sedikit lagi cukup seratus putaran!”
“Tapi ini baru satu putaran!” kata Ruben heran. Namun Alan hanya tersenyum dan menarik lengan Ruben ke arah guru olah raganya itu.
“Katakan pada Gerald Baker, kamu sudah lakukan seratus putaran!” perintah Alan.
“Mr. Baker saya sudah melakukan seratus putaran!” kata Ruben dengan wajah cemas.
“Bagus, kalau begitu masuk barisan.” Jawabnya singkat. “Ok. Rudi berdiri di tengah lapangan, dan kamu Debbie jaga gawang itu!”
“Baik Pak!” ucap mereka kompak.
“Perlihatkan pada kami tendangan jarak jauhmu yang memukau Rudi!” sorak Clive.
“Tenang saja Clive! Giliranmu akan segera datang!” ujar Mr. Baker. “Jadi tolong sekarang tutup mulut besarmu!”
“Kamu akan menyesal mengejekku Baker sialan!” bisik Clive.
“Ok! Satu, dua, tiga!” teriak Gerald Baker kemudian meniup peluitnya.
Dengan segera Rudi mengambil ancang – ancang untuk menembak dan........... bola tersebut melayang beberapa centi diatas gawang.
“Permainan yang buruk Rudi!” kata Mr. Baker melihat bolanya keluar lapangan. “Selanjutnya kamu Ruben Rhodnius!”
Mendengar namanya dipanggil Ruben segera berlari ke tengah lapangan. Dia pun bersiap – siap untuk menendang.
“Kamu siap Ruben? Satu, dua, tiga!” Gerald Baker kembali berteriak dan kemudian meniup peluitnya keras – keras.
“Bantu aku bola kecil!” katanya sambil menembakkan bola itu ke arah gawang. Ternyata Debbie kurang jeli melihat keberadaan bola itu dan........... gol.
“Sangat bagus! Itu baru namanya berbakat!” kata Gerald Baker seraya megacungkan jempolnya pada Ruben. “Selanjutnya kamu Clive!”
Clive pun berlari dan segera menendang bola itu. Namun bola tersebut dapat ditangkap oleh Debbie.
“Sayang sekali Clive, perut besarmu tidak membantu kali ini!” sindir Mr. Baker. Mendengar perkataan itu Clive sangat marah. Dilihatnya sebuah bola tergelatak di tengah lapangan. Dengan kesal dia menendang bola itu sekuat – kuatnya, tanpa disadarinya bola itu mengarah pada Rudi yang sedang duduk di pinggir lapangan.
“Awas!” teriak Debbie yang melihat bola itu mengarah pada Rudi. Tapi terlambat bola itu sangat dekat dengan Rudi dan kelihatannya dia tak sadar ada bola yang mengancam nyawanya.
“Bruuk”, darah pun berhamburan. Ruben berusaha menghentikan bola itu dengan kepalanya. Dia jatuh terkapar tak sadarkan diri. Rudi kelihatan baik – baik saja karena bola itu tak menyentuhnya.
“Segera bawa dia ke ruang perawatan!” instruksi Gerald Baker panik. “Dan kamu Clive cabuti seluruh rumput liar di lapangan ini! Ayo kalian papah dia!”
Gerald Baker bersama beberapa orang siswa pun membawa Ruben menuju ruang pengobatan.
“Kamu tidak apa – apa Rud?” tanya Debbie cemas. “Kupikir itu kamu!”
“Nyaris saja! Untung yang kena dia bukan kamu, temanku!” ucap Clive dengan wajah tak bersalah.
“Bagaimana kalau yang kena tadi itu aku? Bagaimana kalau dia tidak menghalangi bola itu?” teriak Rudi marah. “Kenapa kamu tidak pernah berpikir apa yang kamu lakukan itu salah? Dan kamu masih bisa memanggilku teman setelah tendangan hebatmu itu nyaris membunuhku!”
“Rud, percayalah itu semua kecelakaan!” aku Clive.
Tapi Rudi tidak mendengarkannya dan segera menyusul ke ruang perawatan. Dia kelihatan sangat bingung dengan apa yang terjadi padanya. Tak pernah dia menyangka orang yang dijadikannya musuh menyelamatkan nyawanya.
“Lakukan hukumanmu Clive!” ujar Debbie. “Aku akan menyusul Rudi!”
Debbie pun segera menyusul Rudi, tinggallah Clive seorang diri di tengah lapangan. Dia segera memulai mencabuti rumput dengan rasa bersalah.
***
Ruben terbaring di ruang pengobatan selama dua hari tak sadarkan diri. Dia banyak sekali kehilangan darah. Ternyata tendangan Clive benar – benar kuat. Teman – temannya secara bergantian menengoknya, begitu pula Rudi yang biasanya ditemani Debbie.
Hari ini Rudi menjenguknya sendirian. Dia membolos pelajaran sejarah bola dengan nyonya Hyla. “Hey pecundang bangun kamu!” bisik Rudi pada Ruben yang sedang terbaring. “Kamu pikir bisa mati begitu saja setelah menelamatkan nyawaku!”
“Ma...... Ma...........Ma! Maafkan aku Ma!” ucap Ruben antara sadar dan tidak.
“Dasar anak manja, yang diingat hanya ibunya saja!” ejek Rudi. “Bangun kamu!”
“Auuh.... Rudi kamu ngapain disini?” tanya Ruben heran. “Ada apa denganku, Rudi?”
“Dua hari yang lalu kamu terluka parah karena menolongku! Terima kasih! Kalau tidak aku yang akan berada di atas tempat tidur ini!”
“Aku senang sekali kalau kita bisa jadi teman!” ucap Ruben sambil meraih pundak Rudi.
“Jangan mimpi walaupun kamu menyelamatkan nyawaku, aku tetap tak sudi berteman dengan seorang pecundang.” jawab Rudi melangkah meningalkan Ruben.
“Rudi! Ok kalau tak mau berteman tapi kamu tetap punya hutang sebuah nyawa padaku!”
“Lantas apa maumu?”
“Aku ingin bertemu Triple S! Hanya itu!”
“Kamu yakin ingin bertemu Triple S? Apa urusanmu dengannya?”
“Ya, sekarang katakan dimana dia! Dan tak perlu kamu tahu apa urusanku dengannya!”
“Bagaimana mungkin anaknya tak boleh tahu!”
“Triple S ayahmu?”
“Bukan! Dia ibuku. Ibu yang sangat aku sayangi. Sampai – sampai aku tak rela dia masuk penjara!” teriak Rudi sambil berlari meninggalkan ruangan perawatan Ruben.
“Triple S itu seorang wanita dan dia ibunya! Mustahil! Alan kamu dengar aku!” bisik Ruben.
“Ya, sangat mengherankan memang, karena setahuku nama istri Albert King Jr. adalah Dorothy Anderson. Bagaimana bisa jadi Triple S?” kata Alan muncul tiba – tiba.
“Kamu bilang wanita itu istrinya Albert King Jr.!”
“Ya, Rudi itu anaknya Albert King Jr. sebenarnya dulu ibu Dorothylah yang menjadi kepala sekolah disini! Dia dan ayahnya yang membangun sekolah ini. Dia pun yang memberi nama sekolah ini! Dia sangat baik padaku dan juga Jeff tak kusangka dia yang membunuhku.”
“Sudah sekarang diakan telah mendapat hukuman dan mendekam di dalam penjara. Itu yang kamu inginkan, bukan? Oh ya, kenapa nama Rudi bukannya Rudi King Jr. melainkan Rudi Anderson?”
“Mungkin nama belakangnya diambil dari nama kakeknya Hans Christian Anderson. Ini aneh! Jerman bukan Matrilineal, tapi Patrilineal. Pasti Dorothy punya alasan yang tepat untuk ini!”
“Itulah yang kupikirkan! Kalau pembunuhmu sudah tertangkap kenapa kamu jadi hantu penasaran! Dan apakah Albert King Jr. tidak begitu sayang pada istrinya, sehingga memilih untuk berbuat sangat jujur seperti ini! Padahal sekolah ini sangat jauh dari keramaian! Lagipula apa alasannya membunuhmu?”
“Entahlah tapi kurasa Rudi sedikit banyak tahu mengenai hal ini!”
“Tenang saja kamu bisa mengandalkan aku. Malam inikan aku tidur sekamar dengannya! Ingat aku sekarang kelas dua!”
“Tidak, sebaiknya kamu tetap disini. Karena nanti malam adalah bulan purnama.”
“Maksudmu aku akan berubah jadi Penny! Oh kenapa harus malam ini?”
“Aku hanyalah hantu! Bukan pengatur alam semesta!” kata Alan. “Bagaimana kalau kita kencan saja malam ini?”
“Kurasa aku tak punya banyak alasan untuk menolak ajakanmu!”
“Aku tunggu kamu di lapangan jam tujuh tepat! Daaa........!” Alan pun menghilang.
***
Malam hari ini sangat indah, cahaya rembulan belum begitu jelas karena tertutup awan hitam dan bintang – bintang bertaburan di angkasa. Pepohonan menari – nari ditiup angin. Lapangan bola Sorbonne Soccer School sepi tanpa ada seorang pun di sana. Tiba – tiba Ruben datang dengan mengenakan baju tidurnya. Dan seketika itu juga Alan berdiri di depannya. “Siap berdansa my princes?” ajak Alan pada Ruben.
“Kamu tentu tak ingin berdansa denganku dalam kondisi seperti ini, bukan?” jawab Ruben. Dia melihat ke langit dan ternyata awan – awan hitam telah berarak meninggalkan sang rembulan. Cahayanya menyinari Ruben, cahaya berwarna biru mengelilingi tubuh Ruben. Pakaian tidurnya berubah menjadi gaun pesta berwarna merah jambu. Rambutnya kembali terurai panjang dan berkilauan dibawah sinar bulan. Sepasang sepatu high heel menempel dikakinya menggantikan sandal yang tadi dipakainya. Wajahnya pun kembali secantik Penny Dombeck.
“Musik!” jentikan jemari Alan menghadirkan alunan musik yang indah ditelinga mereka. “Ayo kesinikan tanganmu!”
“Enggak! Aku nggak suka musik, apalagi berdansa!” ujar Penny.
“Kamu ingin mengecewakan aku?” bujuk Alan. “Ayolah! Mari kuajarkan! Musik itu indah apabila kamu mengerti apa maksudnya.”
“Baiklah! Tapi sekali ini saja!”
“Auuuu........... kamu menginjak kakiku!”
“Maaf! Kan sudah aku bilang, kalo............”
“Sssssh, pegang tanganku dan bayangkan kita sedang melayang di langit luas! Kamu bisa!”
“Akan ku coba!”
Mereka pun berdansa mengikuti irama musik. Saking seriusnya, mereka tak sadar ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. “Maaf sedang apa kamu disini berdansa sendirian di tengah lapangan bola?” tanya pria itu. Tentu saja hal ini membuat Alan dan Penny kaget.
“Rudi!” kata Penny sedikit shock.
“Darimana kamu tahu namaku?” ujar Rudi heran.
“Siapa sih yang tidak kenal dengan Rudi Anderson pewaris Sorbonne Soccer School ini!” jawab Penny. “Kenalkan aku Putri Bulan!”
“Hai Putri Bulan!” sapa Rudi. “Kembali kepertanyaanku tadi, sedang apa kamu disini malam – malam?”
“Aku juga tidak tahu! Tanpa kusadari rembulan itu membawaku kesini!” kata Penny sambil melepaskan tangan Alan dan duduk diatas hamparan rumput. “Mungkin sudah takdir kita dipertemukan malam ini!”
“Nama dan alasan yang bagus untuk menghancurkan kencan kita!” teriak Alan ketelinga Penny dan segera menghilang.
“Tenanglah Alan mungkin ini akan membantumu!” ucap Penny hampir tak terdengar.
Rudi segera menyusul duduk disamping Penny. Dia menatap wajah Penny yang bercahaya di bawah sinar bulan purnama.
“Kamu sangat pintar membual ya!” katanya kemudian.
“Apa?” tanya Penny tercengang.
“Putri Bulan, ha.......... ha........... takdir! Omong kosong!” ejek Rudi. “Katakan saja ingin menarik perhatianku!”
“Jangan ge-er ya! Apa ini cara Rudi Anderson menghormati seorang wanita!”
“Kamu tahu, bukan hanya perhatianku yang tertarik padamu tapi juga hatiku! Apa ini takdirku? Putri Bulan!” pandangan mata Rudi sangat dalam sekali. “Maukah kamu berdansa denganku Putri Bulan? Gitu ya cara menghormati wanita?”
“Yap, kuharap kamu tidak mengejekku lagi!” jawab Penny.
“Setuju!” Mereka pun berdansa di bawah sinar bulan purnama. Alan duduk diatas sebatang pohon sambil melihat ke arah mereka. Amarahnya seakan meluap – luap.
“Ceritakan padaku tentang keluargamu?” pinta Penny.
“Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Ibuku seorang pembunuh, ayahku pria yang gila akan kekuasaan.”
“Kamu yakin ibumu memang seorang pembunuh?”
“Aku tak tahu. Waktu itu aku masih kecil. Oh ya! Kenapa kamu menanyakan itu?”
“Karena mungkin aku bisa membantumu!”
“Lupakan! Semua bukti yang ada menyalahkan ibuku, apalagi di tempat kejadian ditemukan sapu tangannya yang bertuliskan Triple S. Hal itu membuatnya semakin terkekang.”
“Memangnya apa hubungan Triple S itu dengan ibumu?”
“Triple S itu singkatan dari Sorbonne Soccer School, nama yang diberikan ibu untuk sekolah ini. Tapi ayah tidak suka kalau nama sekolah ini disingkat menjadi Triple S. Dan sekarang Triple S itu menjadi sebutan untuk ibuku ‘Si Setan Sadis’.” Tak disangka air mata menetes di pipinya.
“Kamu menangis?”
“Aku rindu pada ibu! Entah kenapa wanita selembut dia diberi sebutan seperti itu.”
“Tenanglah malam akan segera berlalu!”
Tiba – tiba “bruuk” Rudi jatuh tersungkur. “Alan, kamu apakan dia?” tanya Penny panik.
“Seperti yang kamu katakan malam segera beralalu dan kamu..........”. Cahaya biru kembali menyelubungi tubuh Penny dan seketika itu dia kembali berubah menjadi Ruben. Bulan yang tadinya bercahaya hampir menghilang.
“Sebentar lagi pagi! Pegang tanganku! Kita akan sampai di kamarmu dalam beberapa detik”.
“Maaf soal kencan kita!” sesal Penny.
“Sekarang aku tidak ada niat untuk kencan sesama jenis, Ruben!”
3
Matahari bersinar dengan gagahnya. Tak ada seorang siswa pun yang sanggup berada di lapangan pada hari yang cukup panas ini. Tiga orang siswa berjalan menelusuri lorong sekolah. Siapa lagi kalau bukan Rudi, Debbie dan Clive.
“Rud, kamu gimana sih! Katanya nggak bakalan mau sekamar dengan pecundang itu, walaupun dia sudah menyelamatkan kamu!” gugat Debbie.
“Nggak, memang nggak kok!” bantah Rudi.
“Kamu pikir kami buta! Tadi malam kamu itu sekamar sama dia! Dan kalian tampak akur banget!” tambah Clive.
“Kalian ini ngomong apa sih?” tanya Rudi heran. “Oh ya, mungkin dia masuk pas aku pergi! Soalnya semalam aku nggak di kamar!”
“Lantas dimana? Nggak mungkin kami salah lihat!” ujar Debbie.
“Semalam aku ke lapangan, sehabis dari ruang makan. Kalian tahu aku ketemu siapa disana? Aku ketemu sama cewek cantik banget, namanya Putri Bulan. Dia cewek yang sempurna, kami berdansa semalaman! Jadi nggak mungkin aku ada di dua tempat yang berbeda!” jelas Rudi.
Namun setelah mendengar nama gadis itu Debbie dan Clive malah tertawa terbahak – bahak. Tentu saja hal ini membuat Rudi gerang.
“Ada apa sih dengan kalian? Aku nggak lagi ngelawak tau!” ucap Rudi.
“Rud, ini adalah Sorbonne Soccer School! Nggak ada cewek cantik di sini, yang ada juga Nyonya Hyla!” ejek Clive.
“Kamu mimpi kali Rud! Soalnya pas aku mau ke kamar kecil, aku lewat kamar kamu dan aku lihat kamu lagi bercanda gitu sama Ruben!” tutur Debbie.
“Kapan kamu lihat aku?” tanya Rudi tak puas.
“Kira – kira pukul 2 pagi!”
“Bener pukul 2 pagi? Kalau kamu Clive?”
“Aku lihatnya waktu kamu masuk kamar bareng dia, kira – kira pas mulai gelap deh! Soalnya tadi malamkan bulan purnama! Jadi pas purnama habis, aku lihat kamu sama dia!” terang Clive.
“Sorry, Clive kamu ngomongnya berstruktur dong! Aku malah jadi bingung!” kata Rudi menggaruk kepalanya yang ditutupi topi. “Tapi yang jelas aku nggak bohong, baik mengenai si Putri Bulan itu maupun mengenai aku dan Ruben! OK!”
“Kalau begitu jelaskan mengenai barang – barangnya yang ada di kamarmu!” tuntut Debbie.
“Apa? Beraninya dia meletakkan barang – barangnya di kamarku!” kata Rudi dengan penuh emosi. Kemudian dia segera berlari menuju kamarnya. Clive dan Debbie segera menyusulnya dengan senyum dikulum.
***
Setiba di kamarnya, Rudi segera mendobrak pintu kamar tersebut. Dilihatnya Ruben sedang latihan mendribel bola di kamar itu.
“Hati – hati dong! Kalau masuk ketuk pintu dulu!” ketus Ruben dengan suara meninggi.
“Hajar dia Rud!” hasud Clive.
“Heh siapa yang mengizinkanmu untuk tidur di kamarku?” tanya Rudi.
“Mr. Albert King Jr. Dia yang menyuruhku dan bukannya kamu sudah setuju?” jelas Ruben.
“Apa? Ayahmu melakukan itu! Bukannnya kamu diberikan privasi untuk punya kamar sendiri!” ucap Clive.
“Oh ya! Benarkah Mr. Albert memberimu privasi atas kamar ini, Rudi?” gertak Ruben.
“Debbie, Clive, sebaiknya kalian tinggalkan kami berdua! Biar aku sendiri yang mengurusnya!” perintah Rudi pada kedua temannya.
“Tapi Rud!” ujar Debbie cemas.
“Ayo Bie kita pergi!” ajak Clive pada Debbie. Mereka pun meninggalkan Rudi dan Ruben berdua di kamar itu. Tiba – tiba Rudi mendorong Ruben ke dinding.
“Aku minta kamu segera meninggalkan kamar ini! Atau.......!” suara Rudi terhenti dan kepalan tangan kanannya menghantam dinding dengan keras.
“Atau apa? Ingat, ayahmu tak suka ada begitu banyak privasi di sekolah ini! Walau untuk anaknya sendiri!” balas Ruben mengancam. “Dan kamu bohong soal privasi itu pada teman – temanmu, gimana ya kalau mereka sampai tahu kamu adalah pembohong besar!”
“Jangan terlalu banyak ikut campur atau kamu akan menyesal!”
“Sudahlah Rud! Aku bohong soal izin ayahmu dan kamu juga bohong soal privasimu! So satu sama bukan?” jelas Ruben. “Aku tahu kamu tak ingin rahasiamu ini terbongkar!”
“Katakan apa maumu bajingan!”
“Hanya kamar yang hangat ini!”
“Kamu dapatkan kamar ini dan jangan banyak omong!” kata Rudi berjalan meninggalkan Ruben dan membanting pintu kuat – kuat.
“Kamu tidak apa – apa?” tanya Alan yang muncul di sudut kamar seiring dengan perginya Rudi.
“Kamu lihatkan dia tidak berani memukulku!” ucap Ruben berbangga diri.
“Hebat! Kamar ini jadi milikmu sekarang! Ternyata sangat mudah bagimu!” puji Alan sambil mengusap kepala Ruben.
“Ah kalau kamu tidak memakai raganya semalam, mungkin aku tak bisa masuk ke sini!” aku Ruben. “Dan ternyata dia benar – benar takut pada ayahnya!”
“Kamu pernah bicara dengan Albert King Jr. sebelumnya?”
“Tidak. Tapi firasatku mengatakan kami akan segera bertemu! Walaupun dia selalu di ruangannya!”
“Pria yang aneh!”
“Pantas dicurigai bukan!”
“Entahlah!”
***
Suasana perpustakaan Sorbonne Soccer School, sangat tenang sekali. Tak ada siswa yang berani berbicara keras – keras dalam ruangan ini. Ruben sedang mencari buku – buku yang ditugaskan pak Richard padanya. Apalagi kalau bukan masalah morfologi bola. Tiba – tiba Jim Duffy, teman sekelasnya muncul.
“Hai, Ruben! Kabarnya kamu diperbolehkan Rudi tidur di kamarnya, benar nggak sih?” bisik Jim sambil duduk disamping Ruben.
“Ya seperti yang kamu lihat!” balas Ruben. “Aku keluar dulu ya! Soalnya buku yang ku cari telah kudapatkan!”
“Aku ikut!”
“Ayo!”
Mereka berdua pun beranjak dari perpustakaan dengan segera. Mereka berjalan beriringan menuju taman sekolah yang terletak tepat di depan perpustakaan.
“Ben, apa rencanamu untuk liburan musim dingin ini?”
“Nggak ada!”
“Apa kamu nggak mau ikut ke Hawaii ?”
“Hawaii? Yang benar? Kalau gitu aku ikut dong! Gimana caranya?”
“Ayo segera mendaftar pada nyonya Hyla!” ajak Jim.
“Dimana dia sekarang?”
“Biasa, paling juga di kantornya! Cepat temui dia, sebelum kamu kehilangan kesempatan ini! Soalnya sekolah hanya menyediakan 50 tiket!”
“Kalau gitu aku pergi dulu ya!” kata Ruben seraya beranjak meninggalkan Jim.
***
“Penny, kenapa kamu kelihatan murung?” tanya Alan pada Penny yang sedang duduk di pinggir kolam.
“Aku nggak bisa pergi ke Hawaii, soalnya aku nggak punya uang! Apa kamu bisa bantuin aku, Alan?” tanya Penny penuh harap.
“Mengapa harus aku?”
“Lantas siapa lagi?”
“Kamu kan punya kakak yang sangat menyayangimu!”
“Mark, ya kamu benar! Aku akan segera menghubunginya!” Penny pun bergegas menuju telepon sekolah.
“Hallo, bisa bicara dengan Mark Dombeck? Ini dari adiknya Penny!”
“Maaf, tuan Mark sedang tidak ada di tempat!” mendengar jawaban itu Penny langsung menutup teleponnya.
“Sudah kuduga, Mark tidak ada. Dia terlalu sibuk! Ada jalan lain nggak sih? Kamu kan hantu jenius!” ujar Penny yang sedang gelisah.
“Mark, bukan satu – satunya kakakmu kan?”
“Maksudmu Nathan, ogah ah! Dia itu nyebelin banget, boro – boro mau minta bantuan!”
“Apa salahnya dicoba?”
Penny pun menekan nomor telepon rumahnya dan berharap Nathan ada di rumah. “Hallo!”
“Ya hallo, kediaman keluarga Dombeck disini! Ada yang bisa saya bantu?” suara itu bergema dari telepon merambat menuju gendang telinga Penny.
“Nathan, kamukah itu?”
“Siapa ini?” tanya Nathan kaget.
“Aku........... aku Penny! Mungkin kamu tidak percaya karena suaraku berubah, tapi aku benar – benar Penny! Kumohon bantulah aku!”
“Maaf suaramu kurang jelas, Penny!”
“Hallo Nathan!”
“Ya, apa katamu tadi?”
“Aku butuh uang, tidak banyak cuma 500 Dollar!”
“Kemana aku harus mengirimnya?”
“Ke Sorbonne Soccer School, Stuttgard, Jerman untuk Ruben Rhodnius! Kamu tahu kan alamatnya!”
“Oke, besok uangnya akan sampai! Ada lagi?”
“Kamu baik sekali! Terima kasih Nathan!”
“Sudah dulu ya! Aku lagi sibuk nih!” Nathan pun memutuskan teleponnya.
“Alan, rasanya ada yang aneh dengan Nathan. Kok dia baik gitu ya sama aku!” ucap Penny heran.
“Dia kakakmu bukan?”
“Tentu saja, tapi dia kan kurang perhatian padaku. Yang ada di otaknya cuma biola doang!”
“Udah, yang penting kamu bisa pergi liburan!”
“Kamu benar! Aku ke ruang makan dulu ya!”
“Tunggu! Kelihatannya ada yang butuh bantuan!”
“Siapa?”
“Lihat di daftar siswa yang akan pergi liburan itu! Nama Rudi Anderson juga belum pasti ikut!”
“Mungkin dia nggak suka Hawaii!”
“Nggak mungkin! Rudi belum gila sehingga dia menolak berlibur ke Hawaii bareng teman – temannya.”
“Atau mungkin..........”
“Masalahnya sama denganmu!”
“Albert King Jr. menghalanginya pergi! Apa alasannya?”
“Tanyakan padanya, itu dia datang!” bisik Alan sambil menghilang dari hadapan Penny.
“Sore pak!” sapa Penny kepada Albert yang berlalu begitu saja dihadapannya tanpa menghiraukan sapaan Penny. “Pak, tunggu! Saya mau tanya apa anda yang membuat Rudi tak jadi pergi?”
“Apa urusanmu anak kecil!” langkah Albert terhenti mendengar perkataan Penny.
“Anda ayah yang kejam, Rudi temanku! Jadi aku ingin dia bahagia. Anda juga tahu bukan kalau sekolah ini sangat membosankan bagi anak – anak seusia kami. Kami butuh liburan, tapi anda mengekang Rudi seperti itu!”
“Kamu tidak mengerti, aku adalah seorang ayah! Aku ingin sekali bisa menghabiskan musim dingin ini bersamanya. Hanya aku dan dia. Bermain ice-skating di atas hambaran es, bermain bola salju, apa itu kejam?”
“Pak, anda pernah jadi remaja bukan? Aku yakin di masa itu, anda lebih ingin bersama teman – teman, bukan bersama ayah anda! Kumohon izinkan Rudi pergi! Bukankah rasa sayangnya pada anda akan bertambah jika anda mengerti apa yang menjadi keinginannya!”
Namun Albert King Jr. tidak mempedulikan perkataan Penny, dia terus saja melangkah menuju kantornya. Tentu saja hal ini membuat Penny putus asa, karena usahanya tak berarti apa – apa.
***
Hari pertama di musim dingin, butir – butir salju turun menghujani atap Sorbonne Soccer School. Lapangan hijau yang dulunya hijau, telah memutih akibat salju yang turun.
“Anak – anak cepat naik ke atas bis! Kita akan segera berangkat!” perintah nyonya Hyla kepada semua siswa yang akan liburan ke Hawaii. Siswa – siswa itu pun mematuhi apa yang diperintahkan nyonya Hyla pada mereka. Wajah gembira mengiringi langkah mereka, karena banyak diantara mereka yang belum pernah ke Hawaii. Namun hal ini berbeda sekali dengan Clive dan Debbie. Mereka berdua menaiki bis dengan wajah muram.
“Debbie, Clive, tunggu aku!” seru seorang anak lelaki yang sedang berlari menuju mereka berdua.
“Rudi!” sorak mereka berdua melihat teman akrabnya datang menghampiri.
“Kamu bukan hanya ingin mengantar kan?” tanya Clive.
“Tentu saja tidak. Liburan musim dingin ini takkan menyenangkan tanpa aku!” ujar Rudi melangkahkan kakinya ke atas bis. “Apa yang kalian lihat ayo berangkat guys!”
“Ayo!” mereka berdua pun segera menyusul Rudi. Perjalanan menuju Hawaii pun dimulai. Bis melaju dengan kencangnya menuju bandara. Dari bandara mereka semua dibawa terbang menuju pulau impian, Hawaii.
***
“Haloha! Selamat datang di pulau impian, Hawaii!” sapa para penari sambil mengalungkan rangkaian bunga di leher setiap siswa.
“Asyik, kita sudah sampai di Hawaii!” teriak Clive.
“Ssssh, jangan kampungan Clive! Jaga images kita!” bisik Debbie.
“Maaf tuan – tuan silahkan chek-in dulu!” ucap seorang pria yang mendadak berdiri diantara mereka. Setelah chek-in, semua siswa pun segera menuju kamar mereka masing – masing. Karena perjalanan dari Stutgard ke Hawaii sangat melelahkan.
Setibanya di kamar Clive, Debbie dan Rudi tak langsung istirahat. Soalnya mereka masih ingin berbincang – bincang mengenai izin ayahnya Rudi.
“Rud, kok bisa sih ayahmu merubah keputusannya?” tanya Debbie penasaran.
“Ini semua berkat kalian! Kan kalian yang membujuknya!” ujar Rudi santai.
“Kita! Emangnya kita bilang apa sama pak Albert, Bie?” ucap Clive bingung.
“Nggak tahu! Apa sih maksud kamu Rud?” tambah Debbie.
“Lho kok kalian malah bingung! Kalau bukan kalian yang membujuknya, siapa lagi?” sahut Rudi.
Tok..... tok...... tok......... tiba – tiba seseorang mengetuk pintu kamar mereka.
“Masuk!” seru Rudi.
“Maaf tuan, ini makanan terbaik kami dan selamat datang di Hawaii!” ujar seorang pelayan hotel sambil membawa tiga nampan berisi makanan enak – enak.
“Oh ya pak! Ada acara apa saja malam ini!”
“Seperti biasanya ada pesta pantai! Kalau tuan ingin bergabung, tuan bisa datang saja ke tepi pantai nanti malam!” jawab pelayan itu. “Ada lagi tuan?”
“Tidak, terima kasih!” mendengar ucapan Rudi tersebut si pelayan pun pergi dari kamar mereka. “Gimana kalian mau ikut pesta pantai nggak?”
“Aku capek, ada hal – hal yang mengasyikkan menantiku esok!” jelas Clive seraya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
“Kalau kamu Bie?”
“Kapan sih aku bakal biarin kamu sendirian Rud!”
“Itu baru temanku!”
***
Malam pun datang, pesta pantai dimulai. Semua orang merasakan kebahagian yang tak terhitung. Hal ini terlihat dari gelak tawa antar sesama mereka. Makanan berjejer dengan setia menanti penikmat mereka yang akan datang.
“Malam yang indah bukan!” kata Debbie mengawali pembicaraan mereka.
“Ya, bulan dan bintang menari – nari diangkasa! Aku jadi ingat sekolah kita!” jawab Rudi sambil memandang ke langit lepas. “Aku berharap dia ada disini!”
“Siapa? Putri Bulan?”
“Tak bisa kuingkari, aku rindu padanya!”
“Kenapa kamu tidak tidur saja, mungkin kamu bisa bertemu dengannya!”
“Kita sudah membahas ini bukan?”
“Baik, aku percaya dia nyata! She is real!” tegas Debbie. “Aku haus! Kamu mau minum juga!”
“Tidak kamu saja! Aku mau jalan – jalan ke sana sebentar!”
“Oke!” Debbie pun bergegas meninggalkan Rudi menuju tempat minuman.
Rudi juga mulai berjalan melewati kerumunan orang ramai. Tiba – tiba matanya tertuju terhadap seorang gadis yang sedang duduk sendirian di atas hamparan pasir berkilauan.
“Putri!” serunya pada wanita itu. Wanita itu pun menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
“Hai, Rud! Sendirian?” sapanya pada Rudi.
“Apa aku mimpi, bertemu kamu disini, di Hawaii!”
“Rembulan itu yang membawaku kesini! Dia bilang kamu sedang kangen padaku!”
“Oh ya, tadi sebelum kamu ke sini, kamu lihat ayahku nggak?”
“Tentu saja. Dia sedang mencemaskanmu!”
“Benarkah? Sampai sekarang aku nggak tau, siapa orang yang meminta ayahku untuk mengizinkanku liburan!”
“Kamu mau tahu siapa orangnya?”
“Ya, siapa?”
“Kamu sendiri, karena rasa cintanya yang begitu besar padamu. Dia mencabut larangannya!”
“Dia sayang padaku? Nggak mungkin!”
“Nggak percaya ya udah!” ucap Penny sambil mencipratkan air laut ke wajah Rudi.
“Awas kamu ya!” teriak Rudi sambil mengejar Penny.
“Rudi!” seseorang memanggilnya dari jauh. Mendengar panggilan itu Rudi segera menghampiri orang yang memanggilnya.
“Ada apa, Bie?”
“Ini sudah waktunya kita pulang!” jelas Debbie.
“Tunggu, aku punya kejutan untukmu! Putri........ Putri.......! Kamu dimana?”
“Rudi, ayo pulang!”
“Tadi aku beneran ketemu Putri Bulan, Bie!”
“Aku percaya! Tapi udah malam Rud!” Debbie pun menarik tangan Rudi menuju hotel mereka.
***
Pagi harinya hampir semua siswa menghabiskan waktunya di pantai. Ada yang main sepak bola, voli pantai, surfing dan lain sebagainya. Tapi tidak begitu dengan Ruben, dia malah berjemur ditengah teriknya matahari.
“Rud, lihat tuh si banci!” ejek Clive seraya menunjuk ke arah Ruben. Namun Rudi tidak memperhatikannya, sehingga membuat Clive kesal. “Hey, kamu kenapa Rud!”.
“Nggak apa – apa, kamu bilang apa tadi!”
“Apa kamu masih memikirkan putri khayalanmu itu!”
“Dia nyata!” teriak Rudi yang kemudian pergi meninggalkan Clive. Ruben yang sadar akan teriakan Rudi segera menghampiri Clive.
“Ada apa? Kelihatannya kamu membuatnya marah lagi ya!” seru Ruben dengan irama mengejek.
“Sialan kamu!” katanya sambil mendorong Ruben sekuat – kuatnya. Sehingga Ruben menabrak seorang wanita yang sedang membawa segelas jus. Tentu saja wanita itu marah pada Ruben. Melihat hal itu Clive segera pergi meninggalkan mereka.
“Maaf nona, sungguh saya tidak sengaja!” ujar Ruben.
“Maaf! Kamu pikir bisa membersihkan bajuku ini hanya dengan kata maaf!” jawab wanita itu.
“Victoria! Kamu victoria!”
“Ya! Kamu siapa kok kenal namaku!”
“Aku Ruben Rhodnius! Kamu temannya Penny bukan?”
“Kamu juga kenal Penny, Penny teman terbaikku!”
“Tentu saja Penny adalah pacarku. Dan dia banyak sekali cerita tentang kamu!”
“Mana dia sekarang? Aku benar – benar rindu padanya!”
“Dia lagi belajar di Boston!”
“Kamu bercanda! Semalam kalau nggak salah aku melihat dia duduk di tepi pantai, tapi nggak sama kamu!”
“Kamu salah lihat kali! Udah, gimana kalo aku ganti minuman kamu itu!”
“Aku nggak mau minum, gimana kalo makan lobster!”
“Setuju! Ternyata makanan favoritmu masih seperti dulu ya!” Mereka pun berjalan menuju sebuah kafe yang tak jauh dari sana. “Kamu lagi sibuk apa?”
“Sekarang aku wartawan lho! Dan tugasku kali ini meliput kegiatan anak – anak Sorbonne Soccer School yang lagi liburan di Hawaii.”
“Kebetulan aku ini salah satu diantara mereka!”
“Oh ya! Kalo gitu kamu kenal Debbie dong!”
“Ya iyalah! Kami kan satu kelas!”
“Asal kamu tahu aja, Debbie itu mantan pacarku yang ke 9, setelah kakaknya Penny, Nathan.”
“Jadi sehabis putus sama Nathan kamu jadian sama Debbie! Kok kamu putus lagi?”
“Soalnya aku mau meniti karir dulu, begitu juga dengan dia!” Pembicaraan mereka berlangsung seru sekali.
***
“Clive, kamu dari mana?” tanya Debbie yang terlihat capek setelah berselancar.
“Gawat Bie! Gawat!”
“Gawat kenapa? Kamu kenapa sih?”
“Victoria, mantan pacar kamu itu, tadi aku lihat dia lagi jalan sama Ruben! Pantas dia mutusin kamu, ternyata dia ada main sama Ruben!”
“Apa? Sialan si Ruben! Mana dia sekarang?”
“Di kafe itu tuh! Ayo Bie, ini kesempatan kamu untuk melabrak mereka berdua!”
Debbie pun segera melangkah ke arah yang ditunjukkan Clive. Dia sangat kaget melihat Victoria sedang bersenda gurau bersama Ruben.
“Victoria!” teriaknya pada Victoria.
“Hai Debbie! Mari bergabung kami menanti kehadiranmu sejak tadi!” jawab Ruben berdiri dengan santai mempersilahkan Debbie duduk.
Namun Debbie tidak menghiraukan ajakan Ruben dan langsung meninjunya, sehingga tubuh Ruben terhempas pada dinding kafe. Tiba – tiba Alan berdiri disamping Ruben dan masuk ke dalam raganya. Alan yang sekarang berada dalam tubuh Ruben segera membalas pukulan Debbie. Darah pun berhamburan dari hidung Debbie, dan dia juga kembali balas memukul. Clive gemetar melihat perkelahian itu. Debbie terdesak, dia tidak mampu mengalahkan Ruben. Lalu diambilnya sebuah botol kaca dan “Praak”, Debbie memukulkannya ke tonggak kafe. Dengan pecahan kaca botol itu Debbie kembali menyerang Ruben. Dada Ruben pun tak mampu luput dari sayatan kaca itu.
“Stop! Stop!” teriak Victoria yang ingin menghentikan perkelahian mereka. Mendengar temannya sedang berkelahi, Rudi secepatnya berlari ke tempat kejadian. Setibanya disana dia segera melerai mereka berdua.
“Debbie, Ruben, hentikan! Berhenti kataku!” mendengar hardikan Rudi mereka berdua berhenti berkelahi. “Jangan seperti anak – anak! Ingat kita kesini untuk liburan bukan untuk berkelahi!”
Melihat Rudi telah datang, Alan pun keluar dari tubuh Ruben. Namun kondisi Ruben tidak memungkinkan dirinya untuk berdiri, tubuhnya tersungkur tak bertenaga.
“Ruben!” seru Victoria histeris.
***
“Oh kepalaku! Victoria kamu sedang apa disini!” tanya Ruben ketika bangun dari pingsannya.
“Aku hanya menjengukmu! Soalnya dari kemaren sore sampai pagi ini kamu tak sadarkan diri! Ini minum jusmu, biar kamu cepat sembuh!” jelas Victoria sambil duduk di atas kursi yang terletak di samping tempat tidur Ruben.
“Bajuku! Mana bajuku?”
“Kemaren Rudi yang membuka bajumu ini, supaya dia bisa mengobati luka di dadamu itu!” kata Victoria menunjukkan bajunya yang berlumuran darah. “Maaf ya, gara – gara aku kamu jadi bertengkar dengan Debbie! Tapi sekarang kamu tenang aja aku sudah menjelaskan semua ini pada Debbie, kalo diantara kita memang tidak ada apa – apa! Mana mungkin aku akan mengambil pacar temanku sendiri!”
Tiba – tiba pintu kamar Ruben terbuka, “Gimana Victoria dia sudah sadar apa belum?” tanya Rudi sambil menutup pintu kembali.
“Aaaaaaaa....., nggak lihat apa orang lagi nggak pake baju!” teriak Ruben sambil menarik selimutnya ketika melihat wajah Rudi yang muncul di balik pintu. “Kalo mau masuk ketuk pintu dulu dong!”
“Eh! Kamu pikir aku doyan sama kamu! Ih najis tau! Asal kamu tau aja, aku kesini cuma mau ngambil jaketku yang ketinggalan!” ujar Rudi mengambil jacketnya, lalu pergi.
“Kamu gimana sih Ben! Teman datang bukannya disambut dengan baik, malah kamu maki – maki! Padahal dia udah capek – capek bantuin kamu!” ucap Victoria. “Lagian kamu sama diakan sejenis, kalo sama aku baru kamu malu! Atau jangan – jangan.......!”
“Jangan – jangan apa? Kamu jangan negativ thinking dong! Aku pria sejati!”
“Apa buktinya?” tanya Victoria mendekapkan kepalanya di dada Ruben.
“Auuu...! Sakit!” rintih Ruben.
“Ih kamu nyebelin banget sih! Padahal Penny nggak adakan disini! Katanya laki – laki sejati!”
“Dapat percaya, setia dan bertanggung jawab, itulah laki – laki sejati untukku!”
“Penny benar – benar memilikimu seutuhnya, sampai – sampai persepsi kalian tentang laki – laki sejati pun sama. Hey kalung bulan sabit itu punya Penny, bukan?”
“Ya, ini tanda cinta kami berdua. Baguskan?”
“Kok Penny bisa memberikannya padamu? Diakan sangat sayang sekali pada kalung itu! Oh god, sorry aku harus pergi shooping dulu! Kamu mau nitip sesuatu nggak?”
“Nggak usah! Aku nggak butuh apa – apa kok!”
Victoria pun pergi meninggalkan Ruben seorang diri di kamarnya. Ruben segera beranjak dari tempat tidurnya untuk berganti pakaian. Kemudian dia beranjak dari kamarnya. Dia terus berjalan tertatih – tatih keluar dari hotel, dilihatnya Ling sedang duduk sendirian sambil membaca komik di lobi hotel.
“Hai, Ling kamu sendirian saja? Apa kamu tidak mau bergabung dengan teman – teman yang lain!”
“Kamu juga, kenapa nggak ke pantai?”
Ruben heran mendengar jawaban Ling yang polos, “Jadi kamu tidak tahu apa yang terjadi padaku dan Debbie kemaren sore!”
“Nggak, emangnya ada apa? Tapi bisa kuterka, kalian berkelahikan? Apalagi kalau bukan itu, mereka memang selalu berbuat onar! Dan itulah alasannya aku tidak mau ikut ke pantai!”
“Ya, aku cukup setuju denganmu! Oh ya kamu baca komik apa itu?”
“Kamu tidak akan mengerti, ini komik dari Jepang. Lihat bahasanya, bahasa Jepang! Judulnya Captain Tsubasa, dari kecil aku sangat senang membacanya!”
“Apa hebatnya Captain Tsubasa itu?”
“Tendangan jarak jauhnya dan rasa persahabatannya yang tinggi! Aku ingin sekali seperti dia!”
“Menurutku kamu bisa lebih dari dia, coba lihat dirimu di cermin itu! Bayangkan seperti apa yang kamu mau! Karena terkadang kenyataan itu sangat pahit, jadi lebih baik berimajinasi! Gimana?”
“Aku melihat kalo aku sedang memegang piala dunia, warnanya kuning keemasan, semua orang mengelu – elukan namaku!”
“Kalau aku melihat diriku dalam wujud yang sebenarnya!”
“Maksudmu?”
“Bukan apa – apa, sudah lupakan yang tadi! Sekarang ikut aku yuk! Biar aku mentraktir kamu makan! Mau nggak?”
“Boleh! Makasih ya Ben mau jadi temanku!”
“Santai aja lagi!” Mereka berdua berjalan berdampingan menuju restoran hotel. Tiba – tiba Debbie dan Rudi muncul dihadapan mereka.
“Ben, maafin sikap aku yang kemaren ya! Aku terlalu cemburu makanya....” ucap Debbie mengawali pembicaraan.
“Udahlah Bie, harusnya aku yang minta maaf! Jujur aku nggak bermaksud untuk mendekati Victoria!” balas Ruben.
“Ya, Victoria sudah menjelaskan semua!” ujar Debbie. “Ngomong – ngomong kalian mau kemana?”
“Kami rencananya mau ke restoran. Kalian mau bergabung!” ajak Ruben.
“Oh makasih baget, kami udah kenyang!” sahut Rudi. “Kalau gitu ayo Bie! Kita masih punya banya urusan!”
Rudi dan Debbie segera beranjak pergi. Sementara itu Ling dan Ruben melanjutkan perjalanan mereka menuju restoran.
“Ada apa dengan kalian berdua? Kok bisa – bisanya kalian minta maaf pada si banci itu?” tanya Clive ketika melihat Rudi dan Debbie barusan menemui Ruben.
“Bukan ideku! Itu kemauan Debbie sendiri, iyakan Bie?” ujar Rudi.
“Yap, aku nggak mau Victoria jadi benci padaku, hanya karena kesalah pahaman yang bodoh! Ruben adalah pacar teman baiknya, jadi kalau aku menyakiti Ruben sama aja aku menyakiti Victoria, dan aku tidak sanggup menyakiti wanita yang kusayangi!” jelas Debbie.
“Terserah kamulah! Asal kamu tahu saja Victoria itu tak pantas untuk dicintai!” sahut Clive. “Laki – laki baginya hanya sebagai mainan! Dia itu cewek munafik!”
“Aku nggak seburuk itu Clive! Mungkin aku pernah punya lebih dari satu pacar, tapi aku nggak ingin menjadikan mereka semua mainan!” isak Victoria kemudian berlari meninggalkan mereka bertiga.
“Victoria tunggu!” teriak Debbie. “Bajingan kamu Clive!”
“Udah Bie! Nggak usah berantem gara – gara cewek lagi! Aku bosan melihat tingkah laku kalian! Kita pernah hancur akibat seorang wanita, jangan ulangi kesalahan itu lagi! Ayo bermaafan!” bujuk Rudi.
“Sorry Rud, kali ini aku nggak bisa memaafkan dia! Aku mencintai wanita yang real, dan aku nggak mau seperti kamu yang hanya melihat wanitamu di dalam mimpi!” ujar Debbie beranjak pergi.
“Debbie!” seru Rudi. “Lihat Clive! Lihat apa yang kau perbuat! Huh!”
“Maaf! Aku salah!” ujar Clive tertunduk lesu.
***
Ruben yang sedang asyik makan bersama Ling melihat Victoria sedang menangis sendirian di tepi pantai. Merasa kasihan, Ruben pun berniat menghampirinya.
“Ling, aku kesana dulu ya!” ucap Ruben.
“Trus, makanan kamu nggak kamu habiskan?” balas Ling.
“Ambil aja kalau kamu mau!” Ruben pun keluar dari restoran, berjalan tertatih – tatih menghampiri Victoria. “Nih, hapus air mata kamu itu!” katanya sambil menyodorkan sehelei sapu tangan.
Victoria segera mengambil sapu tangan yang diberikan Ruben untuknya. Namun dia tetap diam seribu bahasa, Ruben pun duduk disampingnya.
“Hidup ini bukan untuk ditangisi. Air matamu memang seutuhnya milikmu, setiap tetesnya mengandung jutaan atom hidrogen dan oksigen yang sekarang sedang meminta belas kasihanmu untuk . . .”
“Untuk tetap berada dalam tubuhku! Kamu menghapal semua kalimat Penny ya?” kata Victoria cemberut.
“Kamu juga selalu ingat dengan perkataannya! Makanya jangan bersedih lagi! Satu kesulitan akan kalah dengan dua kemudahan!”
“Tapi aku nggak bisa melupakan apa yang telah terjadi! Aku pengen nangis!” isak Victoria di dada Ruben.
“Aa... terserahlah!”
“Andai kamu belum jadi milik Penny! Andai kita dipertemukan lebih awal! Andai...!”
“Ssssh. . . yang lalu biarlah berlalu, hari ini milik kita, masa depan akan datang sendiri, jadi buat apa bersedih!”
“Kok kamu mulai seperti Nathan, sok puitis!”
“Nathan?”
“Ya, Nathan adalah masa laluku yang tak sanggup untuk kulupakan! Tapi kayaknya kalau aku ingat dia, aku malah bahagia bukannya bersedih! Dia lucu, humoris, hanya alergi sama wartawan.”
“Mark, juga gitu! Aku aja sampai sebel melihat mereka berdua! Apalagi Papa dan Mama!”
“Papa dan Mama?”
“Maksudku tentu saja Papa dan Mamanya Penny!”
“Oooo... makasih ya udah menghiburku! Udah sore aku jalan dulu! Oh ya, besok pagi mungkin aku tidak ada disini lagi! Soalnya aku harus berangkat ke Mesir, maklum aku kan wartawan sibuk! Titip salam buat Debbie ya, buat Rudi juga!”
“Aku juga akan berangkat besok! Tenang saja akanku sampaikan pesanmu itu!” ucap Ruben seraya melambaikan tangannya pada Victoria.
“Gimana keadaan kamu sekarang?” tanya Alan yang mendadak berdiri di belakangnya.
“Seperti yang kamu lihat!” jawab Ruben lugas. “Kemana saja kamu selama ini?”
“Di Hawaii, menemani Penny yang sedang berlibur!”
“Bohong! Kamu tidak pernah di sisiku, kamu tak pernah muncul menemuiku, kamu jahat!”
“Aku selalu di sisimu, hanya saja kamu yang tak pernah mau melihatku! Kamu terlalu asyik bersama Rudi!”
“Bukannya itu yang kamu inginkan! Apa aku salah kalau . . .”
“Awalnya aku memang memintamu dekat dengannya dan mengorek semua keterangan tentang triple S, tapi yang kulihat kalian malah pacaran!”
“Alan! Kamu tidak berhak mencampuri perasaanku, aku mau menolongmu bukan berarti kamu menguasai diriku sepenuhnya!”
“Itu artinya kamu tidak mau menolongku, kamu hanya ingin selalu berada disamping Rudi. Aku memang sudah mati, namun apa salah kalau aku ingin mengetahui pembunuhku yang sebenarnya?” ujar Alan tertunduk.
“Aku tidak bermaksud begitu, Alan maafkan aku! Mungkin aku terlalu egois, memikirkan diri sendiri. Aku janji kalau akan terus membantumu!”
“Jangan pernah lakukan ini semua karena kamu kasihan padaku!” ucap Alan menghilang di hadapan Ruben.
“Maafkan aku Alan! Aku hanya ingin kembali jadi Penny lagi!” kata Ruben terhenyak.
“Hai Ben, kenapa kamu bicara sendirian?” sapa Debbie.
“Kamu mendengar pembicaraanku?”
“Sedikit, kamu tadi kudengar menyebut nama seorang gadis, kalau nggak salah namanya Penny bukan?”
“Ya, dia itu pacarku. Temannya Victoria, aku rindu sekali padanya.”
“Dimana dia sekarang?”
“Dia sedang kuliah di Boston. Oh ya, Victoria tadi titip salam buat kamu soalnya dia mau berangkat besok!”
“Victoria bilang apa saja tadi?”
“Dia cuma nangis doang! Emang ada apa sih?”
“Lagi – lagi Clive bikin masalah, semuanya ini gara – gara dia!”
“Kalian kan sudah lama berteman, jadi aku yakin kamu sudah hafal watak Clive. Jadi nggak perlu dipermasalahkan, kalau soal Victoria, dia nggak bakal marah sama kamu kok! So, santai aja lagi!”
“Makasih ya Ben! Kamu benar – benar baik! Walau aku sering jahilin kamu, kamu tetap saja tidak berubah! Aku jadi malu pada diriku sendiri!”
“Udah, biasa aja lagi. Kamu juga orang baik kok Bie! Apa sekarang kita bisa jadi teman?”
“Why not!”
***
Bulan tak henti – hentinya bersinar di malam ini menerangi kebahagian semua orang. Apalagi malam ini adalah malam terakhir bagi siswa Sorbonne Soccer School di Hawaii. Sejak tadi Rudi terus berdiri di tepi pantai dan memandang lurus ke arah laut.
“Apa yang kamu pikirkan!” bisik Penny sambil berdiri disampingnya.
“Kamu!” jawabnya singkat.
“Gombal! Ini malam terakhir kamu disini, apa tak ingin membelikan sesuatu untuk ayahmu!”
“Nggak penting!”
“Ayolah Rud!” desak Penny.
“Stop! Manja banget sih!” hardik Rudi.
“Rud. . . kamu bilang aku manja! Apa aku salah kalo. . . ngajak kamu beli sovenir?” isak Penny.
“Putri jangan nangis dong! Aku nggak marah kok sama kamu! Baiklah kita beli sovenirnya dimana?
“Ada banyak tempat yang menjual berbagai sovenir bagus!” Rudi pun ikut saja ketika Penny menarik tangannya. Tiba – tiba seseorang menabrak Penny hingga dia tersungkur. Penny pun merintih kesakitan.
“Maaf – maaf, sungguh saya tidak sengaja!” ujar orang itu.
“Kamu nggak apa – apa, Putri? Apa perlu aku membawa kamu ke rumah sakit?” tanya Rudi cemas.
“Ha . . . ha . . . ha . . . !”
“Kok kamu malah tertawa?”
“Aku bohong, nggak sakit tau!”
“Awas ya, kalau kamu bohong lagi!”
“Ayo kita beli sovenir!” Mereka pun membeli berbagai sovenir yang bagus -bagus.
Keesokan paginya mereka pun bergegas menuju bandara. Pesawat segera tinggal landas ketika semua siswa telah naik ke atas pesawat, meninggalkan pulau Hawaii dengan penuh suka cita. Selamat tinggal pulau seribu kenangan!
4
“Akhirnya kita pulang!” seru Jim ketika melangkah keluar dari bis yang mengantar mereka kembali ke Sorbonne Soccer School. Ucapan Jim pun disambut dengan sorak gembira dari semu siswa.
“Welcome back!” sapa nyonya Hyla.
“Hai nyonya Hyla!” jawab mereka serentak sambil berlari menuju gerbang Sorbonne Soccer School yang terbuka lebar menanti kedatangan mereka semua. Salju yang memutih mulai mencair, daun – daun yang baru kembali tumbuh serta bunga – bunga pun bermekaran. Hawa nan dingin seakan – akan memberi warna berbeda untuk mereka di pagi ini. Senyuman manis nyonya Hyla, wangi Sorbonne Soccer School, kicauan burung, menambah rasa senang mereka kembali lagi ke sini. Albert King Jr. terlihat telah siap menanti kedatangan putranya, Rudi Anderson. Rudi yang berjalan Mathew sangat kaget melihat ayahnya sangat riang menyambut kedatangannya.
“Bagaimana perjalananmu boy?” tanya Albert pada putranya.
“Wonderful! Aku sangat menikmatinya! Kalau Papa gimana liburannya?” balas Rudi.
“Tak kalah menyenangkan dari liburanmu, karena ada seseorang yang datang menghiburku!”
“Siapa? Nyonya Hyla?”
“Aku Rudi.” jawab seorang wanita keluar dibalik pintu gerbang. “Masih ingat aku nggak?”
“Kakak!” ucap Rudi kaget dan wanita itu pun segera berlari memeluk Rudi. “Apa – apaan sih? Kamu pikir aku kangen sama kamu! Nggak pernah tau!”
“Oh ya, kamu pasti lapar kan? Kakak udah masak ayam panggang kesukaan kamu! Yuk!” ujar wanita itu seperti tidak mendengar perkataan Rudi yang kasar.
“Peduli amat!” hardik Rudi pada wanita itu tanpa belas kasihan. Mendengar perkataan Rudi tersebut, wanita itu tak sanggup membendung air matanya.
“Sudahlah Tania! Diakan masih kecil, belum tahu apa – apa!” jelas Papanya.
“Bukan itu masalahnya Pa, tapi sejak Mama dipenjara dia menganggapku sebagai musuh! Padahal aku sangat sayang sama dia!” sahut Tania.
“Jangan terlalu dipikirkan! Gimana kalau kita makan ayam panggangnya sekarang? Papa udah lapar nih!”
“Setuju! Yuk Pa!”
***
“Rud, Clive, aku mau minta maaf soal kejadian di Hawaii! Sorry banget ya!” ungkap Debbie di hadapan Clive dan Rudi. “Kita bisa jadi teman lagi kan?”
“Udahlah Bie, aku sudah melupakan semuanya dan kita akan selalu jadi teman!” jawab Rudi merangkul sahabatnya itu.
“Bagus deh kalau kamu sudah sadar Bie!” sahut Clive dengan nada mengejek.
“Clive, tolonglah ubah tabiatmu yang seperti itu! Bagaimanapun Debbie tetap teman kita apapun yang terjadi!” nasehat Rudi.
“Oke! Aku juga minta maaf sama kamu Bie! Asal kalian tau, aku nggak bisa kayak gini tanpa kalian!” aku Clive.
“Mari bersulang untuk persahabatan kita!” sorak Debbie. Mereka pun bergembira bersama.
“Oh ya Rud, cewek cantik tadi itu siapa kamu sih?” tanya Clive tiba – tiba.
“Tania King Jr. kakakku sendiri! Emangnya kenapa?” balas Rudi bertanya.
“Maaf ya Rud, tapi aku sedikit janggal dengan nama belakang kalian berdua, kakakmu King Jr, kok kamu Anderson sih?” ujar Debbie.
“Nggak tau!” jawab Rudi singkat. “Heh, apa kalian pikir kalau nama belakang kami beda, kami bukan saudara kandung?”
“Mungkin aja kan, Rud!” sela Clive.
“Clive! Jaga bicaramu!” hardik Debbie.
“Apa mungkin?” kata Rudi tidak percaya.
“Rud, jangan berpikir kayak gitu! Kamu harus yakin kalau kamu itu anak kandungnya mereka!” jelas Debbie.
“Aku....!” perkataan Rudi terhenti karena ada seseorang yang mendorong pintu kamarnya dengan kuat.
“Sorry mengganggu, soalnya aku harus meletakkan barang – barangku ini! Berat banget!” seru Ruben yang terlihat ngos – ngosan.
“Ya udah Rud, kami cabut dulu ya!” ucap Clive ketika melihat kedatangan Rubben.
“Aku ikut dengan kalian!” Rudi pun menyusul teman – temannya itu.
“Sekali lagi maaf ya!” ujar Ruben yang kembali mengemasi barang – barangnya.
“Welcome back!” sapa Alan yang mendadak duduk di dekat jendela. “Perlu bantuan?”
“Nggak usah ini juga hampir selesai!”
“Kamu kok il-fil gitu sama aku? Apa aku punya salah?”
“Alan, ayolah jangan memelas seperti itu! Aku punya informasi baru, ternyata anaknya Albert King Jr. bukan hanya Rudi!”
“Kalo itu aku juga tau! Namanya Tania kan?”
“Kok kamu nggak pernah bilang sama aku? Atau sengaja kamu sembunyikan?”
“Untuk apa? Aku hanya ingin kamu tau semuanya sendiri. Supaya kamu lebih percaya kalau aku benar – benar butuh bantuanmu!”
“Baiklah maafkan aku! Jujur, aku sangat tertekan dengan keadaanku sekarang!” keluh Ruben.
“Ngomong – ngomong kenapa kamu ngaku – ngaku kalau pacarnya Penny itu adalah Ruben?”
“Nggak ada salahnya dong! Soalnya Penny dan Ruben adalah aku sendiri!”
“Itu masalahnya, Ruben dan Penny adalah orang yang berbeda!”
“Apa? Mana mungkin! Kamu yang bilang perubahanku menjadi Ruben hanyalah fatamorgana, sekarang kenapa kamu katakan kalau aku dan Ruben adalah orang yang berbeda?”
“Ruben Rhodnius adalah orang Perancis, orang tuanya sempat mendaftarkannya ke sini, tapi karena terjadi sebuah kecelakaan yang menewaskan pacarnya, dia kehilangan semangat hidup dan belahan jiwanya! Sampai sekarang dia masih menjalani pengobatan intensif di Berlin, dia menderita shock berat sehingga sampai sekarang dia tidak sadarkan diri! Makanya aku gunakan peluang itu untuk memasukkanmu ke Sorbonne Soccer School! Dan tentu saja wajahmu yang sekarang sangat mirip dengan Ruben! Lihat ke cermin itu, Ruben begitu menderita!” kata Alan seraya menunjuk sebuah cermin di sudut kamar Ruben.
“Kasihan! Lantas apa hal itu masalah penting? Kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan dari seorang Ruben yang tidak bergerak itu!”
“Mungkin kamu benar, aku hanya terlalu khawatir! Tapi dia akan kembali seperti semula ketika kamu berubah menjadi Penny yang dulu, karena aku yang akan mengisi kehampaan jiwanya! Itulah janjiku pada kekasihnya yang meninggal!”
“Bagus dong, itu artinya kamu bisa hidup kembali!”
“Bagus apanya? Kenapa sih kamu tidak mengerti juga? Ah sudahlah kamu memang tidak akan paham perasaanku!” kata Alan dengan emosi dan seketika menghilang.
“Hantu aneh! Udah syukur bisa hidup lagi, kok malah aku yang dibentak – bentak!” ujar Ruben sambil melihat seikat anggrek bulan yang terletak di atas tempat tidurnya. “Siapa yang meletakkan ini? Alan, pasti Alan! Ah nggak penting! Mendingan juga mandi!”
***
Keesokan harinya, semua siswa Sorbonne Soccer School bersiap – siap menghias sekolah mereka karena nanti malam akan dilaksanakan pesta tahun baru. Tapi yang super sibuk adalah nyonya Hyla, karena dia ketua pelaksana pesta ini. Ruben yang baru bangun tidur juga mendapat jatah pekerjaan, dia disuruh membantu para juru masak menyiapkan makanan.
“Sthepen, dimana aku harus meletakkan semua blue berry ini?” tanya Ruben yang sedang mengangkat satu kantong penuh berisi blue berry.
“Di sini saja!” seru seorang wanita berpakaian seksi yang sedang mengaduk – aduk adonan coklat.
“Hai, anda kakaknya Rudi ya?” kata Ruben seraya meletakkan blue berry pada tempat yang diunjukkannya.
“Ya, namaku Tania Jr. Rudi banyak cerita tentang aku ya?” balasnya.
“Nggak juga, tapi kemarin aku mendengar pembicaraan kalian. Maaf ya, aku nggak bisa bohong!”
“Kamu lucu juga ya! Masak nggak bisa membuatku senang dengan hal sekecil itu! Padahal aku berharap tadi itu kamu bohong!” ujarnya tersenyum manis. “Aku memang kakak yang tidak baik, jadi pantas saja kalau Rudi malu membicarakanku dihadapan teman – temannya.”
“Permisi nona! Ada seseorang yang mencari anda!” kata salah seorang pelayan. “Dia menunggu anda di depan!”
“Kalau gitu aku ke depan dulu ya!” ucap Tania sambil beranjak meninggalkan ruang dapur.
Ruben terlihat sangat penasaran dengan tamu yang datang menemui Tania. Segera setelah Tania pergi, dia secepatnya menyusul Tania. Ruben melihat seorang pria tinggi semampai mengenakan sweter hijau dengan rambutnya yang berwarna kemerah – merahan, sedang memberikan seikat mawar merah kepada Tania.
“Nathan!” bisiknya sendiri. Ternyata pria yang menemui Tania itu adalah kakaknya sendiri, yakni Nathan Dombeck. Ruben cukup shok ketika melihat kakaknya terlihat begitu mesra dengan Tania.
“Hey kamu lagi ngapain sih!” suara Debbie mengagetkan Ruben yang sedang mengintip kakaknya.
“Apa – apaan sih ngagetin aja!”
“Kamu yang apa – apaan, masak orang pacaran diintip! Kakaknya Rudi lagi! Kamu naksir ya sama dia! Katanya udah punya pacar!”
“Yeee... siapa juga yang naksir sama kakaknya Rudi! Aku cuma pengen tau siapa pacar kakaknya itu, eh ternyata kakak pacarku, Nathan Dombeck!”
“Kenapa kamu mengaku – ngaku kalau aku adalah kakak pacarmu!” kata Nathan yang sadar kalau dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan.
“Oh hai Nathan, kenalkan aku Ruben Rhodnius, dan sekarang masih berstatus pacar adikmu Penny Dombeck!” sahut Ruben santai.
“Sayang sekali aku tak suka bicara dengan penipu seperti dirimu! Asalkan kamu tahu saja, adikku tidak punya pacar!”
“Kamu tidak tahu apa – apa tentang Penny, karena orang yang paling dekat dengannya hanya Mark dan aku. Bagimu biola dan karir adalah segalanya bukan?”
“Siapa bilang aku tidak tahu apa – apa tentang dia? Aku sangat menyayanginya! Kapan pun dia membutuhkan pertolongan, aku akan selalu ada untuknya!”
“Ya, tapi hanya sekali. Ketika aku sedang kehabisan uang menjelang liburan musim dingin!”
“Ha . . . ha . . . jadi waktu itu dia minta uang untuk kamu! Bodoh sekali Penny yang menyukai cowok matrealistis seperti kamu!”
“Heh jelek! Aku nggak matrealistis tau! Kalo kamu mau uang itu kembali, oke! Besok uang itu sudah ada di tangan kamu, camkan itu!”
“Baik, besok aku tunggu sampai makan malam!” jawab Nathan. “Yuk sayang! Katanya kamu mau ngajak aku jalan – jalan!”
“Nathan! Jangan gitu dong! Kamu tau kan, di sekolah ini siswanya nggak boleh punya uang saku lebih dari 10 dollar, gimana dia bisa mengembalikan uang kamu?” bela Tania. “Lagian kamu juga nggak berhak meminta uang itu padanya, kan adik kamu yang ngasih sama dia! Nggak baik terlalu mencampuri urusan orang walaupun dia adik kita sendiri!”
“Terserahlah!” kata Nathan beranjak pergi.
“Udahlah Ben, lupakan saja! Nathan nggak serius kok!” ucap Tania mencoba menenangkan Ruben.
“Makasih Tania, kamu baik sekali! Pantas Nathan menyukaimu! Dan sebenarnya aku memang tidak punya uang sebanyak itu!” aku Ruben.
“Sudah kuduga!” sahut Debbie.
“Kamu memang unik! Kalo gitu aku menyusul Nathan dulu ya! Sampai ketemu nanti malam!” kata Tania sambil berlari mengejar Nathan yang mulai jauh darinya.
“Kakak Rudi itu baik banget and friendly abis! Beda sekali dengan Rudi yang hobinya marah – marah!” ujar Debbie memuji Tania.
“Aku juga nggak pengen punya sifat yang sama dengan dia kok!” sela Rudi yang tiba – tiba berdiri di belakang Debbie.
“Sorry Rud, aku tidak bermaksud . . .!” kata Debbie ingin menjelaskan pernyataannya itu.
“Ah apa nggak ada topik lain? Bie, gimana kalo kamu membantuku menghias aula utama?” timpalnya.
“Boleh! Ben kamu ikut nggak?” ajak Debbie.
“Kayaknya nggak bisa, sebab Stephen masih membutuhkan bantuanku di dapur! Oke, aku ke dapur lagi ya!” jawab Ruben sambil berjalan menuju Dapur.
***
Tok . . . tok . . . tok . . . pintu kamar Rudi diketuk dengan keras oleh seorang wanita. Namun karena Rudi sedang mandi, Ruben pun segera membukakan pintunya.
“Hai, Ben! Rudinya ada?” tanya Tania dengan ramah.
“Dia lagi mandi, ayo silahkan masuk!” jawab Ruben mempersilakan Tania duduk. “Kalau gitu sebaiknya aku keluar saja dari pada mengganggu!”
“Tidak kamu disini saja!” ujar Tania sambil mendekap Ruben dan mulai menangis. “Ben, aku tak punya teman! Aku kesepian!”
“Ya tapi nggak harus begini kan Tania? Kamu cerita dong sebenarnya ada apa?” Belum sempat pertanyaan Ruben itu dijawab, tiba – tiba Rudi keluar dari kamar mandi.
“Lepaskan aku!” ronta Tania dan ‘Praakkk!’ dia menampar wajah Ruben dengan keras. “Rud, tolong aku! Dia ingin . . .!”
Mendengar rintihan kakaknya, Rudi segera mengambil ancang – ancang untuk memukul Ruben. Alan pun secepatnya masuk ke dalam tubuh Ruben dan berhasil menghindar.
“Rud, kamu sedang dibodohi olehnya! Dia pembohong besar! Benarkan Tania?” jelas Alan yang sekarang berada dalam tubuh Ruben. Namun Tania yang masih menangis malah lari meninggalkan mereka berdua.
“Bajingan kamu, Ben!” kata Rudi sambil mengejar kakaknya itu. Setelah Rudi pergi Alan pun segera keluar dari tubuh Ruben.
