Selasa, 28 Oktober 2008

Tetanus


Asuhan Kep. Klien Anak dengan Tetanus Neonatorium

By: Iwan, S.Kp






TETANUS NEONATORUM

  • Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan intra uterus ke kehidupan intra uterin hingga berusia kurang dari 1 bulan. (Asri Rosad, 1987)
  • Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang sistem saraf pusat. (Abdul Bari Saifuddin, 2000)





ETIOLOGI

Penyebab penyakit ini adalah clostridium tetani. Kuman ini bersifat anaerobik, berbentuk spora selama diluar tubuh manusia dan mengeluarkan eksotoksin yang neurotropoik.







EPIDEMILOGI

Clostridium tetani berbentuk batang langsing, tidak berkapsul, gram positip. Dapat bergerak dan membentuk spora-spora, terminal yang menyerupai tongkat penabuh genderang (drum stick). Spora spora tersebut kebal terhadap berbagai bahan dan keadaan yang merugikan termasuk perebusan, tetapi dapat dihancurkan jika dipanaskan dengan otoklaf. Kuman ini dapat hidup bertahun-tahun di dalam tanah, asalkan tidak terpapar sinar matahari, selain dapat ditemukan pula dalam debu, tanah, air laut, air tawar dan traktus digestivus manusia serta hewan.






GAMBARAN KLINIK

Masa inkubasi biasanya 3 – 10 hari. Gejala permulaan adalah bayi mendadak tidak mau atau tidak bisa menetek karena mulut tertutup (trismus), mulut mencucut seperti ikan, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang yang umum. Leher menjadi kaku dan kepala mendongak ke atas (opistotonus).

Dinding abdomen kaku, mengeras dan kalau terdapat kejang otot pernafasan, dapat terjadi sianosis. Dahi, berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus. Ekstremitas biasanya terulur dan kaku, tiba-tiba bayi sensitif terhadap rangsangan, gelisah dan kadang-kadang menangis. Suhu dapat meningkat sampai 390 C.






Pencegahan

    Melalui pertolongan persalinan dengan prinsip tiga bersih yaitu:

  • Bersih tangan
  • Bersih alat
  • Besrish alas





PERAWATAN TALI PUSAT YANG BAIK

Untuk perawatan tali pusat baik sebelum maupun setelah lepas, cara yang murah dan baik yaitu (1) menggunakan alkohol 70 % dan kasa steril. (2) Kasa steril yang telah dibasahi dengan alkohol dibungkuskan pada tali pusat terutama pada pangkalnya. (3) Kasa dibasahi lagi dengan alkohol jika sudah kering. (4) Jika tali pusat telah lepas, kompres alkohol ditruskan lagi sampai luka bekas tali pusat kering betul (selama 3 – 5 hari). (5) Jangan membubuhkan bubuk dermatol atau bedak kepada bekas tali pusat karena akan terjadi infeksi.







Penatalaksanaan
Medik

  • Mengatasi kejang
  • Pemberian antitoksin
  • Pemberian antibiotika
  • Tali pusat dibersihkan atau di kompres dengan alkohol 70 % atau betadin 10 %.
  • Memperhatikan jalan nafas, diuresis, dan tanda vital. Lendir sering dihisap.





ASUHAN KEPERAWATAN

    PENGKAJIAN DATA FOKUS

  • Bayi mendadak tidak mau atau tidak bisa menetek karena mulut tertutup (trismus),
  • mulut mencucut seperti ikan, dapat terjadi spasmus otot yang luas dan kejang yang umum. Leher menjadi kaku dan kepala mendongak ke atas (opistotonus).
  • Dinding abdomen kaku, mengeras dan kalau terdapat kejang otot pernafasan, dapat terjadi sianosis. Dahi, berkerut, alis mata terangkat, sudut mulut tertarik ke bawah, muka rhisus sardonikus.
  • Ekstremitas biasanya terulur dan kaku, tiba-tiba bayi sensitif terhadap rangsangan, gelisah dan kadang-kadang menangis. Suhu dapat meningkat sampai 390 C.
  • Pemeriksaan Laboratorium Spt: Glukosa darah, elektrolit, skull ray, BUN, dan EEG





Nursing Diagnosis

  • Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi sekret yang berlebihan pad ajalan nafas atas.
  • Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang kurang akibat adanya trismus
  • Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya berhubungan dengan keterbatasan informasi





Ndx 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan produksi sekret yang berlebihan pad ajalan nafas atas

  • Baringkan bayi dalam sikap kepala ekstensi dengan memberikan ganjal di bawah bahunya.
  • Berikan O2 secara rumat karena bayi selalu sianosis (1 – 2 L/menit jika sedang terjadi kejang, karena sianosis bertambah berat O2 berikan lebih tinggi dapat sampai 4 L/menit, jika kejang telah berhenti turunkan lagi).
  • Pada saat kejang, pasangkan sudut lidah untuk mencegah lidah jatuh ke belakang dan memudahkan penghisapan lendirnya.
  • Sering hisap lendir, yakni pada saat kejang, jika akan melakukan nafas buatan pada saat apnea dan sewaktu-waktu terlihat pada mulut bayi.
  • Observasi tanda vital setiap ½ jam .
  • Usahakan agar tempat tidur bayi dalam keadaan hangat.





  • Jika bayi menderita apnea :
    • Hisap lendirnya sampai bersih
    • O2 diberikan lebih besar (dapat sampai 4 L/ menit)
    • Letakkan bayi di atas tempat tidurnya/telapak tangan kiri penolong, tekan-tekan bagian iktus jantung di tengah-tengah tulang dada dengan dua jari tangan kanan dengan frekuensi 50 – 6 x/menit.
    • Bila belum berhasil cabutlah sudut lidahnya, lakukan pernafasan dengan menutup mulut dan hidung bergantian secara ritmik dengan kecepatan 50 – 60 x/menit, bila perlu diselingi tiupan.





    Ndx 2: Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang kurang akibat adanya trismus

Akibat bayi tidak dapat menetek dan keadaan payah, untuk memenuhi kebutuhan makananya perlu diberikan infus dengan cairan glukosa 10 %. Tetapi karena juga sering sianosis maka cairan ditambahkan bikarbonas natrikus 1,5 % dengan perbadingan 4 : 1. Bila keadaan membaik, kejang sudah berkurang pemberian makanan dapat diberikan melalui sonde dan selanjutnya sejalan dengan perbaikan bayi dapat diubah memakai dot secara bertahap.






Ndx 3: Kurangnya pengetahuan keluarga tentang penanganan penyakitnya berhubungan dengan keterbatasan informasi

  • Berikan penjelasan tentang kondisi anak yang sebenarnya sehingga memerlukan tindakan dan pengobatan khusus
  • Jelaskan tentang pentingnya imunisasi toxoid jika kelak hamil lagi
  • Anjurkan minta pertolongan persalinan pada dokter, bidan atau dukun terlatih yang telah ikut penataran Depkes.
  • Jelasakan tentang perawatan tali pusat yang benar





PELAKSANAAN

Pelaksanaan keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien ( Santosa. NI, 1989;162 )

EVALUASI

Tahap evaluasi dalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data subyektif dan obyektif yang akan menunjukkan apakah tujuan pelayanan keperawatan sudah dicapai atau belum. Bila perlu langkah evaluasi ini merupakan langkah awal dari identifikasi dan analisa masalah selanjutnya ( Santosa.NI, 1989;162).

Tidak ada komentar: