Selasa, 28 Oktober 2008

PIMPINAN PERSALINAN

PIMPINAN PERSALINAN PADA KALA 1

Kandung kemih dan rektum dikosongkan.
Pengosongan rektum dapat dibantu dengan klisma cairan gliserin 20-40cc atau supositoria.

Pemeriksaan luar, tentukan letak dan presentasi janin.
Observasi his dengan meraba uterus daerah fundus, kira-kira di atas umbilikus.
Observasi bunyi jantung janin dengan auskultasi Laennec atau Doppler (jika memungkinkan, nilai kesejahteraan janin dengan elektrokardiotokografi, karena dapat diketahui perubahan pola frekuensi denyut jantung janin pada saat his dan pada saat di luar his)

Pemeriksaan dalam, dinilai beberapa hal yang penting :
1. dinding vagina : adakah bagian menyempit, massa / lesi di jalan lahir
2. keadaan dan pembukaan serviks
3. kapasitas panggul, serta perkiraan besar kepala terhadap panggul (suspek disproporsi sefalopelvik)
4. fluor albus, tanda-tanda radang
5. keadaan selaput ketuban, sudah pecah atau belum
6. letak dan presentasi janin (paling penting)
7. turunnya kepala dalam ruang panggul (bidang Hodge)

Pimpinan pada kala I bertujuan :
1. menilai sampai di mana status persalinan pada saat pemeriksaan awal - apakah sudah memasuki persalinan atau belum, bila sudah, sampai di mana partus telah berlangsung
2. memperkirakan prognosis keberhasilan partus spontan pervaginam, atau kemungkinan diperlukannya tindakan lain untuk membantu persalinan.

Ibu dianjurkan berbaring miring ke sisi di mana punggung janin berada, tujuannya untuk mempermudah turunnya kepala dan putaran paksi dalam, serta untuk mencegah tertekannya aorta abdominalis oleh massa uterus yang dapat mengganggu vaskularisasi ke uterus dan janin.
Ibu DILARANG!! mengedan / meneran.

Penolong mengisi partograf kemajuan persalinan.
Penolong mempersiapkan alat-alat bantu persalinan.

PIMPINAN PERSALINAN PADA KALA 2

Penilaian perineum yang meregang dan menipis, serta penilaian anus. Jika anus bundar atau serupa huruf D, tanda kepala sudah rendah di dasar panggul.
Bila ketuban belum pecah spontan, dipecahkan (amniotomi)

Ibu dipimpin meneran (untuk membuat kontraksi dinding abdomen dan diafragma menekan uterus)
Cara meneran : ibu posisi telentang, dengan kedua lengan merangkul kedua lipat paha, leher dalam keadaan lemas dan kepala fleksi, mata terbuka. Dapat juga dengan posisi miring ke samping dengan sikap yang sama. Meneran / mengedan sekuat-kuatnya sesuai timbulnya his, dan dihentikan / istirahat pada saat relaksasi his.

Jika perineum kaku dan tegang, dilakukan episiotomi (insisi pada perineum dengan gunting), untuk memperbesar jalan lahir. Insisi dapat secara mediana (pada garis tengah, baik dilakukan pada multipara), mediolateralis (pada garis tengah dan diperluas ke lateral saat mendekati anus, baik dilakukan pada primi), atau lateralis (langsung miring terhadap sumbu perineum, dapat memberikan pembukaan yang terbesar, kadang dilakukan pada keadaan direncanakan ekstraksi forceps atau ekstraksi vakum).
Dapat terjadi komplikasi berupa ruptura perinei totalis (robekan perineum tembus sampai m.sfingter ani, bahkan kadang sampai mukosa rektum).

Kemudian BAYI DILAHIRKAN dengan pegangan dan gerakan yang tenang dan mantap, mengusahakan trauma persalinan seminimal mungkin bagi ibu maupun bayinya.
Sedapat mungkin gerakan penolong mengikuti irama his dan kekuatan mengedan ibu, sambil mengendalikan keluarnya bayi serta menahan perineum ibu (perasat Ritgen - gambar).

Setelah kepala bayi lahir, bersihkan jalan napas dengan cara menyeka hidung dan mulut dengan kain bersih (arah gosokan dari atas hidung sampai ke bawah mulut, kemudian jari yang dilapisi kain dimasukkan ke dalam mulut).
Kemudian dilahirkan berturut-turut leher, bahu dan lengan, badan, tungkai dan kaki.

SKOR APGAR bayi dinilai, rencanakan dan lakukan tindakan yang mungkin diperlukan untuk resusitasi bayi baru lahir.
Nilai skor Apgar pada menit pertama dan menit kelima.

Prinsip perawatan segera bayi baru lahir (immediate care of the newborn) :
1. Drying
2. Warming
3. Positioning
4. Suctioning
5. Identification
6. Prophylaxis

PIMPINAN PERSALINAN PADA KALA 3

Kemudian tali pusat dijepit di dua tempat berdekatan dan dipotong di tengah-tengahnya (gambar). Luka potongan dirawat, diikat dan ditutup.