“Nyaris saja!” seru Alan.
“Ada apa dengan Tania, kenapa dia jadi bringas gitu?” tanya Ruben seraya mengusap pipinya yang ditampar oleh Tania.
“Dia memang selalu begitu, selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya. Bahkan dia pernah melakukan hal yang sama padaku hanya untuk menarik perhatian Jeff Hardin.”
“Masak sih? Aku kok nggak bisa percaya! Apa untungnya membuat aku dan Rudi musuhan, semua orang juga tau kalo kami nggak pernah akur!”
“Dia nggak peduli sama kamu! Yang ada di otaknya adalah bagaimana cara membuat Rudi kembali menyayanginya!”
“Gila! Dia cuma menjadikan aku kambing hitam, sialan banget sih! Aku harus membalasnya, Alan kamu mau kan bantuin aku?”
“Nggak usah! Aku rasa hal itu nggak penting, apalagi sekarang dia pacarnya Nathan! Aku yakin kamu tidak mau mencari masalah lagi dengan Nathan kan?”
“Ya aku tahu, hal yang paling penting bagimu sekarang adalah menemukan siapa pembunuhmu sebenarnya. Baiklah aku punya sebuah cara untuk itu! Aku akan meminta Victoria ke sini! Dan aku yakin dia bisa diminta tolong untuk menyelidiki arsip – arsip tentang peristiwa pembunuhanmu yang ada di tangan polisi! Bahkan dia bisa mengintrogasi Nyonya Dorothy bukan?”
“Bagaimana caramu untuk menyuruhnya ke sini?”
“Tentu saja dengan sepucuk surat ini! Bukankah surat ini tidak terlalu berat untuk hantu sepertimu?”
“Baiklah aku mengerti maksudmu! Kalau begitu aku pergi dulu! Jaga dirimu baik – baik!” ucapnya seketika menghilang.
“Aku yakin bukan hanya masalah Alan yang terpecahkan, tapi juga Tania! Habislah riwayatmu Tania, makanya jangan main – main dengan Penny Dombeck!”
***
“Sayang, kamu nggak apa – apakan?” tanya Nathan penuh rasa khawatir. Namun Tania tidak menjawab sepatah kata pun, air matanya terus menetes. Nathan pun segera mendekap kekasihnya itu dengan erat dan mencoba menenangkannya.
“Than, aku . . .! Andai saja Rudi tidak datang, mungkin dia akan . . .!” isak Tania dengan terbata – bata. “Aku hanya ingin minta maaf pada Rudi, apa aku salah?”
“Udahlah Kak! Aku sudah memaafkan semua kesalahan Kakak! Lihat saja Ruben akan menyesal melakukan ini! Aku janji!” jelas Rudi berapi – api.
“Nggak perlu Rud, Kakak tidak mau sekolah ini hancur hanya karena masalah ini! Kakak juga nggak ingin menjadi bahan pembicaraan di seluruh sekolah ini, cukup kita yang ada disini saja yang tahu! Yang penting kamu sudah memaafkan Kakak!” ujar Tania dengan wajah cemas.
“Kalo gitu jangan nangis lagi dong!” kata Nathan seraya mengusap air mata di pipi Tania. Tiba – tiba Handphone bergetar, menandakan adanya panggilan masuk. Dia pun segera mengangkatnya, “Hallo, dari siapa ini?”
“Nathan, please jangan kamu sakiti pacarku! Aku nggak mau terjadi apa – apa padanya! Kamu harus melindunginya seperti kamu melindungi aku! Kalau sampai dia lecet sedikit saja, aku bakal bunuh diri! Tut... tut... tut...” ternyata telepon itu telah ditutup oleh Penny.
“Hallo Penny! Penny!”
“Dari siapa Yang? Adikmu ya?” tanya Tania antusias.
“Ah bukan apa – apa kok! Dia cuma kangen padaku! Gimana kalo kita makan malam sekarang? Aku benar – benar sudah lapar!” ajak Nathan.
“Boleh! Ayo Rud!” jawab Tania yang terlihat kembali tersenyum.
***
Pesta tahun baru akan segera dimulai, semua tamu telah berdatangan dan berkumpul di aula utama. Jeff Hardin, pesepak bola kenamaan dunia itu menjadi pusat perhatian diantara tamu – tamu yang lain. Namun tiba – tiba perhatian mereka terpecah ketika Nathan Dombeck datang bergandengan dengan putri pemilik Sorbonne Soccer School, Tania Jr. Seluruh siswa beserta seluruh staf pengajar Sorbonne Soccer School juga tak mau ketinggalan, mereka pun segera memenuhi ruangan aula utama.
“Ben, ada yang mencarimu!” ucap Ling sambil merapikan kaca matanya yang tebal itu. “Dia ada di sana tuh!”
“Makasih ya Ling!” Ruben pun berjalan ke arah yang ditunjukkan Ling. Ternyata disana dia melihat Victoria sedang berbincang – bincang bersama Debbie. “Victoria! Kapan kamu datang?”
“Dua jam yang lalu! Oh ya, kata Penny kamu butuh bantuanku ya? Ada apa sih?” balas Victoria.
“Paling juga masalah kemaren iya kan?” sela Debbie.
“Masalah apa?” tanya Victoria penasaran.
“Maaf Bie, tapi masalah ini hanya aku dan Victoria yang boleh tau!” kata Ruben seraya menarik tangan Victoria untuk menjauh dari keramaian.
“Ada apaan sih? Jangan bikin aku bingung dong!” desak Victoria tak sabaran.
“Kamu masih sayang kan sama Nathan?”
“Dikit! Eh banyak! Nggak aku udah melupakan dia kok!”
“Terserah, tapi sekarang kamu harus membantu Nathan keluar dari perangkap iblis! Lihat ke sana! Cewek yang sekarang bersama dia itu benar – benar iblis!”
“Dia itu siapa?”
“Dia kakaknya Rudi, dan sekarang dia udah jadian sama Nathan! Asal kamu tau, kemaren dia menjebak aku! Dan sekarang Nathan benci banget sama aku!”
“Nathan udah tau belum kamu jadian sama Penny?”
“Ya udah dong! Makanya kamu harus menyingkirkan dia!”
“Caranya?”
“Itu bisa aku atur!” kata Ruben kemudian menarik tangan Victoria ke dekat panggung. Dia membisikkan sesuatu kepada sang pembawa acara. Acara pesta tahun baru pun dimulai, sang pembawa acara berdiri dengan jas rapi diatas panggung.
“Happy new year every body!” sapanya lantang. “Oke, untuk membuka acara ini kita panggilkan saja, Victoria Smith untuk melantunkan sebuah lagunya di hadapan kita semua! Victoria please welcome!”
“Apa? Kamu apa - apaan sih Ben, aku kan nggak terlalu bisa nyanyi!” ucap Victoria dengan wajah memucat.
“Lakukan seperti yang pernah kamu lakukan bersama Penny!” perintah Ruben.
Setelah menarik nafas panjang Victoria pun naik ke atas panggung. Dilihatnya ke sekeliling, dipegangnya microphone dengan santainya. “Sebelum aku menyanyi, aku ingin seseorang mengiringiku, Nathan aku mohon mainkan biolamu untukku!”
Tapi tak ada tanggapan apa – apa dari Nathan dia tetap berdiri pada posisinya tanpa beranjak sedikit pun. Dan Tania semakin erat memeganginya. Tiba – tiba setetes air mata keluar dari pelupuk mata Victoria. Dia seakan ingin melangkah turun dari panggung, apalagi semua orang seperti ingin menertawakannya. Ruben merasa sangat kasihan melihat Victoria yang tidak diacuhkan oleh Nathan.
“Kamu ingin menyanyikan lagu apa, Victoria?” tanya Nathan sambil berjalan menaiki panggung.
“When you tell me that you love me!” ujar Victoria pelan.
“Inilah persembahan dari kami, ‘When you tell me that you love me’ !” Nathan pun mulai menggesek biolanya, begitu pula dengan Victoria yang bernyanyi dengan merdu. Suasana ruangan pun menjadi haru dan romantis. Setelah Victoria selesai bernyanyi, semua orang menyambutnya dengan tepuk tangan yang riuh. Acara pun segera diambil alih oleh pemain band terbaik yang telah diundang Sorbonne Soccer School. Setelah itu, Victoria secepatnya turun dari atas panggung, dan berlari menghampiri Ruben.
“Gimana aku sukses nggak?”
“Dikit lagi! Dia datang tuh!” jawab Ruben sambil melirik Nathan.
“Victoria!” mendengar namanya dipanggil oleh Nathan, dia segera menoleh ke arah Nathan. Mata mereka berdua bertatapan cukup lama. “Suaramu masih saja kurang berkelas, makanya jangan suka makan makanan berminyak! Untung saja aku orangnya baik sehingga mau mengiringimu bernyanyi!” kata Nathan yang kemudian berjalan ke tempat Tania.
“Aku sudah berhenti makan makanan berminyak dan suaraku cukup berkelas kok! Kalau kamu nggak mood mengiringiku, kenapa tadi kamu naik ke atas panggung?” seru Victoria.
“Alasanku sama dengan alasan tahun baru kemaren, yaitu karena aku tidak ingin melihat kamu dipermalukan di hadapan semua orang!”
“Bohong! Katakan saja kalau kamu masih mencintaiku!”
“Harga diri kamu masih ada nggak sih? Aku udah punya pacar, jadi lupakan aku! Dan jangan pernah bermimpi aku masih mencintai kamu!”
“Oh ya! Kalau gitu putuskan saja dia, bereskan! Aku besok akan pulang ke Indonesia, aku harap kamu ikut denganku! Biar kita bisa memulai semuanya dari awal!”
“Hey, aku tidak mencintai kamu lagi! Aku ... !” tiba – tiba perkataan Nathan terhenti ketika Victoria menundukkan kepalanya di dada Nathan.
“Katakan kalau kamu tidak mencintaiku!” pinta Victoria yang masih tertuntuk.
“I can’t! Cause I love you!” jawab Nathan seraya merangkul Victoria. Semua orang yang melihatnya serta merta bertepuk tangan. Tania yang melihat kejadian itu tak dapat menahan emosinya dan segera pergi meninggalkan ruangan itu.
“Oke semuanya! Tahun baru tinggal lima detik lagi lagi! Ayo kita hitung bersama – sama!” teriak sang pembawa acara.
“Lima, empat, tiga, dua, satu! Preeeeeet.............!” semua orang meniup terompet yang ada di tangannya masing – masing dengan keras. “Happy New Year!” sorak mereka bersama – sama.
***
“Wow kamu hebat sekali! Hanya dengan beberapa kalimat, Nathan langsung menggelepek di hadapanmu!” puji Ruben.
“Siapa dulu, Victoria! Nathan itu udah cinta mati sama aku, jadi nggak mungkin tipe cewek kayak Tania bisa membuatnya jatuh cinta! Oh ya, aku harus pergi, jaga dirimu baik – baik ya! And jangan pernah mencoba menghianati Penny!”
“Tunggu dulu! Aku mau minta tolong sekali lagi sama kamu, bisa nggak kamu singgah dulu ke Berlin?”
“Ngapain?”
“Disana kamu harus menemui Dorothy Anderson, dia dipenjarakan di kota Berlin. Ini daftar pertanyaan yang akan kamu tanyakan padanya! Korek semua informasi dan riwayatnya, oke!”
“Beres! Kamu bisa mengandalkan aku sepenuhnya!” ujar Victoria bersemangat. “Honey, ayo dong! Kita udah telat nih!”
“Ya, kamu naik mobil aja duluan! Aku masih punya urusan dengan Ruben!” ucap Nathan sambil mendekati Ruben dan memberikan sebuah surat. “Titip ini pada Tania ya! Aku sangat merasa bersalah padanya! Satu lagi tolong katakan pada Penny, aku tidak pernah ingin menyakiti orang yang dia sayangi! Karena itulah aku sangat mencintai Victoria! Dan aku juga tahu kamu tidak salah! Selamat tinggal Ruben, semoga kita bisa bertemu lagi! Daaa!” Nathan dan Victoria pun pergi meninggalkan Sorbonne Soccer School dengan hati gembira.
“Selamat jalan Kak!” bisik Ruben. Tiba – tiba Tania datang menghampirinya, “Apa kamu pikir dengan ini kamu sudah menang!”
“Maaf aku tidak pernah merasa punya urusan denganmu, dan ini titipan Nathan! So please, jangan ganggu aku lagi!”
“Dulu memang aku tidak punya urusan denganmu, tapi setelah kamu membuat hubunganku dengan Nathan berantakan, aku menjadi sangat membencimu!” kata Tania seraya melayangkan tangan kanannya ke wajah Ruben.
Namun Jeff Hardin berhasilkan menghentikannya, “Sebaiknya kita pergi sekarang! Tidak usah membuang – buang energi untuk hal yang tidak penting! Atau kamu memang tidak ingin pergi bersamaku?”
“Kamu benar Sayang! Ayo kita pergi! Aku akan membalasmu Ruben!” mereka berdua pun segera beranjak meninggalkan Sorbonne Soccer School. Ruben masih terpaku melihat Tania yang begitu mudahnya melupakan Nathan, dalam beberapa jam dia langsung mendapatkan pengganti Nathan.
“Woii! Kenapa kamu bengong!” ujar Debbie sambil menepuk bahu Ruben.
“Oh Bie! Nggak ada apa – apa kok!” jawab Ruben kaget. “Ngomong – ngomong aku minta maaf ya!”
“Soal apa?”
“Semalam Victoria jadian sama Nathan, aku tahu kamu sangat kecewa akan hal itu! Karena kamu begitu mencintai Victoria bukan?”
“Bagiku itu bukan masalah yang besar! Mungkin kami memang tidak jodoh!”
“Kamu pengertian sekali dan sangat bijak! Kurasa sifatmu itu akan membuatmu selalu disenangi semua orang dimanapun kamu berada!”
“Ada – ada saja kamu Ben!”
***
Siang ini Ruben tidak belajar, dia menghabiskan waktunya untuk duduk bersantai di tepi lapangan. Alan pun datang menemaninya.
“Alan, apa kamu pernah jatuh cinta?”
“Ya, tapi itu dulu ketika aku masih hidup! Kamu lagi jatuh cinta ya?”
“Aku masih bingung sama arti cinta itu sebenarnya, Victoria begitu mudah mempermainkan cinta, tapi kenapa Nathan malah semakin mencintainya. Mark berhubungan dengan pacarnya hanya lewat e-mail karena takut digosipkan! Kalo aku pacaran aja nggak pernah! Apalagi sekarang wujudku nggak menentu kayak gini, mana ada yang mau suka sama aku?”
“Ada kok yang mencintai kamu dengan tulus!”
“Rudi maksudmu! Aku tahu, tapi dia begitu membenciku ketika aku berubah menjadi Ruben. Dia tidak bisa merasakan kalau aku adalah Penny. Itu artinya cinta kami bukan cinta sejati, soalnya cinta sejati itu melihat dengan mata hati, dan cinta sejati hanya datang sekali.”
“Cinta sejati juga dapat menembus ruang dan waktu! Kalau kamu benar – benar mencintai Rudi, ciptakan cinta sejati kalian berdua! Ingat bola itu tidak akan datang sendiri, kita harus mengejarnya untuk bisa mencetak sebuah gol cemerlang!”
“Masalahnya, sekarang aku adalah seorang pria! Nggak mungkin kan aku mengejar Rudi dalam kondisi begini! Udah ah, aku capek mau istirahat dulu!” ucap Penny seraya melangkahkan kakinya meninggalkan Alan.
“Walaupun sekarang aku hantu, aku akan selalu berusaha mendapatkanmu Penny! Karena aku yakin, kamulah cinta sejatiku!” Alan menghilang seiring dengan hembusan angin.
5
“Kalian semua sudah siap untuk mendengarkan siapa yang menjadi tim inti kesebelasan Sorbonne Soccer School tahun ini!” tanya Gerald Baker ketika sedang memeriksa barisan. Dia pun melangkah ke depan setelah melihat wajah – wajah penasaran pada murid – muridnya. “Baiklah, mereka yang beruntung antara lain: Debbie Wiseman, Rudi Anderson, Clive Hasrvey, Mathew Benington, Charles Holiday, Brian Metscher, Jacqueline Mclaughlin, Paul Meichior, Rahul Khana, David Cone, dan Ruben Rhodnius.”
Mendengar nama – nama itu disebut seluruh siswa kelas dua pun menyambutnya dengan tepuk tangan.
“Oh satu hal lagi. Mengenai posisi kalian, yang menentukan adalah kapten tim. Sekolah telah memutuskan Ruben Rhodnius sebagai kapten.”
“Huuuuuuuuuu............!” teriak mereka yang hadir.
“Ada yang keberatan dengan keputusan ini?” tanya Mr. Baker menyaksikan muridnya ingin berontak. “Silahkan Clive!”
“Pak, menurut kami Ruben tidak pantas jadi kapten, bahkan untuk jadi tim inti saja dia tidak pantas!” kata Clive lantang. “Yang terbaik dan yang paling pantas adalah Rudi, bukan Ruben. Itu saja Pak!”
“Itu menurutmu boy, keputusan sekolah sudah bulat. Jadi kalau kamu tak suka silahkan mengundurkan diri!” jawab Gerald Baker. “Ada apa Ruben, kamu ingin menanggapi?”
“Pak, saya rasa ini tidak adil!”
“Maksudmu?”
“Sekolah memilih pemain inti secara sepihak, semua pemain inti adalah anak kelas dua. Kenapa tidak memasukkan anak kelas satu? Mereka punya hak yang sama untuk dipilih!” jelas Ruben.
“Bukan tidak dipilih, tapi mereka itu tak punya potensi! Itu masalahnya!” ujar Gerald Baker.
“Kalau begitu saya mengundurkan diri! Maaf saya tidak terima teman – teman saya dianggap tidak berpotensi!” ucap Ruben.
“Bagus! Cukup bijakasana Ruben Rhodnius. Ok, dengan mundurnya Ruben maka Rudi yang menjadi kapten!” kata Mr. Baker.
“Mr. Baker, saya juga minta maaf! Saya tidak mau menggantikan Ruben jadi kapten dan dianggap tidak sanggup menjadi kapten!” sambut Rudi mendengar namanya yang disebut oleh Gerald Baker.
“Lantas kamu maunya gimana?”
“Saya ingin diadakan pertandingan antara tim saya dan tim Ruben. Pada pertandingan ini baik anda maupun pihak sekolah bisa menilai siapa yang pantas menjadi tim inti Sorbonne Soccer School tahun ini, secara adil! Bukan hanya kelas dua atau kelas satu.” terang Rudi. “Karena saya yakin sekolah juga ingin melihat seberapa berkualitasnya anak didik mereka!”
“Ide yang bagus!”jawab Mr. Baker. “Tapi, ini adalah hal yang penting, jadi perlu persetujuan kepala sekolah. Semoga saja keputusannya bisa final hari ini. Tunggu saja! Baik kelas hari ini bubar!”
Mr. Baker segera pergi menuju ruang kepala sekolah. Dan beberapa saat setelah itu terdengar pengumuman tentang rapat guru.
***
Makan malam pun usai, semua orang menanti keputusan rapat dewan guru dengan harap – harap cemas. Tiba – tiba nyonya Hyla masuk ke ruang makan dan berkata, “Seluruh siswa diminta menuju aula besar, sekarang juga!” Mendengar instruksi itu semua siswa pun mengikuti nyonya Hyla dari belakang. Dia aula besar seluruh siswa berbaris dengan rapi menurut kelas mereka. Kepala Sorbonne Soccer School, Albert King Jr. berdiri ke atas podium.
“Selamat malam anak – anakku sekalian! Hari ini kalian dikumpulkan untuk menentukan siapa yang akan menjadi tim inti sekolah ini. Sekolah telah menetapkan sebelas orang yang kami anggap mampu. Namun karena ada salah seorang diantara kalian yang keberatan dengan cara pemilihan yang kami lakukan. Maka kami pihak sekolah setuju mengadakan pertandingan bola. Dimana pada pertandingan ini hanya ada dua tim yaitu tim Rudi Anderson dan tim Ruben Rhodnius. Bagi siswa yang berminat segeralah hubungi mereka berdua, tidak terbatas bagi kelas dua saja. Semua boleh ikut! Terima kasih dan selamat malam!” itulah pidato singkat yang diutarakan Albert King Jr.
Menyambut hal ini seluruh siswa bersorak – sorai gembira. Mereka segera menyerbu Rudi dan Ruben. Setelah itu nyonya Hyla segera naik ke podium.
“Tenang, kalian semua tenang! Pendaftaran itu bisa dilakukan besok bukan? Ada pengumuman tambahan, untuk tim Rudi akan dilatih oleh Mr. Baker, dan tim Ruben aku sendiri yang akan melatih! Pertandingan ini akan dilaksanakan pada 27 Juli 2017, bertepatan dengan hari ulang tahun sekolah kita ini. Jadi masa latihan kalian hanya tiga minggu. Hanya itu saja, silahkan kembali ke kamar masing – masing!”
Setelah mendengar pengumuman yang disampaikan nyonya Hyla. Seluruh siswa pun segera menuju ke kamar masing – masing.
“Rudi, kamu disuruh ayahmu ke kantornya! Kelihatannya dia ingin bicara sesuatu padamu!” ujar nyonya Hyla ketika turun dari podium kepada Rudi.
“Baik, saya akan segera ke sana Nyonya!” jawab Rudi.
***
Tok... tok.... tok.... pintu ruang kepala sekolah diketuk dari luar.
“Masuk!” perintah Mr. King Jr.
“Malam Pa! Kata nyonya Hyla anda memanggil saya! Ada apa?” tanya Rudi.
“Haruskah ada permasalahan dulu, baru bisa seorang ayah bertemu anaknya!” kata Albert King Jr. memeluk anaknya itu. “Tak kusangka kamu benar – benar mirip ibumu, ideologi kalian tentang persamaan hak, keadilan dan kebijaksanaanmu! Aku bangga padamu nak!”
“Pa, aku rindu padamu! Rasanya baru hari ini aku punya Papa lagi sejak Mama dipenjara!” air mata Rudi mengalir seiring kata – kata yang keluar dari mulutnya.
“Hey boy! Kenapa kamu menangis? Anak lelaki tak boleh cengeng bukan? Mamamu takkan suka melihat kamu menangis! Berikan yang terbaik untuknya!”
“Selalu Pa, Rudi akan membuat kalian bangga!”
“Sudah malam, kamu perlu istirahat bukan?”
“Ya, kupikir Papa juga! Kalau begitu selamat malam!”
“Selamat malam! Mimpi yang indah my boy!”
“Allright!”
***
“Kamu kemana saja? Keluyuran dulu ya!” cegat Ruben setibanya Rudi di kamar.
“Apa urusanmu! Kamu kubolehkan tidur disini, bukan berarti berhak mencampuri urusanku!” jawab Rudi bengis.
“Terserah, tapi thank’s banget buat bantuan kamu! Teman – temanku sangat senang!”
“Bantuan? Siapa yang bantuin kamu? Asal kamu tahu ya, aku bilang kayak gitu supaya kamu bisa kukalahkan! Ngerti! Jadi jangan sok dibantuin!”
“Oooo gitu ya! Kamu itu aneh banget deh! Udah malam begini belum juga tidur, masih aja lihat ke jendela!”
“Apa urusanmu!” ujar Rudi sambil membuka celananya.
“Stop! Kamu mau ngapain?” tanya Penny berjalan menjauhi Rudi.
“Ya mau ganti celana, kamu pikir aku mau ngapain! Dasar cowok aneh! Atau kamu cowok jadi - jadian ya?” jawab Rudi mengganti celananya, kemudian merebahkan dirinya ke tempat tidur.
“Enak aja. Hati – hati dong kalo ngomong! I’m a real man”, seru Ruben. “Pasti kamu lagi rindu sama seseorang bukan? Bulan purnama masih tiga minggu lagi!”
“Kalo kamu belum juga mau tidur dan masih ngoceh sembarangan, aku banting vas bunga ini ke wajah jelek kamu itu!”
“Oh yeah!” tantang Ruben yang segera berjalan menuju tempat tidurnya.
***
Pagi harinya Ruben dan Rudi sibuk memilih tim mereka masing – masing. Tim Rudi terbentuk lebih cepat, mereka menyebut timnya dengan nama Primavera Team. Setelah itu Rudi serta teman – temannya segera menuju lapangan hijau untuk latihan bersama Mr. Baker. Tim Ruben akhirnya terbentuk dengan nama Allievi team. Ruben segera mencari nyonya Hyla untuk melatih mereka. “Nyonya, kami sudah siap!” lapornya pada nyonya Hyla.
“Bagus. Tapi masalahnya lapangan hijau dipakai oleh Mr. Baker dan tim Rudi. Aku usulkan kita memakai lapangan di belakang sekolah. Memang cukup kotor, selain itu rumput – rumputnya juga sudah tinggi. Kamu bisa mengerti maksudkukan, Ruben!”
“Baik Nyonya! Kami akan segera membersihkannya!” jawab Ruben sambil beranjak dari hadapan nyonya Hyla. Dia segera memberi instruksi teman – temannya untuk membersihkan lapangan di belakang sekolah.
“Mari kita bersihkan sekarang!” ajak Ruben.
“Tunggu dulu Ben, sepertinya ada diskriminasi baru di sini! Buktinya kita dikasih lapangan kotor, selain itu masak yang melatih kita seorang perempuan!” kata Scott.
“Jika lapangannya kotor ya kita bersihkan, dan kalau pelatih kita perempuan memangnya kenapa? Mungkin karena perempuan itulah kita bisa menang! Jadi kalau ada diantara kalian yang masih memandang remeh perempuan sebaiknya keluar dari tim ini! Laki – laki tidak selamanya sempurna, ingat itu!” jelas Ruben. “Gimana mau membersihkan lapangan itu atau tidak?”
“Kami bersamamu Ben!” jawab Jack.
“Kami juga!” seru yang lain.
“Ok, ayo kita bergerak!” teriak Ruben.
“Maaf, boleh aku ikut?” tanya seorang anak lelaki berkacamata tebal.
“Tapi tim kami sudah pas Ling!” ucap Scott.
“Aku hanya ingin membantu kalian bukan ingin main!” ujar Ling.
“Kenapa tidak kawan – kawan! Semakin banyak orang, pekerjaan kita semakin ringan!” kata Ruben. “Ayo Ling! Bersiaplah, pekerjaan telah menantimu!” Mereka pun bergegas menuju lapangan bola yang terletak di belakang sekolah dengan hati gembira tanpa beban.
***
“Ha.... ha..... ha.....!” suara tawa Clive menggelegar ke seluruh lapangan.
“Heh, kenapa kamu Clive? Baru datang ketawa – ketawa lagi! Ada yang lucu?” tanya Debbie yang sedang membetulkan sarung tangannya.
“Kamu tahu Bie, anak – anak kelas satu dikasih lapangan dibelakang sekolah! Tiga minggupun tak cukup bagi mereka untuk membersihkan lapangan seluas itu. Apalagi jumlah mereka hanya dua belas! Ha... ha....! Kita poaasti menang!” jawab Clive terbahak – bahak.
“Kalau dua belas orang memang tak bisa, namun jika ditambah sebelas orang lagi. Besok mereka sudah bisa latihan disana!” sambung Rudi yang sedang mengelap tubuhnya dengan handuk.
“Siapa yang mau membantu mereka?” balas Clive.
“Tentu saja kita! Bukan begitu Rud!” sela Debbie.
“Benar, kita yang akan membantu mereka!” jawab Rudi. “Perhatian semuanya! Latihan hari ini kita batalkan, kita akan membantu tim Ruben membersihkan lapangan mereka!”
“Kamu gila Rud! Sudah jelas ayahmu telah memberi kita peluang untuk menang! Tapi kamu malah mengecewakannya!” ujar Clive sambil berdiri dari duduknya.
“Tidak, ayahku tidak pernah begitu! Dia ingin aku menang sebagai pemberani, bukan pecundang! Terserah padamu Clive, mau jadi pemberani atau pecundang!” jelas Rudi.
“Apa ini benar – benar kamu?” kata Clive menggeleng – gelengkan kepalanya. “Baiklah sobat aku ikut!”
Rudi segera memimpin timnya menuju ke belakang sekolah. Disana dia menyaksikan Ruben dan teman – temannya sedang bekerja. Melihat kedatangan Rudi, Ruben dan teman – temannya berhenti bekerja.
“Kami datang membantumu, Ruben!” seru Rudi. Ruben pun melangkah menghampiri Rudi, “Kamu bisa mulai dengan teman – temanmu dari sana! Terima kasih, akan ada yang senang dengan perbuatanmu ini!”
“Ayo teman – teman kita mulai bekerja!” komando Rudi.
Mereka semua pun bekerja sama membersih kan lapangan itu. Matahari semakin condong ke barat. Siang telah berlalu, sore pun menjelang. Tak disangka akhirnya pekerjaan mereka selesai juga. Pakaian mereka telah kotor dengan tanah. Karena kecapek-an mereka semua merebah diri di tengah lapangan itu. Tiba – tiba para pelayan Sorbonne Soccer School datang membawakan minuman dan sandwich yang banyak ketengah – tengah mereka.
“Itu hadiah dari kepala sekolah untuk jerih payah dan kerjasama kalian!” seru nyonya Hyla dari kejauhan. Mereka pun segera berlari mencuci tangan dan menyantap hidangan yang tersedia.
“Kamu benar Rud, ini yang diinginkan ayahmu!” kata Clive seraya meneguk minumannya. Dan Rudi hanya tersenyum mendengar perkataan Clive. Dia menengadah ke kantor ayahnya, Albert King Jr. sedang tersenyum melihatnya.
***
Tiga minggu berlalu sudah. Kedua tim telah berlatih sekuat tenaga. Baik Ruben mau pun Rudi kelihatan telah siap menghadapi pertandingan mereka. Pertandingan akbar akan dilaksanakan besok. Malam ini sangat berbeda dengan malam – malam sebelumnya bagi Ruben. Apalagi malam ini ada bulan purnama. Dia pun berubah menjadi Penny Dombeck. Maka malam ini dia duduk di bawah sinar sang rembulan bersama Alan di pinggir lapangan. “Alan, apa timku akan menang?” tanya Penny pada Alan.
“Tanya pada dirimu sendiri!” jawab Alan singkat.
“Maaf kan aku ya!”
“Maaf untuk apa?”
“Sudah beberapa bulan aku disini, tapi pembunuhmu belum juga kutemukan! Aku malah sibuk latihan bola! Harusnya aku menyelidiki Albert King Jr. bukan?”
“Dengar, firasatku mengatakan kalau kemenanganmu besok akan membuka semua tabir!”
“Maksudmu?”
“Lihat aja kamus!”
“Ih Alan, kamu kok jahil!”
“Ssssh, ada seseorang yang menuju ke sini!” ujar Alan yang segera menghilang.
“Siapa di situ?” tanya Penny cemas.
“Hai, Putri Bulan!” sapa Rudi keluar dari balik pagar lapangan.
“Rudi, kamu mengagetkanku saja!” jawab Penny gugup. “Gimana kabarmu?”
“Lebih baik dari sebelumnya! Ini berkat tipsmu!”
“Jangan berlebihan!” sahut Penny tersenyum kecil. “Aku bisa melihat perubahanmu, kamu jadi suka senyum, ramah, dan baik hati, oh ya topimu mana?”
“Ini untukmu saja! Soalnya main bola sebenarnya nggak boleh pake topi, bukan?”
“Emang ada peraturan yang melarang?”
“Nggak sih! Tapi kamu lebih suka aku yang mana?”
“Ngaco kamu, tentu saja aku suka kamu apa adanya. Oh ya, katanya besok pertandingan perdana kamu kan?”
“Iya, rasanya aku nggak bakal menang! Abis Ruben hebat banget! Aku salut sama dia!”
“Lho kok kamu udah nyerah duluan! Tenang aja aku akan mendo’akan kamu agar menang besok! Bulan purnama ini jadi saksinya!” ucap Penny sambil memejamkan matanya. Tiba – tiba dia merasa ada sesuatu yang menempel di bibirnya. Dan ketika dia membuka mata, Rudi pun melepaskan bibirnya dari bibir Penny.
“Aku mencintaimu Putri Bulan! Sungguh! Apakah aku bodoh jatuh cinta pada seseorang yang hanya sekali sebulan bertemu? Karena kuyakin kamu nyata, bukan sekedar khayalanku! Apa kamu juga sayang padaku?”
Mendengar pertanyaan Rudi, Penny sangat bingung sekali. Padahal besok dia harus melawan Rudi, namun malam ini Rudi bilang kalau dia mencintai Penny. Hal ini tentu tak dapat diterima akal sehatnya.
“Putri, tak sayangkah kamu padaku?” tanya Rudi lagi.
“Aku............., Aku nggak bisa ..............., nggak bisa bohong pada diriku sendiri kalau aku sayang sama kamu!” jawab Penny sambil menetes air mata yang berkilauan diterpa sinar rembulan. Rudi segera mendekapnya erat – erat.
“Akan kuhadiahkan sebuah kemenangan gemilang untukmu, my princes!” bisik Rudi ke telinga Penny. Malam semakin larut, cahaya sang rembulan mulai redup. Awan hitam segera menggiring bulan bergerak ke peraduannya.
“Sorry Rud, ini hampir pagi! Aku harus pulang! Daaaa!” kata Penny sambil berlari ke luar lapangan.
“Hati – hati! I love you!” teriak Rudi yang juga berjalan membelakangi Penny menuju asramanya.
***
“Alan, kamu kemana aja sih!” tanya Penny melihat Alan sedang duduk di tepi kolam.
“Nggak kemana – mana! Sejak Rudi datang aku disini aja! Gimana Rudi?” balas Alan bertanya.
“Kamu mungkin nggak percaya, dia bilang kalo......”
“Dia bilang siapa yang membunuhku!” kata Alan penuh harap.
“Bukan itu! Dia nembak aku! Dia pengen kami jadian!”
“Lalu!”
“Ya, aku nggak bisa nolak!”
“Selama ini kamu nganggap aku apa sih?”
“Maaf! Maksud kamu apa? Kok tiba – tiba kamu marah! Jujur aja selama ini aku nganggap kamu hanya sebagai hantu!”
“Cuma hantu?”
“Itu kenyataan kan, kamu kan hantu! Emangnya lebih dari itu?”
“Kamu benar, aku hanya hantu!”
“Udah ah! Masak wujud sendiri nggak tau! Tapi udah pagi gini, kok aku belum berubah sih?”
“Bulannya masih ada kali!”
“Alan, ini serius! Aku nggak bisa berubah lagi!”
“Apa kamu tadi ciuman sama Rudi?”
“Mmmmm............”
“Jawab! Iya atau enggak!” hardik Alan.
“Iya, emang kenapa!”
“Sial! Kamu itu gimana sih! Jaga bibir satu aja nggak bisa.” teriak Alan. “Aku nggak pernah marah kamu jadian sama dia kok! Katanya kamu mau bantuin aku!”
“Jadi . . . aku nggak bisa jadi Ruben lagi kalau ada yang menciumku?” ucap Penny penuh sesal. “Maafkan aku Alan, sungguh aku nggak tahu! Aku memang bodoh banget!”
“Nggak ada gunanya kamu nyesel! Nasi udah jadi bubur! Harusnya aku nggak milih kamu kalau tahu akan begini akhirnya!” ujar Alan yang kemudian menghilang diterpa sinar mentari.
“Alan, tunggu jangan pergi! Apa yang harus aku lakukan selanjutnya! Aku bingung!” rintih Penny. Dia kelihatan sangat panik setelah tahu kalau dirinya tidak bisa lagi berubah menjadi Ruben.
“Hanya ada satu jalan! Ya, aku harus menemui nyonya Hyla!” pikir Penny dalam hatinya. Dia segera berlari sekencang – kencangnya menuju ruangan nyonya Hyla.
***
“Maaf, nyonya Hyla ada?” tanya Penny pada salah seorang pegawai kebersihan sekolahnya.
“Dia ada di ruang ganti bersama – sama anak Allievi team!” jawab pegawai itu.
“Terima kasih!” kata Penny sambil beranjak dari sana menuju ruang ganti. Setibanya di ruang ganti, Penny segera mendorong pintunya dan menerobos masuk. Tentu saja hal ini membuat baik nyonya Hyla maupun anggota Allievi team kaget.
“Ada yang bisa saya bantu Nona?” kata nyonya Hyla.
“Kalo mau minta tanda tangan nanti aja ya!” ujar Scott yang kemudian disusul gelak tawa semua orang yang ada di ruangan itu.
“Bukan itu masalahnya Scott!” sela Penny. “Ruben nggak bisa main hari ini!”
“Kenapa tidak bisa! Apa alasannya?” tanya nyonya Hyla.
“Pokoknya tidak bisa, dan aku yang akan menggantikannya! Aku Penny Dombeck!” seru Penny.
“Jangan bercanda pagi – pagi begini! Ruben bisa bertanding! Ling, segera panggil dia ke atas!” perintah nyonya Hyla.
“Dia memang nggak ada di kamarnya nyonya!” ucap Jack.
“Apa? Tidak mungkin dia pergi! Ruben pria terhormat! Dia tidak mungkin melakukan tindakan pengecut seperti ini!” jawab nyonya Hyla sedikit emosi.
“Ruben memang bukan pengecut! Aku yang akan mempertahankan kehormatannya!” kata Penny lantang.
“Tapi dia itu perempuan nyonya!” jelas Emerson.
“Nyonya Hyla juga perempuan, kenapa kalian menerimanya menjadi pelatih kalian? Mengapa aku tidak bisa?” Mendengar ucapan Penny itu, semuanya terdiam beberapa saat.
“Dia benar! Kita harus percaya padanya. Ruben sangat yakin pada perempuan bukan?” sela Ling ditengah keheningan.
“Baiklah kamu boleh menggantikan Ruben. Kalian semua setuju?” seru nyonya Hyla.
“Setuju!” teriak mereka semua serempak.
“Kalau begitu, selamat Penny Dombeck ini seragammu dengan nomor punggung tujuh. Good luck!” ucap nyonya Hyla.
***
“Rud, ada kabar gembira!” teriak Clive terburu – buru.
“Ada apa kawan, kamu perlu sesuatu?” tanya Debbie yang sedang asyik memperbaiki tali sepatunya.
“Aku cuma butuh segelas air putih kok Bie!” jawab Clive yang kelihatan ngos – ngosan. “Nih air kamu!” tiba – tiba Rudi menyodorkan segelas air pada Clive. “Tadi kamu bilang ada kabar gembira? Apaan sih?”.
“Paling juga soal kedatangan Jeff Hardin, iya kan! Itu mah semua orang udah pada tau Clive!” sela Debbie.
“Nggak, bukan soal Jeff. Tadi ketika aku lewat kantor kepala sekolah, aku lihat kalo nyonya Hyla mencoret nama Ruben dari daftar pemain!” jelas Clive.
“Kenapa?” ucap Debbie dan Rudi serentak.
“Kabarnya Ruben pergi begitu saja dari asrama!” jawab Clive. “Dan kalian tahu siapa yang menggantikannya?”
“Siapa? Ling!” ujar Debbie.
“Bukan, namanya Penny Dombeck, pacar Ruben sendiri. Cewek itu manis dan cantik! Aku nggak yakin dia bisa main bola!”
“Jadi kita akan bertanding melawan suatu tim yang dipimpin seorang cewek!” sahut Rudi. “Ada apa dengan Ruben? Padahal kemaren sore dia masih ada disini! Pasti dia punya alasan khusus, karena kutahu Ruben bukan seorang pengecut! Clive dimana pacarnya Ruben sekarang?”
“Mungkin sekarang dia masih di kamar Ruben, soalnya tadi aku melihatnya disana sedang memandang foto Ruben. Emangnya kamu mau ngapain?” kata Clive heran.
“Aku cuma pengen tahu alasan perginya Ruben, itu saja!” jawab Rudi yang segera berlari meninggalkan kedua temannya menuju kamar Ruben.
***
Tok ........ tok....... tok.... Rudi mengetuk pintu kamar Ruben dan sesaat setelah itu seorang gadis membukakan pintu tersebut. Namun ketika menatap wajah si gadis Rudi pun terperanjat.
“Putri Bulan! Sedang apa kamu disini?” tanya Rudi yang sangat terkejut melihat Putri Bulan yang berada di kamar Ruben. “Kenapa kamu memakai seragam itu?”
“Aku akan menggantikan Ruben dalam pertandingan ini! Lawanmu sekarang aku, Rud! Bukan Ruben lagi!” tegas Penny.
“Apa? Kamu bercanda, bukan?”
“Aku sangat serius, Rud!”
“Aku sangat percaya padamu, bahkan telah kuberikan hatiku untukmu. Tapi kenapa kamu malah membohongiku? Kenapa kamu tak bilang kalau kamu adalah pacarnya Ruben?”
“Perasaan seseorang bisa berubah seiring dengan waktu bukan!”
“Kamu................., aku tak percaya kamu bilang begitu Putri Bulan!”
“Maaf aku telah menyakitimu! Asal kamu tahu, Putri Bulan sudah mati! Yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah Penny Dombeck, kapten kesebelasan Allievi!”
“Baik! Kamu dan Ruben benar – benar picik! Akanku hancurkan kalian hari ini! Bersiaplah menangisi kekalahanmu, Penny Dombeck!
“Kurasa bukan aku yang akan menangis tuan Anderson. Melainkan dirimu sendiri, karena kalah dari seorang cewek!”
“Itu takkan terjadi. Tidak ada yang boleh memasukkan bola ke gawangku, ingat itu!”
“Oh ya, kurasa aku akan lupa akan hal itu.” ujar Penny beranjak dari kamar Ruben. “Hapus dulu air mata mu yang nyaris menetes itu, Rudi Anderson!”
“Sial! Kenapa aku harus mencintainya! Bodoh! Bodoh!” teriak Rudi. “Lihat saja, kamu akan menyesal! Aku harus menang!”
6
Lapangan Sorbonne Soccer School telah penuh sesak oleh para penonton yang ingin menyaksikan kebolehan calon pesepak bola dunia. Mereka kelihatan sangat tidak sabar, bukan hanya karena pertandingan tersebut, melainkan juga para undangan yang akan datang, yaitu Jeff Hardin dan Mark Dombeck. Makanya mayoritas penonton adalah cewek – cewek yang nge-bet abis pengen ketemu dua selebritis terkenal ini. Selang beberapa saat kemudian, kepala sekolah Sorbonne Soccer School naik ke atas mimbar, dan memulai pidatonya.
“Selamat pagi hadirin sekalian, saya sangat senang sekali karena alumni sekolah ini Jeff Hardin telah hadir di tengah - tengah kita, begitu pula halnya dengan penyanyi yang tidak asing lagi bagi kita semua, Mark Dombeck”. Tepuk tangan dan sorakan gembira menyambut kedatang dua orang itu, kemudian mereka duduk di kursi komentator. “Baiklah langsung saja kita panggil ke dua team yang akan bertanding, Primavera Team dan Allievi team”.
Kedua team itu pun tampil ke tengah – tengah Lapangan. Herr Thürmann selaku wasit segera maju ke depan dan priiiiiiiiit……… pertandingan pun dimulai. Bola bergulir dari satu kaki ke kaki pemain lain. Mark sedikit kaget melihat kapten Allievi team adalah adiknya sendiri, Penny Dombeck. Tentu saja hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wartawan.
“Kali ini bola di bawah kekuasaan Rudi, dia terus mendribel bola menuju gawang Allievi team. Namun itu hanya sementara karena bola berhasil direbut oleh Penny dan dengan cepat dia menggiring bola ke arah gawang Primavera Team. Penny pun mengambil ancang – ancang untuk menembak dan ... ternyata Debbie berhasil menangkapnya. Dia segera melempar bola itu ke arah Clive. Clive pun mengopernya kepada Mathew, dan akhirnya bola kembali menempel di kaki Rudi. Dia pun tak menyia – nyiakan kesempatan menembak dan ... gol. Angka pertama untuk Primavera Team.” Sorak Jeff selaku komentator.
Tapi Allievi team tidak mau tinggal diam mereka pun segera membalas dan score menjadi satu sama, dengan gol indah persembahan Penny Dombeck. Waktu terus berjalan, kedua team ternyata sama hampir sama kuat. Score mereka pun masih tetap berimbang. Tiba – tiba Penny jatuh tersungkur, Clive meninju perutnya. Tentu saja hal ini menyebabkan Clive mendapat kartu kuning. Mark segera berlari ke arah adiknya, begitu pula dengan Rudi. Mereka berdua segera memapah Penny ke tepi Lapangan.
“Penny, kamu nggak apa – apa?” tanya Mark cemas. Tapi Penny kelihatannya tak kuasa untuk menjawab. Rudi segera membaringkannya di tepi Lapangan.
“Herr Thürmann pertandingan ini tidak bisa dilanjutkan!” seru Rudi pada wasit. “Penny harus dibawa ke ruang pengobatan!”
“Tidak!” ucap Penny tertatih – tatih mendengar perkataan Rudi. “Pertandingan ini akan tetap berlangsung, Ling yang akan menggantikan aku!”
"Ling!" kata semuanya serentak.
"Kenapa aku Penny?“ tanya Ling keheranan.
"Ya, kamu Ling! Karena kamu mampu dan aku yakin padamu!“ ucap Penny yang kemudian tak sadarkan diri. Para perawat pun membawa Penny ke ruang pengobatan.
"Baik pertandingan dilanjutkan lagi! Penny akan digantikan oleh Ling! Priiiiiiit!“ ujar Herr Thürmann.
“Rudi kamu mau kemana?” tanya Debbie melihat Rudi melangkah keluar Lapangan.
“Aku nggak bisa main! Cari saja pemain lain!” jawab Rudi.
“Tapi Rud............!”
“Sudah, sepak bola hanya bersenang – senang! Jadi kenapa harus Rudi, banyak yang lain kan! Hey boy, gantikan Rudi ya!” kata Jeff Hardin pada seorang anak laki – laki yang duduk di bangku cadangan. “Bermainlah dengan baik!”
Pertandingan pun dimulai kembali, walaupun tanpa Penny dan Rudi ternyata pertandingan tetap berlangsung seru dan menarik.
***
“Penny, kamu sadar dong!” ucap Mark yang tak mampu membendung air matanya. “Maafkan Kakak ya!”
“Tangisan anda tidak akan mengubah apa – apa! Lebih baik kita berdoa supaya Penny lekas sembuh!” ujar Rudi sambil memandang lirih ke arah infus yang terus menetes melalui slang di tangan Penny.
“Maaf, kamu tidak ikut bertanding?” tanya Mark kaget melihat ada orang lain di kamar perawatan selain dia dan Penny.
“Tidak! Pertandingan ini nggak ada artinya buat aku tanpa adikmu Penny!”
“Oh ya, aku Mark Dombeck! Namamu siapa?”
“Aku Rudi Anderson! Adikmu itu benar – benar bodoh, dia mau mempertaruhkan nyawanya hanya untuk seorang pria bajingan bernama Ruben Rhodnius!”
“Ruben Rhodnius!”
“Ya, pacar adikmu! Harusnya dia yang bertanding melawan teamku hari ini! Tapi dasar dia pengecut, makanya dia menyuruh Penny!”
“Mark!” teriak seorang wanita dari luar. “Ada apa dengan Penny, Mark?”
“Dia mengalami kecelakaan ketika bermain bola tadi, Victoria!” jelas Mark. “Oh ya Rud, kenalkan ini Victoria temannya Penny!”
“Hai, aku sudah kenal dia kok, waktu itu kami ketemu di Hawaii! Kamu temannya Ruben dan Debbie bukan?” kata Victoria menjabat tangan Rudi.
“Kasihan Penny, Ruben membuatnya menderita!” ujar Rudi. “Andai saja dia ada disini sudah ku hajar dia!”
“Mana mungkin Ruben seperti itu, dia sangat mencintai Penny dan aku yakin itu! Asal kamu tahu cinta Ruben pada Penny melebihi apa pun!” jawab Victoria kesal.
“Oh ya, kalau gitu dimana dia sekarang! Kamu juga harus tahu kalau Rubenlah yang menyuruh Penny bertanding hari ini, dan lihat apa jadinya, Penny terluka!” balas Rudi.
“Come on, kita disini bukan meributkan masalah Ruben! So please stop this!” sela Mark.
“Maaf Mark. Aku tidak bermaksud untuk berlaku kurang sopan. Ngomong – ngomong anggota keluarga yang lain sudah diberitahu, Mark?”
“Belum. Tapi kamu tentu tahu kalau berita semacam ini akan cepat tersebar, bukan?” jelas Mark.
“Kamu memang tak ubahnya seperti Papamu. Oh ya apa kata dokter?” sambung Victoria.
“Kata mereka Penny selain kehilangan banyak cairan tubuh juga mengalami nyeri yang sangat hebat di bagian perutnya!”
“Oh Penny! Semoga kamu cepat sembuh!”
***
“Alan, aku ada dimana?”
“Penny, kamu aman disini! Ini duniaku, dunia yang amat aman, damai dan tentram.”
“Alan, katakan padaku kalau ini belum jadi duniaku!”
“Belum, tentu saja belum. Aku mengajakmu ke sini hanya untuk berterima kasih! Terima kasih kamu telah menolongku!”
“Tidak! Aku nggak bisa nolong kamu, sampai saat ini pembunuhmu belum juga ketemu kan! Aku menghancurkan semua rencanamu!”
“Tenang saja! Victoria telah berhasil mengorek semua keterangan dari nyonya Dorothy, dia memang tidak bersalah. Yang membunuhku adalah Jeff Hardin, Tania yang merekayasa seakan - akan ibunyalah yang membunuhku.”
“Gimana mungkin?”
“Tania dendam padaku, karena aku menolak cintanya. Makanya dia memperalat Jeff untuk membunuhku. Dan demi menutupi kesalahan Jeff, ibunya dijadikan kambing hitam. Jeff sahabat yang paling kupercayai, tega membunuhku hanya demi seorang gadis yang dicintainya!” Alan tak sanggup meneruskan perkataannya karena air mata telah bercucuran di pipinya.
“Kenapa Tania menjerumuskan ibunya sendiri?”
“Sebab dia ingin menguasai Sorbonne Soccer School secara utuh! Namun ibunya menghalangi rencananya itu. Asal kamu tahu pewaris sah dari sekolah ini adalah Rudi Anderson! Dugaan kita selama ini ternyata benar, Rudi bukan anak kandung Albert King Jr. Dia putra Manfred Anderson dan Hyla Heliconi, nyonya Dorothy mengambilnya ketika Hyla pingsan mendengar suaminya meninggal akibat kecelakaan mobil. Waktu itu Dorothy panik, karena pada saat yang sama anak yang dikandungnya meninggal dunia, maka dari itu dia mengatakan pada semua orang kalau yang meninggal itu adalah anak Hyla. Dan dia berjanji pada saatnya nanti dia akan memberikan sekolah ini pada Rudi. Hal inilah yang tidak dikehendaki oleh Tania, dia menyebarkan isu kalau ibunya gila. Sehingga tidak ada yang mempercayai Dorothy!”
“Dari mana kamu tahu semua ini?”
“Aku menemani Victoria mengintrogasi nyonya Dorothy, dari sanalah aku tahu semuanya. Terima kasih, Penny! Hanya saja kamu harus membantu nyonya Dorothy untuk keluar dari penjara, karena Jeff belum mau mengaku! Tentu kamu mengerti maksudku bukan!”
“Apa kita masih bisa bertemu lagi? Apa aku masih dapat bicara denganmu?”
“Kayaknya enggak! Hari ini adalah hari terakhir kita bersama. Maaf ya kalau aku selama ini bikin kamu kesal, marah atau pun jengkel. Sungguh aku nggak bermaksud begitu, karena aku sayang sama kamu!” jelas Alan sambil mengecup kening Penny.
“Aku ada satu pertanyaan lagi, kenapa kamu bisa datang ke Indonesia dan memilihku untuk membantumu?”
“Karena kamu adalah cinta pertamaku. Ingat kejadian ketika kamu dan ayahmu berkunjung ke Inggris, ada seorang bocah laki – laki yang memberimu anggrek bulan. Itu aku, waktu itu kalo nggak salah aku berumur 6 tahun dan kamu mungkin berumur 3 tahun. Bahkan aku sempat mengajakmu jalan – jalan keliling istana Bukhingham.”
“Bocah laki – laki? Kamu salah kali, seingatku yang memberikan anggrek bulan itu adalah seorang gadis kecil. Rambutnya dulu panjang sampai bahu dan dia suka pake baju bola! The girlie striker, itu julukan untuk gadis itu! ”
“Girlie Striker is me!” kata Alan sambil tersenyum manis pada Penny.
“Apa? Jadi yang memberiku kalung bulan sabit ini adalah kamu! Nggak mungkin! Nggaaak!” teriak Penny yang kemudian tak sadarkan diri.
***
“Alan!” teriak Penny.
“Penny, kamu sudah sadar!” tanya Mark melihat adiknya telah terbangun.
“Maaaark!” Penny pun memeluk Mark seerat – eratnya, dia melihat teman – temannya telah hadir di kamar perawatan.
“Penny, tim kita menang!” seru Ling.
“Selamat Penny! Berkat kamu, teman - temanmu berhasil mengalahkan timku!” ucap Rudi.
“Bukan karena aku, melainkan karena usaha merekalah! Teman – teman kemengan ini milik kalian! Selamat!” jelas Penny.
“Penny, dulu Ruben pernah memintaku untuk menyelidiki seseorang bernama Dorothy Anderson. Dan aku telah melakukannya, semua data yang dimintanya ada padaku sekarang!” bisik Victoria ke telinga Penny.
“Bagus! Sekarang kamu antarkan semua data – data itu ke kantor polisi, nanti aku menyusul!” pinta Penny. Victoria pun segera menuruti permintaan Penny tersebut. “Oh ya Mark! Aku......”
“Kamu lapar kan?” sambung Mark. “Ayo kita cari makanan!” Mark pun menggendong Penny keluar ruangan.
“Oh Mark, kamu baik sekali! Maaf teman – teman aku makan dulu ya!” kata Penny sambil terus menekap kakak kesayangannya.
“Kapten kita itu memang cewek banget!” ucap Scott pada teman – teman yang lain. Melihat hal ini Rudi hanya terdiam, karena Penny sama sekali tidak mengacuhkannya.
“Rud, kamu kenapa?” tanya Debbie seraya menepuk pundak Rudi. “Cerita dong, biar aku bisa bantu!”
“Putri Bulan itu adalah Penny, Penny Dombeck. Pacar Ruben merupakan gadis yang selama ini aku taksir!” jawab Rudi tertunduk.
“Oh, jadi gara – gara itu kamu tidak mau bertanding dan membuat tim kita kalah!” tuntut Clive tiba – tiba. “Aku kecewa padamu Rud!”
“Clive hentikan! Asal kamu tahu, aku lebih kecewa padamu dibandingkan Rudi! Kenapa kamu harus berbuat curang dengan meninju perut Penny? Padahal kita bisa saja menang kalau kamu tidak anarkis!” serang Debbie.
“Apa? Kamu bilang aku curang! Kamu yang pecundang, aku hanya mencoba meghilangkan batu penghalang kita menuju kemenangan! Menurutku tindakan itu sangatlah mulia!” bela Clive.
“Kamu salah Clive! Apa gunanya menang kalau tidak terhormat!” seru Debbie berapi – api.
“Sudahlah, kalian ini bukannya membantuku malah membuatku tambah pusing!” hardik Rudi. Dia pun berjalan keluar dari ruang perawatan meninggalkan Clive dan Debbie yang masih berdebat.
***
“Jadi kita makan dimana Penny?” tanya Mark sambil mengusap kepala Penny.
“Makannya nanti saja, antar aku ke tempat Jeff Hardin sekarang! Aku ingin sekali bicara dengannya!” ucap Penny.
“Kamu itu baru sembuh, masih aja mikirin idola, oke deh! Tapi setelah itu kita makan ya!”
“Makasih Mark! Oh ya, gimana caranya bicara sama dia? Pasti dia lagi istirahat!”
“Tenang aja, kan ada aku!” katanya sambil menarik tangan Penny.
Tok..... tok...... tok........ Mark mengetuk pintu kamar peristirahatan Jeff Hardin. “Hello, Jeff kau ada di dalam!”
“Maaf tuan Jeff sedang istirahat!” ucap seorang pelayan yang membukakan pintu.
“Oh ya, tapi kami sudah janjian! Coba kau tanya sekarang padanya!” perintah Mark.
“Siapa Denis?” tanya Jeff dari kejauhan. “Oh kamu Mark! Ayo silahkan masuk! Denis ambilkan kami minum!”
“Jangan repot – repot! Penny ayo masuk! Jeff, kenalkan ini adikku, Penny Dombeck!” sahut Mark menyuruh Penny masuk.
“Ya, aku tadi melihat kehebatanmu di lapangan hijau!” puji Jeff.
“Terima kasih atas pujian anda! Saya sebenarnya ingin bicara empat mata dengan anda, apa boleh?” ucap Penny.
“Kenapa tidak!” jawab Jeff.
“Kalau gitu aku tunggu kamu di luar ya!” ujar Mark sambil meninggalkan mereka berdua.
“Apa yang ingin kamu katakan padaku?” kata Jeff mengawali pembicaraan.
“Aku hanya meminta anda jujur, siapa sebenarnya yang membunuh Alan Presley? Anda atau nyonya Dorothy?”
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Jawab aku! Anda atau nyonya Dorothy?”
“Ha... ha... ha... sudah tiga tahun! Ya tiga tahun aku sembunyi, dan sekarang aku kembali dihantui pertanyaan ini! Apa Tania yang memberitahumu?”
“Jawab saja, Anda atau nyonya Dorothy?”
“Oke, aku yang membunuhnya! Tapi apa kamu punya bukti untuk menjebloskan aku ke penjara! Kamu tidak bisa apa – apa! Aku orang terkenal, aku pahlawan, disegani dimana – mana, apa mungkin hanya karena laporan seorang gadis sepertimu bisa menghancurkan aku?”
“Harusnya anda menyesal, anda telah dimanfaatkan oleh Tania, begitu banyak orang yang harus menderita, guru anda, teman – teman anda, sekolah ini, lapangan hijau, bola yang selalu setia menemani anda, dan diri anda sendiri! Tadi di depan semua orang kamu bilang sepak bola hanya bersenang – senang, tapi kenapa anda hancurkan kesenangan itu? Apa anda bahagia?”
“Sangat bahagia! Bahkan aku begitu menikmatinya! Lihat diriku sekarang, aku pemain bola terkenal!” katanya seraya mengeluarkan sebilah pisau dan berusaha menusuk Penny. Namun Penny berhasil menghindar, dilihatnya sebuah bola di sudut kamar Jeff, segera ditendangnya sehingga tepat mengenai kepala Jeff, dan diapun tak bergerak lagi. Mark yang mendengar ada keributan di dalam kamar Jeff, secepatnya menerobos masuk.
“Penny! Apa yang terjadi disini?”
“Mark, hubungi polisi sekarang, sebelum Jeff sadarkan diri! Cepat!”
“Baiklah!”
***
Penny pun segera membawa Jeff untuk menyerahkan diri ke kantor polisi. Disana Jeff mengakui semua perbuatannya. Dan nyonya Dorothy kembali menghirup udara kebebasan. Penny segera mencari Rudi, dia melihat Rudi sedang bermenung di ruang perpustakaan.
“Rudi, cepat pergi keluar ada seseorang yang menunggumu!” bisik Penny.
“Apa?” Rudi pun berlari keluar ruangan dilihatnya seorang wanita sedang duduk bersandar di bahu ayahnya. “Mama!”
“Rudi!” sahut wanita itu seraya membelai putra kesayangannya itu. “Mama sangat rindu padamu nak!”
“Mama, kapan bebasnya? Kok aku nggak dikasih tahu!” ungkap Rudi.
“Ini mendadak sayang! Seseorang telah membuktikan kalau Mama tidak bersalah!”
“Lantas siapa yang membunuh Alan Presley, Ma?”
“Jeff Hardin” jawab Albert King Jr. “Penny membawanya ke kantor polisi dan dia mengakui semua perbuatannya. Tania pun ikut terlibat dalam hal ini!”
“Apa? Nggak mungkin Pa! Kak Tania orang baik!” tanya Rudi antusias.
“Papa juga setuju dengan ucapanmu, tapi kenyataan memang pahit. Anak sendiri tega melakukan perbuatan seperti itu. Orang asing malah seperti anak sendiri!”
“Rud, Hayla Heliconi adalah ibumu yang sebenarnya.” Ucap Dorothy. “Hyla kemarilah peluk anakmu!”
“Rudi, aku ibumu nak!” mendengar isakan Hyla Heliconi, Rudi segera berlari memeluknya.
“Apa aku bermimpi? Apa ini benar? Kamu Mamaku yang sebenarnya! Aku sayang sekali padamu dan kalian berdua!” ujar Rudi sambil melirik kedua orang tua angkatnya. “Oh ya, aku harus berterima kasih pada Penny!”
“Pergilah sayang!” ujar Mamanya. Rudi segera berlari ke tempat Penny berada.
“Hai Penny!” sapa Rudi sambil duduk di kursi taman, tempat Penny sedang duduk seorang diri.
“Hai juga! Ada apa kamu mencariku? Ingin bilang sesuatu atau ada yang lain?” balas Penny.
“Aku cuma ingin berterima kasih, terima kasih atas semuanya!”
“Jangan padaku, tapi berterima kasihlah pada tuhan! Karena kalau bukan berkat kekuasaannya hal ini tak akan terjadi!”
Setelah pertandingan besar itu di Sorbonne Soccer School kembali tidak ada perbedaan antar kelas. Kalau memang punya kemampuan pasti jadi yang terbaik. Jeff Hardin dan Tania pun harus menanggung semua konsekuensi atas apa yang dia lakukan. Jabatan Kepala sekolah tetap berada di tangan Albert King Jr. karena Hyla Heliconi tidak terlalu menginginkan jabatan itu. Baginya mengetahui putranya masih hidup adalah anugrah yang paling indah. Penny pun sangat beruntung karena orang tuanya mengizinkannya untuk melanjutkan pendidikannya di Sorbonne Soccer School, dengan syarat setelah itu dia harus kuliah di Boston.
***
Pada suatu siang, Rudi mengajak Penny jalan – jalan ke luar pekarangan sekolah. Dia bermaksud mengutarakan perasaannya.
“Penny, apa boleh aku menganggap Ruben tidak pernah ada?” ujar Rudi sambil memegang ke dua tangan Penny.
“..................”
“Aku mencintaimu Penny Dombeck! Sungguh! Apakah aku bodoh jatuh cinta pada seseorang yang awalnya ingin memanfaatkanku? Karena kuyakin kamu cinta sejatiku, bukan sekedar alat untuk menjatuhkanku! Apakah kamu juga sayang padaku?”
“Maaf Rud! Tapi aku masih bingung mau menjawab apa!”
“Tak bisakah kamu menjawab ‘ya’ sekali ini! Anggap saja aku sebagai pengganti Ruben sementara! Atau kamu ingin memanfaatkanku lagi juga boleh! Sekarang aku benar – benar membutuhkanmu!”
“Baiklah Rud, seperti yang kukatakan di malam bulan purnama itu, sekarang pun aku akan menjawab ya!” Mulai saat itu Penny dan Rudi pun resmi jadian, walaupun tidak semua orang yang tahu akan hal ini.
7
“Ma, Ruben ada dimana?” kata Ruben seraya mencoba membuka ke dua matanya.
“Sayang, kamu sudah sadar! Pa, Papa, Ruben udah sadar!” teriak Mamanya dengan riang.
“Ruben, kamu sudah merasa baikan nak?” tanya Papanya yang juga sangat senang melihat perkembangan putranya.
“Memang Ruben kenapa, Ma? Mana Susan, dimana dia?”
“Sayang, Susan udah nggak ada! Kamu yang tabah ya! Karena mengetahui Susan meninggal akibat sebuah kecelakaan, kamu tidak sadarkan diri lebih kurang sepuluh bulan!” jelas Mamanya berurai air mata.
“Mama bercanda kan? Baru kemaren aku dan dia makan malam, kenapa Mama bilang dia udah nggak ada! Dia pasti lagi sembunyi, Susan, keluar dong! Jangan pake sembunyi segala! Oke, aku mau belajar di Sorbonne Soccer School, tapi please kamu keluar dong!” rintih Ruben. “Ma, kenapa dia nggak mau menemui Ruben? Salah Ruben apa Ma?”
“Tenanglah Ruben! Tenang! Mama ngerti perasaanmu, tapi jangan menyiksa dirimu sendiri! Kalau kamu memang sayang sama Susan, wujukan impiannya! Jadilah pemain bola profesional!”
“Tentu saja! Susan, kamu harus lihat aku akan dikenal di seluruh dunia sebagai striker terhebat! Aku janji! Aku janji!”
***
“Penny, kamu sudah siap?”
“Ya, ayo kita tunjukan pada seluruh Jerman, kalau sekolah kita ini adalah sekolah yang terbaik! Bukan begitu Rud?”
“Kalau begitu tunggu apalagi! Ayo kita turun ke lapangan dan kita bawa piala itu pulang ke Stuttgard!” mereka berdua pun berlari menyusul teman – temannya yang lain ke tengah – tengah lapangan hijau.
Hari ini adalah final kejuaraan German Cup di kota Berlin, timnas Sorbonne Soccer School akan berhadapan dengan timnas New Hampshire School. Selang beberapa menit kemudian pertandingan dimulai. New Hampshire School berhasil menguasai Lapangan, Sorbonne Soccer School terkepung. Dan mereka berhasil mencetak gol pertama dengan gemilang. 1 – 0 untuk New Hampshire School. Sekarang bola berada di bawah kendali Penny, dia terus mendribel bola, di dekat gawang dia melihat Rudi. Dia mengoper pada Rudi, dan gol! Score pun berubah menjadi satu sama. Menit selanjutnya, tak ada satu pun bola yang dapat menerobos masuk ke dalam gawang Sorbonne Soccer School. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan Sorbonne Soccer School.
“Horeeeee!” teriakan kemenangan timnas Sorbonne Soccer School.
“Aku rasa score 5 - 1 belum cukup untuk mengalahkan mereka!” bisik Debbie pada Penny.
“Ayo kita bawa piala ini pulang ke Stuttgard!” ajak Clive penuh semangat.
“Maaf, boleh aku minta tanda tangan Rudi Anderson?” pinta seorang gadis remaja.
“Tentu saja boleh!” jawab Rudi dengan ramah. “Oh ya, namamu siapa?”
“Linda, Linda Kellner! Senang berjumpa denganmu!” ucap gadis itu, kemudian dia mencium pipi Rudi dan segera pergi menjauh.
“Ehem! Ada yang cemburu tuh!” ejek Debbie melirik pada Penny.
“Yeee! Siapa yang cemburu! Nggak penting gitu!” kata Penny sedikit gugup. Tiba – tiba seorang pria menabraknya. Namun pria itu pergi begitu saja tanpa minta maaf pada Penny. “Sial banget sih! Awas kalo ketemu lagi, aku hajar dia!”
“Tenanglah Penny! Ayo kita pergi!” ajak Rudi.
Ternyata pria yang menabraknya itu adalah Ruben. Dia sedang terburu – buru, karena hari ini dia akan berangkat ke Sorbonne Soccer School untuk mewujudkan impian Susan.
***
Perjalanan menuju Sorbonne Soccer School cukup melelahkan, akhirnya pagi ini Ruben sampai juga di sekolah itu. Di depan pintu gerbang, dilihatnya seorang pria gemuk sedang menyapu dedaunan.
“Bonjour, Monsieur!” sapa Ruben pada Stephen, tapi Stephen malah bengong mendengar ucapan Ruben. “Maksud saya, Selamat pagi tuan!”
“Ruben!” teriak Stephen serta merta memeluk Ruben. “Kami semua merindukanmu! Kamu kemana saja? Pasti kamu kembali ke Perancis, gimana kabar orang tuamu! Oh ya, Penny pasti senang melihatmu lagi!”
“Penny?”
“Sudahlah, ayo masuk ke dalam! Sini biar barang – barangmu aku yang bawakan!” Stephen segera menarik Ruben masuk ke dalam kastil. Dia mengajak Ruben menuju ruang makan, tempat dimana siswa Sorbonne Soccer School sedang makan pagi. “Perhatian semuanya! Ruben telah kembali!”
Mendengar teriakan Stephen, serentak semua orang di ruangan itu kaget, bercampur senang. Apalagi Penny, dia benar – benar terkejut.
“Pagi semua!” sapa Ruben yang merasa aneh dengan acara penyambutannya.
“Ben, ayo cepat hampiri Penny!” bisik Stephen seraya mendorong Ruben.
“Hai!” ucap Ruben memandangi wajah Penny dengan seksama. Namun Penny tidak menjawab sapaan Ruben, dia masih shock melihat Ruben tiba – tiba berdiri di depannya.
“Penny, kenapa kamu diam saja? Pacar datang bukan senang malah diam!” goda Scott.
“Aku...” Penny masih tak sanggup meneruskan perkataannya.
“Tunggu dulu!” seru Ruben. “Dia pacarku? Kalian pasti bercanda! Pacarku baru aja meninggal, makanya aku nggak segera kesini! Mana mungkin aku pacaran dengan cewek seperti dia!”
“Emang ada apa dengan Penny?” tanya Ling penasaran.
“Coba deh kalian lihat ke kaca itu, dari ujung kaki sampai ujung rambut, dia nggak ada pantas – pantasnya buat aku! Asal kalian tau aja, aku paling alergi dengan cewek tomboy. Mungkin kalau nggak ada lagi cewek di dunia ini, baru aku milih dia!”
“Ben, kamu bicara apaan sih? Udah jelas – jelas Penny adalah pacar kamu, kok kamu ngelak gitu?” ujar Jack yang sangat heran melihat perubahan Ruben.
“Maaf teman, aku serius! Kalian sudah dibohongi, dia bukan pacarku? Non, kalau mau terkenal jangan pura – pura jadi pacarku dong!” ejek Ruben.
“Heh, kamu jangan mengejek Penny seperti itu!” kata Rudi mulai emosi. Mendengar ejekan yang dilontarkan Ruben kepadanya, Penny pun menangis dan pergi meninggalkan ruang makan.
“Penny, tunggu!” ucap Rudi berusaha mencegah. “Asal kamu tahu, dia lebih bahagia ketika kamu nggak ada!” Rudi pun pergi meninggalkan ruang makan.
“Ben, kamu aneh banget ya! Padahal dulu kamu begitu mencintai Penny, begitu pun dengan dia! Kok kamu jadi berubah gini?” tanya Debbie dengan penasaran.
“Wajar aja! Harusnya kalian membela Ruben, dia yang disakiti disini! Penny yang mengkhianatinya, karena Penny sudah jadian dengan Rudi! Bukan begitu Bie?” jelas Clive.
“Clive, kamu bicara apa? Nggak mungkin Penny mengkhianati Ruben setelah semua pengorbanan yang telah dilakukannya!” sela Jim.
“Ya, Penny tidak serendah itu!” sambung Jack.
“Stop! Sebenarnya kalian bicara apa sih? Jujur, aku nggak ngerti! Baik itu tentang Penny, maupun Rudi! Apa hubungan mereka denganku? Kumohon biarkan aku istirahat!”
“Teman – teman, Ruben memang perlu istirahat! Ayo Ben, aku antar kamu ke kamar!” ajak Debbie. Ruben pun mengikuti Debbie menuju kamarnya. Setiba di kamarnya Ruben segera merebahkan diri.
“Ben, apa boleh aku menceritakan sesuatu padamu?” pinta Debbie.
“Kamu ingin cerita apa? Oh ya, namamu siapa?” kata Ruben sambil berusaha mendengarkan Debbie.
“Masak kamu lupa namaku Ben! Baiklah namaku Debbie, Debbie Wiseman. Kamu nggak ingat apa pun tentang sekolah ini?”
“Sebenarnya aku sangat bingung ketika sampai di sekolah ini, tiba – tiba semua orang mengenalku. Padahal ini pertama kali aku ke sini! Bahkan semua bilang kalau aku punya pacar, bernama Penny! Lucu sekali!”
“Apa yang terjadi padamu Ben? Apa kamu amnesia?”
“Nggak tau deh! Pikiranku kacau banget! Tadi katanya kamu ingin cerita, cerita apa?”
“Kisah Ruben yang kukenal! Pertama aku jumpa dengannya di ruang makan, dia beda dari kamu yang sekarang! Dia paling sering salah tingkah, makanya aku, Clive dan Rudi sering menjahilinya. Tapi lama kelamaan aku sadar, kalau dia orang baik! Sangat baik! Satu lagi dia begitu mencintai seorang wanita bernama Penny Dombeck, mahasiswa universitas Massachusetts, Boston. Suatu waktu, ada pertandingan untuk menentukan siapa yang pantas menjadi anggota timnas sekolah ini. Kandidat terkuat sebagai kapten adalah dia dan Rudi, sehingga dia membentuk sebuah tim untuk menghadapi timnya Rudi. Dia membentuk timnya atas dasar kepercayaan, dukungan, dan persahabatan. Namun pada saat pertandingan dia tidak muncul, tiba – tiba dia menghilang! Dan Penny datang untuk menggantikannya, Penny berjuang sekuat tenaga demi orang yang dicintainya. Di tengah pertandingan, Penny terluka sampai tidak sadarkan diri! Walaupun begitu, semangatnya tetap ikut bertanding, sehingga timnya menang dan perjuangan Penny tak sia – sia!”
“Setelah itu apalagi? Apa Penny selalu menanti Ruben?”
“Penny menggantikan Ruben sebagai striker sekolah ini, dan dia jadian dengan Rudi! Sungguh aku tidak mengerti dengan sikap Penny yang satu ini, tapi aku yakin itu semua dilakukannya karena dia kesepian! Rubennya tidak pernah datang!”
“Apa maksudmu menceritakan semua ini?”
“Aku hanya ingin kamu kembali menjadi Ruben yang dulu lagi! Aku yakin Penny sangat merindukanmu! Tapi semua terserah padamu!” Debbie pun beranjak dari kamar Ruben. Sedangkan Ruben masih termenung mengingat apa yang diceritakan Debbie padanya.
***
Pagi harinya siswa Sorbonne Soccer School telah mengantri di ruang makan, untuk mengisi perut mereka yang kosong. Apalagi hari ini mereka harus belajar seharian penuh. Namun diantara siswa yang mengantri, Penny sama sekali tidak kelihatan.
“Jack, apa kamu melihat Penny?” tanya Rudi dengan wajah cemas.
“Kenapa kamu begitu perhatian dengan Penny? Apa hubunganmu dengannya?” sahut Jack sinis.
“Aku hanya mengkhawatirkan kesehatan dia saja, apa itu salah? Kenapa kamu jadi bertanya seperti itu!” ujar Rudi kesal sambil membanting gelasnya, sehingga air di gelasnya itu mengenai Ruben.
“Kalau makan jangan seperti binatang, membuat orang lain susah saja!” desis Ruben seraya membersihkan bajunya.
“Kamu bilang apa tadi?” kemarahan Rudi semakin hebat.
“Sudahlah Rud! Ini ruang makan!” seru Clive dari meja lain. Rudi pun mencoba meredam emosinya, dan kembali makan.
“Ben, kemari sebentar!” panggil Stephen. “Ini makanan Penny! Sejak kemaren dia belum makan, dia masih mengurung diri di kamarnya! Aku takut dia kalau dia sakit, atau bahkan bunuh diri!”
“Kenapa tidak kamu saja yang mengantarkannya?”
“Sudah kucoba, tapi dia tidak mau membukakan pintu! Tolonglah lakukan ini demi orang yang kamu sayangi!”
“Orang yang kusayangi? Lebih baik kamu menyuruh dia!” jawab Ruben seraya menunjuk ke arah Rudi.
“Baiklah kalau kamu memang tidak mau!” keluh Stephen yang kemudian beranjak menuju tempat duduk Rudi. “Rud, kamu bisakan ngasih makanan ini pada Penny?
“Tentu saja! Sini makanannya!” Rudi segera mengambil nampan itu dan berjalan menuju kamar Penny.
“Lihatkan! Dia begitu bersemangat!” ujar Ruben menepuk pundak Stephen.
“Apa yang terjadi padamu? Ingin kehilangan orang yang kamu sayangi lagi?” sahut Stephen kesal.
“Lagi?” wajah Ruben terlihat bingung mendengar ucapan Stephen, pandangannya tertuju pada kamar Penny. “Sebenarnya apa yang terjadi?” Ruben melangkah mengikuti Rudi.
***
Tok . . . tok . . . tok . . . Rudi mengetuk pintu kamar Penny sambil membawa makanan yang diberikan Stephen barusan. “Penny, kamu ada di dalam?”
“……………..”
“Tolong buka pintunya, aku hanya ingin mengantar makananmu. Itu saja!” Mendengar panggilan Rudi yang kedua, Penny pun membukakan pintu kamarnya.
“Kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini? Makan ya!”
“Aku ga’ lapar Rud! Please, jangan ganggu aku untuk saat ini!”
“Penny, aku mohon makanlah walaupun sedikit saja! Aku tidak sanggup melihat orang yang kusayangi menderita!”
“Rud, jangan desak aku seperti itu! Sekarang aku benar – benar bingung!” isak Penny seraya menutup pintu kamarnya kembali. Namun Ruben tiba – tiba datang dan mendorong pintu kamar Penny.
“Heh cewek egois! Gara – gara kamu nggak mau makan, satu sekolah ini kehilangan selera makan tau! Nih, makananmu! Dan cepat makan!” ucap Ruben sambil menyodorkan makanan yang dibawakan Rudi itu. Namun Penny malah berpaling dan duduk diatas tempat tidurnya. Melihat kedatangan Ruben, Rudipun beranjak dari sana, karena dia sadar kalau tidak ada lagi tempatnya di sana.
“Aku tidak mau makan! Nggak mau ya nggak mau!” teriak Penny pada Ruben.
“Hey, kamu harus makan! Semua orang mencemaskanmu, mereka sangat takut jika kamu sakit! Ayolah makan!”
“Kenapa kamu memaksaku? Siapa kamu, apa kita punya hubungan sehingga kamu bisa menyuruhku begitu saja!”
“Bodoh! Kalau kamu mau sakit ya terserah! Tapi setidaknya minumlah susu ini!”
“Nggak!” Penny melempar gelas yang berisi susu itu. “Sebaiknya kamu keluar dari kamarku sekarang juga!”
“Apa Rubenmu yang dulu akan tega membiarkan kamu tidak makan seharian?”
“Ruben yang dulu sudah mati! Sekarang aku tinggal sendirian!” isak Penny.
“Belum, Ruben belum mati! Dia akan selalu berusaha untuk hidup demi orang yang dicintainya! Percayalah itu!” Ruben menarik tangan Penny menuju ruangan makan. “Kamu harus makan!”
Setibanya di ruang makan, semua orang bersorak gembira melihat mereka datang sambil bergandengan tangan. “Stephen, ambilkan makanan Penny lagi! Dia mau makan disini!”
“Ini dia! Makanan kesukaanmu Penny!” sahut Stephen senang.
“Ayo dimakan!” pinta Ruben sambil menyuapinya.
“Rud, kayaknya peluangmu semakin tipis deh!” sindir Clive.
“Kalau kami jodoh, walaupun seribu Ruben datang kesini, nggak ada artinya!” jawab Rudi dengan tenang.
***
Setelah pelajaran usai, Ruben mengajak Penny bicara di taman. “Maaf, apa aku pernah ke sini? Dan apa aku mengenalmu?” kata Ruben penuh tanda tanya.
“Menurutmu, kamu mengenalku atau tidak?”
“Yee…! Ditanya malah balik nanya! Kamu gimana sih!”
“Aku tahu semua kenangan tentang kita berdua, tak tersisa sedikitpun di memorimu! Jadi tak usah pedulikan kamu pernah kesini atau tidak, kamu mengenalku atau tidak! Itu semua nggak penting! Masa lalu biar saja berlalu, yang terpenting hari ini, dan hari esok! Jadilah Ruben Rhodnius, Sang Striker tangguh! Selamat datang di Sorbonne Soccer School!”
“Kenapa kamu bilang kita punya kenangan?”
Namun Penny tidak menjawabnya, dalam hati dia berkata, “Karena kamulah aku bisa sampai ke sini, Alan!”
“Kamu memanggilku Alan?”
“Kamu mendengar suara hatiku, bagaimana bisa?”
“Entahlah! Aku juga nggak ngerti! Tapi apa dulu kamu memanggilku Alan?”
“Akan kuceritakan padamu semuanya, dan kamu boleh percaya atau tidak!” kemudian Penny bercerita panjang lebar tentang dirinya, Alan dan Ruben. Ruben mendengarkan dengan seksama. “Begitulah akhirnya, aku menjadi the Girlie Striker sampai sekarang!”
“Jadi Susan yang meminta Alanmu untuk melakukan itu semua?”
“Ya, tapi dia bukan Alanku. Aku dan Alan tidak punya hubungan spesial! Aku menolongnya hanya karena kasihan! Nggak lebih! Dan antara kita juga nggak aa yang spesial, bahkan kita nggak pernah berjumpa!”
“Yakin, kamu tidak merasa kehilangan dia!”
“Tentu saja!” ucap Penny dengan mantap. Tiba – tiba Ruben menarik lembut lengan Penny dan melingkarkan tangannya, memeluk Penny dengan erat. Mata Penny terpejam damai.
“Kalau benar dulu aku adalah Alan, maka aku tak akan rela kamu melupakan ku!” bisik Ruben pelan. Tak disadari, ada sepasang mata yang dari tadi terbakar api cemburu melihat pemandangan itu. Sepasang mata itu adalah milik Rudi.
***
Rudi duduk menyendiri di pinggir lapangan hijau, pandangannya kosong, hampa. Pikirannya masih terisi penuh dengan Ruben dan Penny, seakan tak mampu menghapus peristiwa itu dari benaknya. Dia merasa kalau mulai hari ini hubungannya dengan Penny akan bertambah jauh. Kepulangan Ruben benar – benar telah memukul jiwanya.
“Rud, kamu kenapa?” seru Penny yang heran melihat perubahan raut wajah Rudi ketika melihat kedatangannya.
“Penny, perasaanmu padaku sebenarnya kayak gimana sih?”
“..................”
“Kenapa kamu diam aja? Apakah hanya Ruben yang ada di hatimu?”
“Rud, aku juga masih bingung dengan perasaanku sendiri! Tolong jangan desak aku dengan pertanyaan seperti itu!”
“Bilang aja kalau aku hanya pelarianmu, aku sadar kok siapa aku! Kamu rela melakukan apa saja untuk Ruben, itu artinya kamu begitu menyayanginya! Buktinya demi kehormatan Ruben, kamu tak pedulikan keselamatanmu!” ujar Rudi, kemudian pergi meninggalkan Penny.
“Tuhan, beri aku petunjuk siapa sebenarnya yang harus ku cintai?” isak Penny. Dia benar – benar bingung, dia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Apa dia mencintai Alan yang sekarang mengisi tubuh Ruben atau menyayangi Rudi? Kenangannya bersama Alan sangat banyak! Alan adalah pria pertama yang dengan tulus mencintainya. Sedangkan Rudi merupakan pria yang selalu membuatnya spesial, dan Rudi begitu lembut.
***
“Scott, selama aku tidak disini, siapa orang yang paling dekat dengan Penny?” tanya Ruben sambil merapikan tempat tidurnya.
“Tapi kuharap kamu tidak marah pada Penny, sebenarnya setelah kamu pergi Penny jadian dengan Rudi. Mereka berdua dekat sekali! Penny adalah striker yang hebat, begitu juga dengan Rudi, sehingga di setiap pertandingan mereka berdualah yang menjadi andalan sekolah ini!” jelas Scott seraya memandang foto timnas Sorbonne Soccer School yang terpajang di sudut kamar mereka. “Tapi aku yakin, Penny tidak pernah melupakanmu! Semua itu terjadi pasti karena keadaan!”
“Kalung bulan sabit yang dipakai Penny itu hadiah dari Rudi ya?”
“Bukannya itu tanda cinta kalian berdua? Kamu juga punya kan, Ben?”
“Oh ya, aku lupa! Jadi kalung itu tanda cinta kami ya! Bulan sabit, mirip anggrek bulan! Hey, dimana aku bisa mendapatkan anggrek bulan?”
“Di tengah hutan sana, tepatnya di tepi sebuah telaga! Ada banyak anggrek bulan yang hanya mekar di malam bulan purnama!”
“Emang iya, anggrek bulan hanya mekar di malam bulan purnama?”
“Nggak tau, itu juga dongeng nenekku!”
“Huh kirain benar!”
“Siapa tau aja iya! Cinta sejati itu kan dapat menembus ruang dan waktu!” ujar Scott kemudian pergi meninggalkan Ruben sendirian di kamar itu.
“Iya juga ya! Susan, maafkan aku jika aku jatuh cinta pada gadis itu! Tapi aku seakan melihat wajahmu dalam auranya! Mungkinkah kamu hidup dalam dirinya! Atau Alan yang hidup dalam diriku!”
***
Pagi ini seluruh siswa Sorbonne Soccer School telah berkumpul di lapangan hijau untuk mengikuti latihan bersama Mr. Baker. Namun Ruben belum juga kelihatan, ternyata dia terlambat. Semua orang telah berbaris dengan rapi. Mr. Baker yang berpakaian bola lengkap berdiri dengan wajah penuh amarah.
“Ruben!” teriaknya ketika melihat Ruben datang. “Kamu tidak pernah berubah ya! Selalu saja terlambat! Lari 100 keliling lapangan ini! Cepat!”
“Baik Pak!” jawab Ruben yang segera berlari.
Ketika Penny melihat Ruben melakukan hukumannya, dia kembali teringat peristiwa pada saat dia terlambat. Ruben terus berlari memecahkan angka seratus yang diberikan Mr. Baker padanya. Dan akhirnya dia berhasil, dengan senyum yang dikulum Ruben menghadap Mr. Baker.
“Pak, saya sudah melakukan seratus putaran!” kata Ruben dengan wajah berseri - seri.
“Bagus, kalau begitu masuk barisan.” jawabnya singkat. “Ok. Kalian semua push up seratus kali!”
“Baik Pak!” ucap siswanya serentak. Namun Penny malah duduk bersila menekuk dagu, sambil memperhatikan Ruben. Dia seakan melihat Alan yang sedang push up.
“Penny Dombeck!” hardik Mr. Baker. “Kalau kamu tidak mau mengikuti instruksiku, silahkan keluar lapangan!”
Tanpa menjawab sedikit pun Penny langsung beranjak meninggalkan lapangan. Kemudian dia duduk di sebuah bangku yang berjejer di tepi lapangan. Dengan pandangan lurus menatap pada Ruben. Entah apa yang terjadi padanya, Penny seperti tersihir.
“Oke, istirahat dulu!” perintah Mr. Baker. Semua siswa pun mematuhi perintahnya, masing – masing mereka mengambil botol minuman yang telah tersedia di hadapan mereka. Ruben mengambil sebuah botol miniman kemudian melemparkannya ke arah Penny. “Minumlah! Biar pikiranmu jadi jernih!”
Penny seakan tersadar dari lamunannya, mematuhi Ruben dan menghabiskan air yang ada dalam botol itu. Dia berjalan menghampiri Mr. Baker. “Maaf Pak, kelihatannya saya perlu istirahat! Bolehkah saya kembali ke asrama!”
“Silahkan!”
“Terima kasih Pak!” Penny pun pergi meninggalkan lapangan hijau.
“Baik, anak – anak kita lanjutkan latihan lagi!” latihan dilanjutkan selama beberap jam. Setelah itu semua siswa kembali menuju asrama, kecuali Ruben dan Rudi.
“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan padamu!” ungkap Rudi.
“Begitupun halnya denganku!” balas Ruben.
“Sejak awal kita bertemu, aku sudah tidak suka padamu! Kupikir ketika kamu pergi waktu itu, kamu tidak akan kembali lagi! Tapi kenapa kamu harus kembali lagi! Tak puaskah kamu menyakiti Penny! Dia sudah cukup menderita!”
“Aku tidak pernah bermaksud menyakitinya! Aku hanya ingin menjadi seorang striker terbaik!”
“Dasar kamu egois!” dengan emosi Rudi memukul hidung Ruben hingga berdarah. “Dasar bajingan!”
Rudi terus menghajar Ruben tiada henti, namun Ruben tidak sanggup membalas, energinya sudah terkuras pada latihan tadi. Ruben pun terkapar berlumuran darah tak sadarkan diri. Teman – temannya yang melihat kejadian itu segera melerai Rudi, dan membawa Ruben menuju ruang pengobatan. Dan beberapa orang segera memberitahukan hal itu pada Penny.
“Praaak!” tamparan itu melayang dari tangan Penny ke wajah Rudi. “Dia baru aja sembuh dari sakitnya! Dan kamu malah menghajarnya! Apa sih mau mu?”
“Sakit? Ruben sakit? Dia sakit apa?” pertanyaan itu pun keluar dari mulut Rudi.
“.....................”
“Maafkan aku Penny! Aku mengaku salah! Jika Ruben sampai kenapa – napa akulah yang patut disalahkan!”
“Penny, Ruben sudah siuman!” kata Ling pada Penny. Mereka berdua pun segera masuk ke dalam kamar pengobatan Ruben. Dilihatnya wajah Ruben yang memar dan kepalanya yang dililit perban.
“Ben kamu nggak apa – apa?” isak Penny sambil memegang tangan kanan Ruben.
“Nggak separah kamu dulu kok!” jawab Ruben menggenggam erat tangan Penny. “Aku memang pantas mendapatkan ini, tapi ini semua nggak sebanding dengan penderitaan kamu!”
“Ben, aku menyesal melakukan ini semua padamu! Maafkan aku!” pinta Rudi.
“Make easy Rud! Aku nggak apa – apa kok!”
“Udah jangan banyak bicara dulu! Kamu harus istirahat, kasihan Mama dan Papa kamu, kalau mereka sampai tahu kamu kayak gini!” isak Penny.
“Kamu juga jangan nangis ya!” ujar Ruben seraya mengusap air mata yang menetes dari pelupuk mata Penny. Kemudian Ruben berbaring dan memejamkan matanya. Teman – temannya yang tadi menemani Penny berangsur pergi, Rudi pun pergi meninggalkannya. Tinggallah Penny seorang diri yang terlelap lelah di atas sofa. Malam pun menjelang, sinar bulan purnama menembus celah – celah jendela menyinari mereka berdua. Ruben tersentak dari tidurnya.
“Penny, bangun!” ucapnya ingin membangunkan Penny.
“Alan please deh! Inikan sudah larut malam, aku ngantuk nih!” elak Penny manja.
“Aku bukan Alan! I’m Ruben!”
“Ah! Kamu sudah bangun Ben? Ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu?”
“Aku hanya ingin mengajakmu jalan – jalan! Bolehkan?”
“Malam – malam begini?”
“Why not!” Ruben pun memegang tangan Penny, mengajaknya keluar dari asrama.
“Kita mau kemana sih?”
“Lihat aja nanti!” Ruben terus menggandeng Penny berjalan memasuki hutan. Setibanya mereka di tengah hutan.
“Penny, kita sudah sampai!”
“Wow, indah sekali! Anggrek bulan di bawah sinar bulan purnama!” Penny sangat takjub dengan pemandangan yang disaksikannya. Air telaga berkilauan diterpa sinar bulan. “Dari mana kamu tahu ada hal yang seindah ini di Stuttgard, kamu kan orang Perancis!”
“Bukankah cinta sejati mampu menembus ruang dan waktu!”
Penny menoleh ke arah Ruben, pandangan mereka bertabrakan. Lama sekali, diterangi cahaya rembulan.
“Penny, selama ini aku mencoba menutupi rasa cintaku padamu! Lama banget! Sekarang aku nggak mau memendamnya lagi, karena mungkin ini kesempatan terakhirku! Maukah kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu?”
“Aku . . .” Penny tak bereaksi, lama ia diam, lama ia menatap Ruben, lama ia berfikir. Mata Ruben benar – benar tulus, ia tahu Ruben sungguh – sungguh. Tapi . . .
“Penny, apa kamu masih belum bisa menjawabnya sekarang!”
“Besok aku berencana kembali ke negeriku, mungkin aku bodoh atau apa! Tapi tempatku memang bukan disini! Aku hanya menggantikanmu sementara, posisiku sekarang adalah milikmu, aku bukan apa – apa!”
“Semua keputusan ada ditanganmu, hidup ini mudah kalau dipermudah, dan sulit kalau dipersulit! Tapi kumohon, jika tuhan memberi kita kesempatan untuk bertemu lagi! Kamu mau menjawab pertanyaan hatiku ini!” Mereka berdua pun saling berpelukan, malam itupun menjadi malam perpisahan bagi mereka berdua.
***
Keesokan harinya Mark datang menjemput Penny. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada semua orang Penny pun menaiki mobil kakaknya.
“Kamu sudah siap Penny?”
“Tentu saja Mark!” Mark pun bersiap – siap menggas mobilnya. Hujan turun dengan lebatnya. Tiba – tiba seseorang berteriak memanggil Penny. Penny segera membuka kaca mobilnya, pria itu basah kuyup, dia pun berlari menghampiri Penny.
“Aku hanya ingin memberikan seikat anggrek bulan ini untukmu! Selamat jalan!” ucap Ruben seraya menyerahkan anggrek bulan itu pada Penny. “Tersenyumlah bulan purnamaku, biar bintang tak pernah merasa kesepian!”
“Penny, kita berangkat sekarang!” mobil Mark pun melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan Sorbonne Soccer School yang mulai basah oleh tetesan hujan yang turun dari langit.
“Wajah pria tadi mirip sekali dengan wajahmu ketika . . .”
“Ketika aku berubah jadi laki – laki! Namanya Ruben, sama seperti namaku waktu itu! Kak, petualanganku telah usai! Aku mau pulang, aku capek!” kata Penny yang kemudian terlelap.
“Tidurlah Penny! Kita akan segera pulang!”
Sehari setelah Penny kembali ke Indonesia, dia kemudian dikirim ke Boston untuk kuliah seni lukis. Penny berjanji kepada ke dua orang tuanya untuk menjadi seorang pelukis terkenal. Dan waktu lima tahun telah mengubah Penny Dombeck menjadi lebih feminin, sebagai seorang pelukis. Lukisannya sangat disukai oleh para penikmat seni.
“Ma, Pa, sekarang aku yakin kalau aku benar – benar anak kalian berdua! Walaupun tidak bisa menyanyi, tapi aku bisa melukis!” ujar Penny ketika kedua orang tuanya berkunjung ke galerinya. “Semua ini kubuat untuk kalian yang kucintai!”
“Kami berdua senang melihat perubahaanmu ini, Penny! Namun kami berdua berharap kamu segera menyusul Mark dan Nathan ke jenjang pernikahan!” sahut Papanya.
“Papamu benar sayang! Mark sudah punya satu orang anak, sedangkan Nathan sebentar lagi juga akan menyusul! Mama juga ingin melihat kamu bahagia seutuhnya!”
“Ma, belum tentu pernikahan membuat kita bahagia bukan? Mungkin Mark bahagia bersama Karin, dan Nathan bahagia bersama Victoria. Tapi aku lebih bahagia dengan kondisiku sekarang! Kalau memang aku harus menikah, itu nanti ketika aku benar – benar menemukan cinta sejatiku!”
“Maaf sayang! Kami tidak bisa menanti lebih lama! Dua minggu untuk menemukan cinta sejatimu, jika gagal maka bersiaplah untuk sebuah perjodohan!” tukas Papanya.
“Apa? Hey, menemukan cinta sejati tidak semudah yang kalian pikirkan! Aku . . .” belum sempat Penny meneruskan pembicaraannya, kedua orang tuanya telah beranjak pergi.
“Ingat hanya dua minggu!” kata mereka kemudian keluar dari ruang galeri Penny.
8
Tok . . . tok . . . tok . . . pintu Apartemen Penny di ketuk dengan keras dari luar.
“Ya tunggu sebentar!” Penny segera membukakan pintu, ternyata Mark datang bersama putranya, Gavin.
“Penny, aku butuh bantuanmu! Aku harus manggung dan Karin harus shooting, so please jagain Gavin ya! Nanti malam aku menjemputnya lagi!” ujar Mark sambil meletakkan barang – barang anaknya ke dalam Apartemen Penny. Setelah itu dia pergi meninggalkan anak berumur tiga tahun itu bersama Penny.
“Papamu selalu begitu ya? Apa ka,u bahagia?” tanya Penny pada Gavin.
“Tentu saja, walaupun mereka super sibuk, mereka tetap sayang padaku! Tante sendiri apa bahagia!”
“Ya, aku sangat bahagia. Oh ya, kamu mau makan apa? Biar kubuatkan!”
“Masih kenyang, tadi pagi Mama membuatkan omelet kesukaanku! Tan, itu apa?” kata Gavin seraya menunjuk lukisan Penny yang sedang dikerjakannya.
“Itu lukisan sayang! Temanya kebahagiaan! Baguskan!”
“Tapi kok kesannya menakutkan, dimana letak kebahagiaannya?”
“Uh kamu kecil – kecil sok tau! Jangan komentar macam – macam deh! Nanti Tante ngambek nih!”
“Jangan ngambek dong, Tan! Gimana kalau Tante menemani Gavin ke arena futsal?”
“Futsal? Kamu suka main bola?”
“Iya dong! Aku kan fans beratnya Ruben Rhodnius!”
“Ruben Rhodnius?”
“Masak Tante nggak kenal dia sih! Dia kan pemain bola terhebat dunia! Makanya sering – sering nonton bola!”
“Gavin, kalo kamu ceramahin Tante lagi, Tante nggak mau menemani kamu ke arena futsal!”
“Oke deh! Sebagai pria sejati, Gavin ngalah sama Tante! Yuk kita pergi!” ajak Gavin pada Tantenya. Penny pun menuruti permintaan keponakannya itu. Setibanya mereka di arena futsal, Gavin segera berlari meninggalkan Penny. Dia bergabung dengan teman – teman sebayanya, selang beberapa menit kemudian Gavin bersama timnya siap bertanding di tengah lapangan. Penny dicuekin abis! Dengan hati yang dongkol Penny duduk dikursi penonton untuk menonton kebolehan keponakannya itu. Dan ternyata tim Gavin kalah! Dengan wajah cemberut dia menghampiri Penny.
“Kalah ya?” ejek Penny.
“Hari ini iya, tapi besok aku akan menang! Tadi aku terlalu menanti datangnya bola, padahal bola itu tidak akan datang kalau tidak dikejar!”
“Begitu juga dengan cinta sejati! Dia tidak akan pernah datang dengan sendirinya, aku harus mengejar cinta sejatiku! Makasih Gavin sayang!” ujar Penny seraya memeluk Gavin dengan erat.
***
Keesokan harinya Penny langsung memesan tiket ke Jerman, dia ingin menjemput cinta sejatinya. Sesampainya di Jerman, dia segera menuju kota Stuttgard, tepatnya Sorbonne Soccer School.
“Hai, Stephen!” sapa Penny pada seorang pria gemuk yang kepalanya terlihat memutih.
“Penny! Lama tak berjumpa, kamu kelihatan tambah cantik saja!”
“Stephen, Rudi dimana? Apa dia ada disin?”
“Tentu saja, Rudi sekarang ada di lantai dua! Oh ya, kamu datang di saat yang tepat! Si dia juga mencarimu!”
“Oh ya!” Penny segera berlari menaiki tangga menuju lantai dua. Dilihatnya seorang pria berbadan tinggi tegap mengenakan jas tersenyum padanya. “Rudi!” Penny memeluknya dengan erat.
“Penny aku sangat rindu padamu!”
“Aku juga! Rasanya hidupku selama lima tahun tanpa dirimu, tak ada artinya!”
“Kamu masih saja suka membual ya!”
“Sayang, tamunya sudah pergi tuh!” ucap seorang gadis tersenyum manis pada Penny.
“Kenapa dia begitu cepat perginya? Sampe lupa, Penny ini Steina istriku!”
“Hai, senang berkenalan denganmu! Jadi dia Penny yang sering kamu bicarakan itu!”
Namun Penny tidak sanggup berkata apa – apa, cinta yang susah payah dijemputnya ke negeri Jerman ini ternyata telah menjadi milik orang lain. Apakah perasaannya pada Rudi selama ini bukan cinta sejati!
“Ada apa Penny?” tanya Rudi penasaran.
“Kamu jahat Rud! Kenapa kamu menikah tanpa mengundangku? Padahal aku telah mempersiapkan kado spesial untuk kalian berdua. Sekarang aku kan pelukis, aku telah melukis tim kita dulu!”
“Seperti itu!” ujar Rudi sambil menunjukkan sebuah lukisan yang terpajang disamping ruangan.
“................”
“Lukisan itu dibuat oleh Ruben, barusan dia mengantarkannya kesini. Tamu yang dibilang istriku tadi itu adalah dia!”
“Apa? Ruben tadi kesini! Setelah ini dia mau kemana?”
“Katanya sih dia langsung kembali ke Paris! Memang kenapa!” mendengar perkataan Rudi tersebut, Penny segera berlari menuju mobilnya. Secepatnya dia menggas mobilnya menuju bandara. Namun di tengah perjalanan mobilnya mogok.
“Kumohon tuhan, kalau benar Ruben cinta sejatiku! Hidupkan mobil ini!” pinta Penny sepenuh hati. Dan tiba – tiba mobilnya menyala. Dia pun tidak membuang kesempatan itu, segera dipacunya kecepatan penuh menuju bandara. Akhirnya dia sampai juga di bandara.
“Permisi, apa penerbangan menuju Paris telah tinggal landas?” tanya Penny pada seorang petugas bandara.
“Maaf Nona, baru saja pesawatnya berangkat!”
“Apa?” Penny kehabisan energi dia terkulai tak sadarkan diri.
***
“Ma!” ucap Penny sambil mencoba membuka matanya. Seorang pria berjas biru berdiri disamping tempat tidurnya.
“Kamu tidak apa – apa, Penny?”
“Ling! Kamu Ling bukan?”
“Ya, aku sekarang pake kontak lensa. Semakin ganteng kan?”
“Tentu saja!” kata Penny sambil berusaha untuk duduk. “Terima kasih ya Ling, kalau tadi kamu tidak menolongku, entah apa yang terjadi padaku sekarang!”
“Jangan berterima kasih padaku! Kurasa ada orang yang lebih pantas menerima ucapan itu! Ini dia menitipkan anggrek bulan untukmu!”
“Ruben! Mana dia?”
“Katanya sih, dia harus berangkat ke Paris, ada urusan penting gitu! Maklumlah dia menjadi sangat sibuk setelah piala dunia kemaren!”
“Jadi dia benar – benar sudah menjadi orang terkenal ya! Ngomong – ngomong kamu ada urusan apa kesini Ling?”
“Aku menemaninya mengunjungi Sorbonne Soccer School, sekarangkan aku adalah managernya. Karena dengan berada di sisnya, rasanya aku telah mewujudkan mimpiku menjadi orang terkenal!”
“Tentu kamu tahu banyak tentang dia dong! Apa sekarang dia sudah menikah?”
“Sebentar lagi, orang tuanya telah mengatur perjodohannya! Maaf kalau berita ini tidak mengenakkanmu! Sebenarnya dia kembali ke Paris untuk alasan itu!”
“Nggak apa – apa kok! Mungkin itu memang terbaik untuknya! Oh ya, apa selama lima tahun ini dia pernah memikirkan aku, walaupun hanya sekali?”
“Selalu, dalam pikirannya hanya ada kamu. Bahkan sebelum piala dunia di Argentina, dia mengunjungi kamu dulu ke Boston!”
“Apa? Kamu yakin?”
“Ya iyalah! Aku yang menemaninya, tapi kamu waktu itu nggak mau ditemui siapa – siapa! Makanya kalian nggak ketemu!”
“Sudahlah nggak ada gunanya ngomongin masalah itu! Aku rasa aku sudah cukup kuat untuk kembali ke Indonesia! Titip salam buat dia ya!” ujar Penny sambil beranjak turun dari tempat tidurnya.
“Kamu nggak mau makan dulu Penny? Ruben, tadi udah memesan lobster kesukaanmu. Nah itu makanannya datang!”
“Nggak usah aku tidak lapar! Buat kamu aja!” kata Penny pergi meninggalkan Ling di ruang rumah sakit tersebut.
***
Setiba di Apartemennya, Penny segera menghempaskan badannya ke atas tempat tidur. Setelah itu diambilnya telepon yang terletak di atas meja kecil, sebelah kiri tempat tidurnya.
“Hallo Pa, aku nyerah deh! Aku mau dijodohkan, dengan aja yang Papa mau!”
“Bagus! Kalo gitu sebentar lagi Mamamu akan sampai disana, untuk membantumu dandan! Soalnya keluarga calonmu itu bakal datang nanti malam!”
“Terserah deh!” sahut Penny kemudian menutup teleponnya.
Selang beberapa menit kemudian, Mamanya Penny pun datang. “Hey, sayang! Ayo siap – siap, Mama akan mengajak kamu ke salon yang paling terkenal hari ini!”
“Terserah Mama aja!” jawan Penny tak bersemangat.
“Tapi kamu nggak boleh cemberut seperti itu! Mama yakin, pria pilihan kami bisa membuat kamu bahagia! Ayo kita pergi!”
***
Malam yang dinanti pun telah tiba, semua keluarga telah berkumpul di rumah keluarga Dombeck. Namun keluarga pihak laki – laki belum juga datang. Dan Penny masih saja cemberut, sambil duduk di ruang makan.
“Tan, kok cemberut aja?” goda Gavin. “Tau nggak kalo calon pengantin perempuan suka cemberut, anaknya bisa kayak gorila lho!”
“Ih kamu cerewet banget sih!” seru Penny kesal kemudian mengejar Gavin. Melihat Tantenya ingin mengejarnya, Gavin segera berlari. Karena rasa kesalnya, Penny mengambil sebuah kue Tar yang terletak diatas meja makan. Ketika melihat ada kesempatan yang tepat Penny secepatnya melemparkan Tar itu pada Gavin.
Gavin berusaha mengelak, “Tidak kena!” ujarnya bangga. Ternyata kue itu tepat mengenai wajah pria yang menjadi calon suami Penny. Bukan hanya wajahnya yang blepotan, jas berwarna putih yang dikenakannya juga tidak luput dari serangan kue tar.
“Ooops! Sorry!” ucap Penny sambil menggigit jari.
“Penny, apa yang kamu lakukan?” pekik Mamanya.
“Sudah nggak apa – apa! Apa disini ada kamar mandi?” tanya pria itu.
“Penny, ayo antar dia ke kamar mandi!” bisik Victoria.
“Mari saya antar ke kamar mandi!” Penny pun mengajak pria itu ke kamar mandi kakaknya Mark. Sebagai ganti jas pria itu yang kotor, Penny pun mengambilkan jas dan kemeja yang ada di lemari kakanya itu. Beberapa menit setelah masuk ke kamar mandi pria itu pun keluar, dia hanya mengenakan celananya dan handuk untuk mengelap badannya.
“Ini pakaianmu!” kata Penny menyerahkan pakaian yang telah disiapkannya itu tanpa berani melihat pada pria itu.
“Merci!” sahut pria itu seraya memakai pakaian yang diberikan Penny.
“Kamu orang Perancis ya?” tanya Penny mendengar ucapan terima kasih pria itu dalam bahasa Perancis.
“Ya!”
“Kamu kerja atau masih sekolah?”
“Kerja.”
“Kerja dimana?”
“Di Paris.”
“Kok di Paris aja sih! Nggak berkembang itu namanya! Kenapa kamu nggak coba kerja di negara lain?”
“Nggak tau!”
“Sudah siap pakai bajunya?”
“Sudah!”
“Apa kamu butuh yang lain?”
“Tidak!”
“Bisa aku keluar dari kamar ini sekarang?”
“Bisa!”
Penny pun beranjak dari kamar kakaknya tanpa sempat melirik pada pria itu, dia sedikit kesal dengan cara pria itu menjawab pertanyaannya. “Gimana mau menjadi suamiku kalo dia ngomong pelit banget!” keluhnya dalam hati. Setibanya di ruang keluarga, Penny segera duduk di samping Victoria. Dia terus saja menunduk, tanpa memperdulikan calon mertuanya yang duduk tepat dihadapannya. Kemudian pria itu pun menyusul Penny, dia duduk persis disamping kanan Penny.
“Penny, kenapa kamu menunduk saja? Tolonglah hormati calon suamimu!” bisik Victoria ke telinga Penny.
“Mungkin dia masih malu! Maklumlah anak gadis memang suka begitu!” ucap wanita yang merupakan calon mertuanya. Tiba – tiba calon suaminya itu memegang tangan kanan Penny, tentu saja Penny sangat serta merta kaget. “Belum juga kawin, udah berani nggak sopan!” kata Penny dalam hatinya.
“Om, bolehkah malam ini saya mengajak Penny makan malam di luar?” pinta pria itu pada papa Penny.
“O silahkan! Penny, kamu mau kan?” tanya Papanya pada Penny.
“Sorry Pa, aku agak alergi dengan udara malam!” jawab Penny tegas.
“Masak sih?” sambung pria itu.
“Iya, aku alergi!” Penny menoleh ke arah pria itu, pandangan mereka bertabrakan, lama sekali. “Ruben!”
“Ya! Masih alergi?”
“Udah enggak!”
“Kenapa?”
“Nggak tau!”
“Kita pergi sekarang?”
“Boleh!”
“Kalo gitu kami pergi dulu ya!” Mereka pun pergi menuju sebuah tempat yang telah dipersiapkan Ruben. Selama diperjalanan Penny diam seribu bahasa, dia benar – benar malu.
“Kita sudah sampai!” mobil Ruben berhenti di depan sebuah stadion bola.
“Stadion bola ini!” Penny teringat akan pertemuan pertamanya dengan Alan di Stadion bola itu. “Mau apa kita disini? Katanya mau makan malam?”
“Ayo masuk!” Ruben pun memegang tangan Penny, mengajaknya masuk ke dalam stadion itu. Stadion itu gelap sekali, tiba – tiba lampu di sekeliling lapangan itu pun hidup. Penny melihat keselilingnya, dilihatnya begitu banyak balon berwarna merah muda di tengah lapangan itu. Sepasang kursi dan sebuah meja yang beralaskan taplak berwarna biru terletak tepat di tengah – tengah lapangan. Sebotol wine telah bersanding dengan dua buah gelas diatas meja tersebut. Selain itu beribu mawar merah muda yang semerbak baunya menyelimuti lapangan yang tadinya hijau itu.
“Apa – apaan ini, Ben?” ucap Penny sangat terkejut melihat pemandangan yang disaksikannya.
“Surprise!” seru Ruben sambil memberikan setangkai anggrek bulan kepada Penny. “Aku nggak tahu, apa kamu suka atau tidak. Silahkan masuk my princes!”
Tiba – tiba Penny menangis, air mata menetes dari pelupuk matanya. “Kamu mengingatkanku pada Alan! Stadion ini adalah tempat pertama kali kami bertemu, suasana makan malam ini juga sama seperti yang Alan buat disaat pertama kali kami makan malam.”
“Sudahlah! Alan tidak akan senang melihat kamu menangis!” ujar Ruben seraya menyapu air mata Penny. Kemudian dia mempersilahkan Penny duduk. Seorang pelayan datang membawakan lobster yang masih panas, dan menuangkan wine ke dalam gelas mereka berdua.
“Ayo bersulang untuk kebahagiaanmu malam ini!” ajak Ruben sambil memberikan gelas berisi wine ke tangan Penny. Setelah itu mereka pun mulai makan, ketika Penny membuka cangkang lobsternya, dia melihat ada sesuatu yang mengkilat. Ternyata itu adalah sebuah cincin berlian.
“Ben apa ini?” tanya Penny heran, Ruben pun mengambilnya dan memasangkannya di jari manis Penny.
“Maukah kamu menikah denganku Penny?”
“Nggak. Aku nggak mau menjawabnya sebelum kamu mengalahkan aku dalam pacu lari!” Penny pun melepaskan sepatu high-heelnya kemudian berlari mengelilingi lapangan.
“Awas ya! Sebentar lagi aku mengalahkanmu!” Ruben segera mengejar Penny dengan kecepatan tinggi. Akhirnya dia berhasil menangkap tangan Penny. Ruben pun menarik tangan Penny sekuat mungkin.
“Sekarang kamu tidak bisa lari lagi!” ucap Ruben tersengal – sengal.
“Baiklah, kalau memang cintamu telah menembus ruang dan waktu. Aku bersedia!” jawab Penny mantap.
“Bersedia ngapain?”
“Ya, tadi kan kamu minta aku menjawab, apa aku mau menikah denganmu atau tidak! Dan aku mau! Gimana sih?”
“Oh ya, kok aku nggak ingat! Kamu salah kali! Masak aku ngajak kamu kawin!”
“Ya udah! Aku juga nggak sudi nikah sama kamu!”
“Yang bener?” Ruben pun segera merangkul Penny.
“Ih Ruben! Kamu jahat ya!”
“Kalau bulan tersenyum begini, bintangpun semakin bersinar! I love you!” ujar Ruben seraya mengecup bibir Penny. Wajah Penny pun memerah.
“I love you too!” jawabnya tersipu malu.
“I love you too!” jawabnya tersipu malu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar