
“Kak, hari ini kok kakak dandan manis sekali?”
“.....” Dinda tidak menjawab pertanyaan adiknya, Titi, dia tetap sibuk merapikan jilbabnya di depan cermin. Jilbab berwarna biru langit itu melingkari kepalanya dengan sempurna, wajah Dinda tampak putih bercahaya, seperti cerahnya sang surya di langit biru. Tubuhnya yang langsing dibaluti gamis putih bercorak bunga-bunga berwarna biru. Penuh dengan keteduhan, ketenangan, membuat nyaman setiap yang memandang.
“Mau pergi kondangan ya Kak?” goda Titi dengan air muka penasaran.
“Enak aja! Kakak cuma mau pergi keluar buat jalan-jaln kok!” wajah Dinda serta merta memerah. Hari ini merupakan hari yang sangat dinantikan Dinda, pasalnya ada seseorang yang mengajaknya ketemuan. Seseorang yang begitu bermakna dalam hidup Dinda, seseorang yang membuat tangis dan tawanya begitu berarti, seseorang yang memberi warna pada setiap langkahnya, seseorang yang senyumnya mampu meruntuhkan tembok kegundahan di hati Dinda, seseorang itu bernama Diko Perdana.
“Titi boleh ikutkan Kak!” adiknya yang baru berumur tujuh tahun itu merengek manja.
”Ih anak kecil mintak ikut! Gak boleh! Titi di rumah aja ya! Kan kasihan nenek ditinggal sendirian!”
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Dinda ikutan nimbrung, ”Ah, nenek udah gede kok! Jadi gak apa-apa ditinggal di rumah sendirian! Titi diajak aja Din!”
”Nenek apa-apaan sih! Gak ngisengin Dinda sehari aja napa?” rengek Dinda pada neneknya. ”Pokoknya Dinda gak mau ngajak Titi, bukan karena Dinda pelit atau tegaan tapi plis nek ngerti Dinda sekali ini aja! Besok-besok gak lagi kok!”
”Ya udah kalo gak mau ngajak Titi! Nek, entar kita jalan-jalan juga ya! Ke Jam Gadang ya Nek!” Titi akhirnya mengalah.
”Dengan senang hati sayang!” Nenek merangkul Titi yang nyaris menangis. ”Oya Din, jangan pulang kesorean ya! Nih kunci Vario nenek pake aja! Tapi janji sebelum Ashar mesti balik lho!”
”Insyaallah nek! Makasih udah ngerti Dinda! Assalamu’alaikum!”
”Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh!” setelah mengecup punggung tangan neneknya, Dinda pun berlalu.
”Gitu tuh kalo mau ketemu cowoknya!” gerutu Titi setengah berbisik.
”Memangnya Titi tau darimana kalau kak Dinda mau ketemu sama cowoknya?”
”He...he...tadi Titi baca-baca SMS masuknya kak Dinda!”
”Kebiasan buruk! Jangan diulangi lagi ya! Belum tentu kak Dinda suka SMSnya dibaca oleh orang lain! Menghormati privasi orang itu penting sekali dalam hidup ini Ti!”
”Maafkan Titi Nek!” rasa bersalah mewarnai wajah gadis kecil itu.
”Sudahlah! Tapi nenek kurang percaya kalau Dinda punya cowok! Dinda kan jilbaber, rajin shalat, ibadahnya mantap, qari’ah lagi, masak iya pacaran! Astaghfirullahhal’azhim!”
”Mang pacaran itu gak boleh ya Nek? Kok teman-teman Titi yang di SD dah pacaran ya?”
”Ti, mungkin Titi belum bisa mencerna ini! Tapi satu hal yang mesti nenek tekankan sama Titi, yang halal itu lebih baik daripada yang haram, contoh mana enak goreng ayam atau sup cacing?”
”Goreng ayam dong nek! Apalagi kalo Mama yang masakin! Mm... lezat!”
”Bagus! Begitu juga pacaran! Pacaran itu mendekati zina, artinya dilarang sama agama, dan dapat dikatakan haram! Sedangkan menikah itu halal, diridhoi dan disenangi oleh Allah SWT!”
”Jadi lebih enak menikah ya Nek? Titi kan masih kecil...”
”Titi...Titi...! Siapa yang nyuruh Titi nikah! Akan datang saatnya Nak, dengan berjalannya waktu dan Titi tumbuh menjadi seorang gadis dewasa! Di masa itulah akan hadir seorang pangeran yang akan mengucapkan sumpah setia mengarungi bahtera pernikahan bersama Titi di depan semua orang!”
”Pangerannya keren gak nek?”
”Mungkin! Namun satu hal yang mesti Titi tahu, seorang pangeran tidak suka dengan barang bekas! Selalulah menjaga diri, hindari pacaran! Karena pacaran hanya merusak citra kita!”
”Iya Nek! Titi ngerti!” senyum gadis kecil itu merekah. Entah benar-benar mengerti dengan perkataan neneknya atau karena terlalu polosnya.
***
Waktu itu kira-kira masih pukul 11 siang, toko buku IRAMA belum begitu padat dikunjungi pembeli, ataupun orang-orang yang singgah hanya sekedar untuk membaca. Hujan turun dengan lebat, seorang gadis berjibab lebar yang sejak tadi fokus pada bacaannya berjudul ”Buku Saku Bidan” melihat ke arah jendela toko dengan gusar.
”Dia pasti kehujanan!” gumam Dinda sendiri.
”Bukunya bagus gak Ukh?” sontak Dinda kaget mendengar suara yang sangat dikenalnya menyapa dari belakang. Bibirnya mengembang dengan senyum.
”Akhi udah dari tadi ya?” ucapnya sedikit tergagap. Pria itu tersenyum, meraih buku dengan judul sama.
”Dari jam 10! Trus ana numpang shalat Dhuha di belakang, kebetulan pemilik toko ini teman ana waktu SMA! Abis shalat, eh diajak ngobrol sama dia! Maaf ya ana gak langsung nyamperin ukhti ke sini! Maaf sudah membuat ukhti menunggu lama!” Pria yang bernama Diko itu berkata dan terus memandangi setiap helai buku yang berada di tangannya, entah hal apa yang begitu menarik pada buku tersebut, dia tidak mau melepaskan pandangannya dari sana bahkan untuk melirik wajah gadis yang begitu mencintainya. Namun tentu saja Dinda tak tersinggung, karena pujaan hatinya ini memang selalu begitu. Katanya sih Gadhul Bashar (jaga pandangan), jadi kalau bukan melihat buku, Diko juga sering menunduk melihat lantai. Hal inilah yang mempengaruhi pola pacaran mereka, selalu ada hijab yang membentang begitu luas. Diko adalah pria yang taat, baik, perhatian, setia dan yang paling penting bertanggung jawab. Dinda benar-benar tak habis pikir ketika pria yang ditaksirnya ini mengungkapkan isi hatinya pertengahan tahun yang lalu.
”Ana seorang ikhwan! Itu betul! Tapi ikhwan juga manusia! Ikhwan juga punya rasa dan cinta, tak salahkan kalau ana menyukai ukhti?”
”Gak... gak ada yang salah! Cinta kan fitrah semua manusia dan karena itu Allah ciptakan manusia berpasang-pasangan agar dapat saling mencintai! Tapi kenapa akhi memilih ana?”
”Karena di hati Yusuf hanya ada Zulaikha, karena Muhammad tentram di sisi Khadijah, dan karena Ali bin Abi Thalib memilih Fatimah Azzahra!”
”Sungguh Akh! Ana gak bisa membohongi perasaan ana sendiri! Ana juga memiliki perasaan yang sama dengan akhi! Tapi untuk pacaran ana tidak bisa, pacaran itu mendekati zina Akh! Kalaupun menikah, kita masih sama-sama kuliah! Ana tidak mau rumah tangga yang kita bangun pondasinya masih rapuh! Harap akhi maklum!”
”Bahagia rasanya mendengar pernyataan ukhti yang begitu tegas, berisi dan menggetarkan hati! Ana menyayangi ukhti atas nama Allah SWT, tentu saja ana tidak ada niat sedikitpun menjerumuskan ukhti dalam liang dosa! Ana hanya ingin memiliki teman yang dapat dijadikan tempat mengadu dan berkeluh kesah dalam pahitnya menegakkan izzah islam! Ana hanya ingin punya sahabat yang dapat menemani ana dalam beribadah kepada Allah! Ana hanya ingin punya kawan yang akan menegur jika ana berbuat salah! Dan orang yang menurut ana tepat untuk semua itu adalah ukhti! Maukah ukhti menjadi teman, sahabat, sekaligus kawan bagi diri ana yang lemah ini! Tentu saja dengan hijab sebagai benteng kita!”
”Jujur ana tidak sanggup mengatakan iya! Ana takut andaikan timbul fitnah, karena jurus setan tak hanya satu Akhi! Tapi untuk menjadi teman ataupun sahabat, akan ana coba! Insyaallah kalau kita niatkan pada kebaikan, kita juga kan peroleh kebaikan!”
”^_^”
Sejak itulah, Dinda dan Diko menjalani hubungan ini sampai sekarang. Mengingat kejadian itu, Dinda tak sanggup menahan harunya, butir-butih air mata jatuh satu-satu dari pelupuk matanya.
”Ukhti menangis?”
”Ah..tidak! Ngomong-ngomong gimana kuliahnya Akh?”
”Alhamdulillah lancar! Ada kendala juga sih, tapi dijalani aja! Ukhti juga begitu hendaknya! Jalani dengan tenang! Kalau masalahnya begitu berat maka curahkan pada orang yang paling ukhti anggap dapat menampung semua curahan perasaan ukhti itu! Jangan dipendam, entar jadi penyakit! Ana paling gak bisa melihat orang yang ana sayang menderita!”
”Akh, ana baik-baik saja! Cuma kepikiran masa lalu!”
”Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja! Tapi... lain kali kalau kita ketemuan ukhti tak perlu pake parfumlah! Karena menurut sebuah hadis yang diriwayatkan At Tirmidzi, dandanan perempuan adalah yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya! Ana tidak mau ukhti meniru kebiasaan wanita-wanita jahiliyah, yang keluar rumah menggunakan wangi-wangian untuk menarik lawan jenis! Itu semua ana katakan hanya supaya ukhti selalu terjaga!”
”Maaf Akh! Tadi... ”Dinda kehilangan kata-kata, karena dia memang sengaja berdandan supaya kelihatan lebih menarik dihadapan Diko. Dan ternyata mendapat respon negatif.
”Wah udah jam 12 ya! Afwan jiddan ya Ukht! Ana mesti ke Rumah Sakit YARSI, ada janji sama Papa!”
”Oh ana paham kok, akhi kan mesti banyak belajar! Kan bentar lagi mau jadi dokter! Tapi masih hujan lho!”
”Ana tadi bawa mobil kok! Ukhti masih lama disini? Atau mau ana antar pulang?”
”Gak usah! Akhi duluan aja! Ana masih mau baca-baca! Lagian ana juga bawa motor kok!”
”Benar gak pa-pa Ukht? Sekali lagi afwan, sudah 2 bulan kita gak ketemuan, eh pas ketemuan Cuma beberapa menit! Pasti ukhti kecewa kan!”
”Akhi, hubungan dibentuk tidak membutuhkan kuantitas, melainkan lebih mengutamakan kualitas! Melihat akhi sehat dan dapat tersenyum, itu udah lebih dari cukup! Udah pergi sana, entar papanya kelamaan nunggu lho!”
”Makasih atas pengertiannya Ukht! Assalam’alaikum!”
”Wa’alaikumsalam wr.wb.! Hati-hati ya Akh!”
”^_^”
Hujan turun semakin lebat, Dinda kembali mencoba fokus pada bacaannya. Dia sangat maklum dengan kejadian barusan. Kalau ala pacaran orang biasa pasti sang pacar sudah marah-marah ditinggal pergi cowoknya. Ngambek dan tidak mau ngomong berbulan-bulan. Namun Dinda sudah terbiasa, intensitas pertemuan yang jarang dikarenakan kesibukan di kampus masing-masing serta jarak kampus mereka yang cukup jauh. Diko di Padang sedangkan Dinda di Bukittinggi. Selain itu Diko adalah seorang presiden BEM UNAND, begitu juga dengan Dinda yang merupakan Sekjen BEM AKBID PRIMA NUSANTARA. Belum lagi, kegiatan lembaga dakwah kampus, yang mana mereka berdua begitu aktif di dalamnya. Ketika bersua hanya menanyakan kabar masing-masing kemudian kembali sibuk dengan seabrek aktifitas. Tempat bertemu pun tak pernah di restoran, bioskop, ataupun taman hiburan. Biasanya berkisar antara mesjid dan toko buku. Hanya handphone yang membuat jarak dan kesibukan tak berarti diantara keduanya. Saling mengingatkan waktu shalat wajib dan sunat, berbagi cerita tentang kegiatan di kampus masing-masing, atau hanya sekedar mengucapkan selamat malam.
”Maaf Uni!” seorang penjaga toko menegur Dinda. ”Tadi ada titipan dari Uda yang barusan keluar!”
Dinda menerima sebuah bingkisan balok tebal dari penjaga toko itu.
”Terima kasih ya!” Dinda segera membukanya, sebuah buku bertitel ’La Tahzan’ serta sebuah surat:
Untuk Ukhty yang dirahmati Allah...
Jangan bersedih lagi ya! Maafkan ke-alphaan ana yang tak dapat menyeka air mata Ukhty, atau sekedar menyediakan pundak ini sebagai tempat Ukhty bersandar, bahkan waktu yang patutnya ana lebihkan untuk anti tak tersisa akibat kesibukan. Ukhty sayang... Ukhty yang dirahmati Allah. Jadikanlah buku ini sebagai pelipur lara Ukhty, setidaknya sampai ana halal untuk Ukhty!
Salam
Diko
”Ada-ada aja!” seulas senyum terpancar di wajah Dinda. ”Terima kasih ya Allah mempertemukan hamba dengan pria sebaik dia! Andai sekarang ana telah halal baginya...”
***
Menjelang dzuhur, Dinda telah sampai di rumah. Titi duduk sendirian di ruang keluarga sambil mengutak-atik chanel TV dengan remote di tangannya. Wajahnya cemberut.
”Assalam’alaikum!” sapa Dinda kemudian merangkul adiknya itu.
”Wa’alaikumsalam!” jawab Titi sekenanya.
”Ada apa Ti? Kok tampangmu aneh gitu? Cerita dong sama kakak!”
”Titi gak jadi pergi ke Jam Gadang!”
”Lho?”
”Hari hujan, trus pas reda, tiba-tiba pak Kasman datang, istrinya dah maub melahirkan, jadi butuh bantuan nenek sesegera mungkin!”
”Ooo... itu masalahnya! Ya udah jalan-jalannya sama kakak aja ya! Bentar kakak shalat dzuhur dulu, dah adzan tuh! Berjama’ah yuk!”
Wajah Titi kembali sumringah, ”Yuk Kak!”
***
Sudah jam 8 malam, nenek Dinda belumjuga pulang. Telah berkali-kali handphonenya dihubungi, namun selalu saja tidak diangkat. Sedangkan kata pak Kasman, nenek sudah pamit sebelum Ashar.
”Kak, nenek kemana ya?” tanaya Titi yang juga cemas.
”Itulah, kakak juga bingung! Gak biasanya nenek pulang telat kayak gini! Duh gimana ya? Mana papa sama mama gak di rumah lagi!”
”Kak... Titi taku terjadi apa-apa dengan nenek! Ya Allah plis jangan apa-apakan nenek, nenek Titi orang baik ya Allah! Maafkan Titi tadi udah kesal sama nenek! Titi gak pengen kehilangan nenek ya Allah!”
”Titi!” Dinda merangkul adiknya dengan erat. ”Ya udah! Kita shalat Isya aja dulu, Insyaallah nenek akan baik-baik saja!”
”Iya Kak!”
Mereka berdua pun shalat berjamaah, Dinda menjadi imam dengan Titi makmumnya. Rakaat demi rakaat diakhiri oleh salam. Tiba-tiba...
”Assalam’alaikum!”
”Wa’alaikumsalam! Nenek?!” dengan cepat Dinda dan Titi memeluk Nenek mereka.
”Nenek kemana aja sih? Bikin kami semua cemas aja!”
”Maafkan nenek ya sayang! Tadi abis shalat Ashar di As-Syifa’, rencananya nenek mau beli es krim goreng kesukaan Titi di depan rumah sakit Yarsi, eh pas mau nyebrang, sandal nenek putus dan tiba-tiba dari arah kanan nenek datang mobil ambulance dengan kecepatan tinggi! Alhamdulillah ada seorang anak muda yang dengan cepat mendorong nenek ke trotoar! Tapi sayang malah dia yang tertabrak!”
”Trus kondisi pria itu gimana Nek?” Titi semakin antusias.
”Dia meninggal di tempat!”
”Innalillahi wa innailaihi raji’un! Kasihan ya Nek! Tapi mungkin sudah ajalnya!” Titi mangut-mangut.
”Oya Nek, siapa nama pria itu?” Dinda pun bersuara.
”Mungkin kamu kenal Din, namanya Diko Perdana, putranya dr. Surachman Ginting yang spesialis anak itu!”
”Di... Diko Perdana Nek? Ya Allah!” Nama itu... ya tentu saja Dinda sangat mengenalnya, pemilik nama itu ... adalah seseorang yang Dinda kasihi dan sayangi. Namun sekarang ajal membawanya pergi. Tangis dan rintihan Dinda pun pecah...
***
Hari ini langit begitu cerah, secerah wajah wanita yang sejak tadi duduk memandangi batu nisan yang bertulis nama ’Diko Perdana’. Sekilas wanita itu menitikkan air mata, namun selang berikutnya dia tersenyum. Entah apa maksud ekspresi air mukanya itu. Dan senyumnya semakin lebar ketika seorang anak kecil menarik tangannya,
”Ma, yuk kita pulang! Papa udah nunggu di Mobil!”
”Iya sayang!” Dinda mengikuti ajakan putrinya, seraya sekali lagi memandang ke arah nisan itu. Dan matahari terus bersinar, menambah cerahnya siang.
Hanya sebentar
Kau hadir dalam hidupku hanya sesaat
Tapi hati ini telah terisi penuh oleh rahmat-Nya
Karena kaulah rahmat itu
Aku mencintaimu dan aku bersyukur atas rasa ini
Selamat jalan...
Tunggu aku di telaga Kautsar
`Dinda`
Asrama, 11 April 2008

Tidak ada komentar:
Posting Komentar