Tali pusat yang menghubungkan umbilikus bayi dengan plasenta, kadang-kadang terdapat lilitan. Jika saat baru kepala dan leher yang dilahirkan tampak ada lilitan, perlu dibebaskan dulu sebelum melanjutkan pengeluaran bayi. Jika lilitan terlalu erat, talipusat dijepit dan dipotong langsung di dekat leher bayi (gambar).

Beberapa kepustakaan menganjurkan penundaan penjepitan/ pemotongan tali pusat selama beberapa detik (delayed clamping), atau pengaturan posisi ketinggian bayi terhadap ibu, atau pengurutan tali pusat ke arah bayi.
Tujuannya adalah untuk menambah volume vaskularisasi bayi sebelum dilakukan pemotongan, misalnya pada bayi prematur atau berat badan rendah - namun hal-hal ini masih kontroversial (lihat manajemen aktif kala 3).

"The active management on the third stage of labour" (WHO)
Active management here is defined as a package of intervention, including :
1. Administration of prophylatic oxytocic / uterotonic immediately with or shortly after the birth of the baby.
2. Early cord clamping and cutting
3. Controlled cord traction to deliver the placenta.


Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Beberapa cara untuk menilai plasenta sudah / belum lepas :
Kustner : tali pusat diregangkan dengan satu tangan, daerah suprasimfisis ditekan dengan tangan lainnya, dinilai ada/tidaknya
respon dari regangan tali pusat.
Strassman : tali pusat diregangkan dengan satu tangan, daerah fundus uteri diketuk2 dengan tangan lainnya, dinilai ada/tidaknya respon pada regangan tali pusat.
Klein : ibu disuruh meneran, akan tampak ujung tali pusat bergerak turun, dan ketika meneran dihentikan, jika ujung tali pusat naik kembali berarti plasenta belum lepas.

Jika lama melebihi 15 menit plasenta belum keluar, ATAU jika terjadi perdarahan masif, dilakukan manuver untuk segera mengeluarkan plasenta, dapat dengan cara :
1. tali pusat ditarik (tetapi banyak kepustakaan TIDAK menganjurkan, karena dapat putus di dalam menyebabkan perdarahan berat, dan dapat juga terjadi involusi uteri karena dinding korpus uteri ikut tertarik ke luar akibat perlekatan plasenta yang erat)
2. cara Crede : uterus dipijat pada fundus dengan tali pusat ditegangkan
3. cara Brandt-Andrews : uterus ditekan di abdomen di daerah fundus, kemudian di daerah suprasimfisis atau subumbilikal ke arah kraniodorsal (arah tekanan membentuk sudut ke belakang / vertebra dan ke atas / kepala) sambil tali pusat ditegangkan.
4. cara manual : satu tangan menegangkan tali pusat, tangan lain masuk menyusur tali pusat ke dalam kavum uteri, mencari insersi plasenta terhadap dinding uterus kemudian disisihkan secara manual dan dikeluarkan keseluruhan.

Setelah plasenta keluar diperiksa :
1. ukuran, berat, bentuk, konsistensi, warna, kelengkapan massa plasenta
2. ada/tidak lobus asesorius, infark, perdarahan, tumor, nodul
3. tali pusat : panjang, insersi, jumlah pembuluh darah, trombosis, lilitan / simpul, Wharton’s jelly

Jika dicurigai masih ada sisa dalam kavum uteri, dilakukan eksplorasi lagi dengan manual untuk mengeluarkan sisanya. Sisa jaringan plasenta atau selaput korioamnion dalam kavum uteri dapat menjadi sumber perdarahan yang terbuka serta dapat mengganggu kontraksi uterus yang optimal.
Jika curiga ada patologi tertentu pada plasenta : periksa patologi anatomi (lab).

PIMPINAN PERSALINAN PADA KALA 4

Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi.

Jika terjadi perdarahan, rencanakan dan lakukan tindakan-tindakan untuk berusaha menghentikan perdarahan segera :
1. injeksi metergometrin maleat (metergin) intramuskular
2. kompresi uterus bimanual (Eastman)
3. eksplorasi sisa plasenta / selaput janin dalam kavum uteri
4. eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir lainnya
5. luka episiotomi atau robekan jalan lahir lainnya dirawat
6. dapat juga dilakukan pemasangan tampon uterovaginal
7. jika perdarahan masif / tidak terkendali, pertimbangan untuk operasi histerektomi (alternatif TERAKHIR)

PENTING !!!
Luka episiotomi atau robekan jalan lahir lainnya dirawat dengan baik.
Jika terjadi ruptura perinei totalis (RPT), reparasi rektum dan muskulus sfingter ani dilakukan lebih dulu, baru dilakukan reparasi vulva/vagina dan perineum

(gambar : teknik jahitan reparasi luka episiotomi)

7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :
1. kontraksi uterus harus baik,
2. tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3. plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4. kandung kencing harus kosong,
5. luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6. resume keadaan umum bayi
7. resume keadaan umum ibu.

Yang terpenting adalah menjaga ibu dan bayi dalam keadaan yang baik.


Tidak ada komentar: